Bagaimana dengan Nasi Aking Bung Mediacare ????

  ----- Original Message ----- 
  From: mediacare 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Sunday, January 06, 2008 10:00 PM
  Subject: [bango-mania] Orang Jepang Sehat Karena Makan Nasi



  Kabar Indonesia.

              
  Orang Jepang Sehat Karena Makan Nasi
              
  Oleh : Dito Anurogo, S.ked 

              
  06-Jan-2008, 16:16:15 WIB - [www.kabarindonesia.com]
             
              
  KabarIndonesia - Ketidaksukaan saya terhadap makanan 
  berkarbohidrat seperti roti, kentang, nasi, pasta, dan sereal adalah 
  berdasarkan bukti yang menyarankan bahwa persediaan insulin yang 
  melimpah yang diproduksi tubuh dengan mengkonsumsi makanan-makanan 
  tersebut dapat mempercepat menuju kondisi kegemukan dan terserang 
  diabetes tipe 2.

              
  Meskipun semua yang dikatakan ini adalah kurang baik 
  bagi kesehatan, namun fakta bahwa makanan jenis ini mengandung 
  banyak nutrisi yang diperlukan tubuh. Kebanyakan orang menganggap 
  makanan tersebut sehat untuk dikonsumsi. 

             
   Di negara barat, ada argumen yang mengatakan, "Jika 
  makanan berkarbohidrat itu buruk, mengapa makanan Mediterania, 
  China, Perancis yang penuh dengan pasta, nasi dan roti Perancis 
  dianggap menyehatkan?" Pertama-tama, saya mengira bahwa terkadang 
  kita telah membentuk suatu kesan terhadap pola makan kuno. Orang 
  Perancis tidak makan roti Perancis, namun kebanyakan pola makan 
  mereka dipenuhi dengan makanan alami yang tidak diproses. Hal yang 
  sama pada orang Italia, di mana mereka cenderung menjadikan pasta 
  sebagai hidangan pembuka daripada sebagai menu utama. 

              
  Ketika orang Tionghoa tidak makan nasi, mereka makan 
  berbagai jenis makanan lain, termasuk sayur-sayuran, ikan dan 
  daging. Saya belum dapat menemukan data akurat mengenai keseluruhan 
  indeks glycemic (GI) dan muatan glycemic (GL) pada pola makan 
  berbagai suku bangsa. Namun, seandainya benar apabila sebagian 
  bangsa tidak makan makanan berkarbohidrat dan terkadang menikmati 
  pola hidup sehat serta panjang umur, anggapan yang kelihatannya baik 
  ini bisa jadi belum tentu benar. 

             
   Saat memeriksa pengaruh makanan terhadap kesehatan, 
  sangat penting untuk menekankan pada faktor yang ingin ditafsir dan 
  diamati. Salah satu cara melakukannya adalah dengan mengamati sebuah 
  populasi untuk melihat kaitan yang ada - antara pola makan dengan 
  fakta kesehatan yang dialaminya.

              
  Faktanya adalah bahwa kesehatan dan panjang umur 
  merupakan produk dari sejumlah faktor-faktor berbeda, dan beberapa 
  pengaruh negatif termasuk di dalamnya pengaruh positifnya. Misalnya, 
  kebiasaan makan nasi merupakan makanan yang paling sering dimakan 
  oleh orang Tionghoa, namun mungkin orang Tionghoa umumnya giat 
  beraktivitas, dan hal ini dianggap bahwa nasi dapat menimbulkan 
  kerugian pada tubuh. 

              
  Beberapa studi yang telah dilakukan menunjukkan bukti 
  cukup kuat bahwa selama ini kita cenderung makan makanan yang 
  mengandung GI/GL tinggi dan itu membahayakan. Bulan lalu, kami 
  melihat publikasi dari dua studi, yang menghubungkan tingginya 
  konsumsi makanan berkarbohidrat dengan naiknya resiko terkena 
  diabetes tipe 2. Sesaat sesudah tulisan saya mengenai studi ini 
  dimuat di web, seorang komentator mengklaim bahwa makanan dengan GI 
  tinggi tidak membahayakan bagi kita karena orang Jepang makan nasi 
  dan karenanya mereka sehat. 

              
  Kenyataannya adalah kesimpulan sederhana seperti itu 
  tidak lebih ilmiah daripada mengklaim karena kakek anda merokok dan 
  hidup hingga usia 100 tahun, maka dianggap merokok itu tidak 
  berbahaya bagi kesehatan. 

              
  Sumber: 
             
   http://en.epochtimes.com/news/7-12-25/63246.html
  . 
   

Kirim email ke