Oleh Dahono Fitrianto dan Jean Rizal Layuck http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/23/kehidupan/4095482.htm
Seorang rekan dari Jakarta, Billy Massie, mengaku membawa cabai dari Jakarta ketika pulang kampung di Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara. "Ini oleh-oleh Natal," katanya. Billy mengatakan, keluarganya tidak meminta barang lain selain cabai. Menjelang Natal harga cabai cukup "pedas", mencapai Rp 40.000 kilogram, dari harga normal Rp 7.000 kilogram. Komoditas cabai telah menyatu dengan perayaan Natal di tanah Minahasa, meliputi Manado, Minahasa, dan Bitung-dikenal orang Manado. Cabai menjadi unsur penting dari pesta makan-makan, tanpa cabai makanan hambar. Dan pesta makan-makan pun tak semarak. "Nyanda sadap (tidak enak)," kata Meiske Takaendengan, ibu rumah tangga. Orang-orang Manado dikenal konsumen cabai paling besar. Cabai Manado yang berbentuk kecil mirip petasan dikenal pedas telah ludes di pasar-pasar, sehingga harus diimpor dari Surabaya dan Gorontalo. Konon untuk urusan itu, cabai pun diangkut dengan pesawat khusus Hercules dari sejumlah kota di Indonesia. Kepala Statistik Provinsi Sulawesi Utara Jasa Bangun mengatakan, kenaikan harga cabai memicu angka inflasi di Sulawesi Utara mencapai 40 persen. Kebutuhan cabai cukup signifikan dipicu acara makan-makan di hampir seluruh pelosok tanah Minahasa yang merayakan Natal. Sekitar 12.000 kali pesta Sekretaris Umum Sinode GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa) Pdt Decky Lolowang menghitung sekitar 12.000 pesta makan-makan di lingkungan gerejanya selama bulan Desember. "Padahal kami selalu mengimbau gereja-gereja agar merayakan Natal dengan sederhana. Kenyataan jemaat memiliki kemampuan untuk makan-makan," katanya. Perhitungan 12.000 kali pesta berdasar jumlah gereja di lingkungan GMIM mencapai 850 gereja, sedangkan setiap gereja memiliki 15 kolom yang beranggotakan 15 sampai 30 keluarga. Pesta Natal juga dilakukan oleh komunitas lain di luar GMIM, seperti kelompok rukun, perkantoran, dan perusahaan. Pakar ekonomi regional dari Universitas Sam Ratulangi, Noldy Tuerah, menyebut, ratusan miliar rupiah dana masyarakat tersedot untuk perayaan Natal selama bulan Desember. Menghitungnya sederhana, jika setiap acara Natal menyedot dana minimal Rp 2 juta dikalikan dengan 12.000, maka diperoleh angka Rp 24 miliar. "Ini baru makan-makan. Belum belanja pakaian, aksesori rumah tangga, Natal, dan bagi-bagi kado serta diakonia kepada orang miskin," katanya. Budayawan Sulut Eric Dayoh mengatakan, orang Manado dikenal boros membelanjakan uangnya untuk perayaan religius. Bahkan di Manado dikenal istilah, "Abis kalo abis, satu tahun satu kali," katanya. Apresiasi terhadap perayaan keagamaan cukup tinggi. Di beberapa jemaat gereja di Kota Tomohon masyarakat bahkan telah menabung sejak Januari untuk merayakan Natal di bulan Desember. "Biasanya setiap pertemuan ibadah kolom tiap minggu ada iuran Rp 1.000 rupiah setiap keluarga, sehingga saat merayakan Natal kami tidak susah lagi," kata Pdt Renata Ticonuwu. Pemilik katering Semarak Natal juga dirasakan pemilik katering yang mendapat rezeki nomplok di bulan Desember. Ibu rumah tangga Ane, pemilik katering Defoma di Manado, mengatakan, setiap hari ia mendapat order katering tiga tempat. Pesannya pun harus jauh-jauh hari. "Kalau Anda order katering hari ini untuk acara lusa, pasti kami tolak," katanya. Menurut Ane, jumlah pemilik katering di Manado hampir 100 perusahaan dengan rata-rata harga per kepala minimal Rp 20.000. Gubernur Sulut SH Sarundajang tidak menyalahkan masyarakat. Menurutnya kegiatan Natal di Sulut bukan pesta pora, tetapi bentuk penghargaan masyarakat atas kelimpahan berkat selama setahun diberikan Tuhan. "Saya justru bangga karena makan bersama adalah ajang menjalin kekerabatan, persaudaraan, dan kerukunan. Orang boleh berperang dan bertikai, tetapi di meja makan kita harus akur dan damai," katanya. Di tengah kesibukan acara, Sarundajang menyempatkan diri bersama unsur muspida dan tokoh agama selama Desember melakukan safari Natal di kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, seperti halnya ketika mereka melakukan safari Ramadhan saat perayaan Idul Fitri bulan lalu. "Biasanya kami membawa pendeta, pastor, dan ustadz pada perayaan keagamaan. Dan kami juga makan-makan bersama rakyat," tambahnya tersenyum. Perayaan Natal yang semarak juga diramaikan dengan acara Kawanua Pulang Kampung. Setidaknya ribuan perantau Kawanua di berbagai kota berkumpul di Manado menggelar berbagai acara. Penggagas kegiatan Benny Mamoto bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Sulut menggagas sejumlah kegiatan spektakuler dengan target pemecahan rekor Muri, berupa makan tinutuan (bubur Manado) 5.000 orang, makan ikan nike 10.000 orang, serta makan jagung rebus 10.000 orang. Saat kegiatan berlangsung masyarakat dihibur dengan penampilan kesenian daerah berupa masamper, musik kolintang dan musik bia (terbuat dari kerang) serta kabasaran dan tari jajar. "Pokoknya meriah," katanya. Menariknya, jagung direbus di lokasi sumber air panas alam di Bukit Kasih Kanonang, Kawangkoan, Minahasa. mediacare http://www.mediacare.biz
