P RADITYA MAHENDRA YASA / Kompas Images http://www.kompasimages.com

Suasana malam di Gang Belakang, kawasan Pecinan, Semarang.  Minggu, 10
Februari 2008 | 03:53 WIB
Barangkali itulah kata yang cocok untuk menggambarkan para penjual
jajanan dan makanan di kegiatan Pasar Imlek Semawis, yang berlangsung di
Jalan Gang Pinggir, wilayah Pecinan Semarang, 2-5 Februari 2008.
Kegiatan menjual makanan yang dimulai sore hari, kadang pada beberapa
penjual, makanan sudah habis ketika hari belum terlalu malam. Padahal,
kegiatan yang seperti pasar malam dengan aneka makanan/jajanan serta
berbagai pertunjukan kesenian lokal itu berlangsung sampai tengah malam.

Para penjual makanan yang tampil di Pasar Imlek Semawis adalah mereka
yang sehari-hari memang membuka kios makanan/jajanan di seputar kawasan
Pecinan, seperti Gang Warung, Gang Baru, dan Gang Gambiran. Sejumlah
pedagang dari gang-gang tadi pada acara Pasar Imlek Semawis
berkesempatan membuka kiosnya di arena Pasar Imlek Semawis—yang
setiap harinya dikunjungi manusia sampai berjubel, jalan pun kadang
susah.

Mengapa pada kesempatan seperti itu mereka tak membuat makanan atau
jajanannya dalam jumlah lebih banyak? "Wis kesel... (Sudah
capai)," kata seorang pedagang. Mungkin, memang seperti itulah
virtue para pedagang di kawasan Pecinan Semarang itu: sebuah antitesis
dari sesuatu yang bersifat massal.

Lihat, misalnya, sekelumit cerita mengenai Kecap Mirama—produk yang
sangat diakrabi oleh masyarakat Semarang. "Anakku yang sekolah di
Singapura atau siapa saja kenalan dari Semarang yang tinggal di luar
negeri selalu akan meminta oleh-oleh Kecap Mirama. Makan nasi dengan
kecap ini saja cukup," kata Benita Eka Arijani. Dia termasuk
penggerak kegiatan ini. Di seputar Pecinan, semua pedagang akan
menyapanya. Di situ perempuan asal Salatiga ini seperti selebriti.

"Untuk membeli Kecap Mirama, diberlakukan kuota. Satu orang tak
boleh membeli lebih dari dua botol," kata Widya Wijayanti, arsitek
yang juga punya peran dalam pelaksanaan acara ini. Widya menyunting buku
Pasar Imlek Semawis 2006, yang di dalamnya tercatat riwayat kegiatan
ini, termasuk riwayat beberapa usaha makanan legendaris di Semarang. Di
salah satu kios penjual makanan, petang itu tampak Widya menikmati sate
ayam, sampai berkeringat. "Kecapnya Mirama," katanya menunjuk
saus untuk satenya.

Kecap memang terkait erat dengan kelokalan atau tradisi lokal. Tiap
daerah punya unggulan kecap masing-masing. Itulah makanya ada sebutan,
kecap selalu nomor satu—paling tidak untuk lidah daerah
masing-masing. Untuk lidah Semarang, makanan baru afdal kalau dimasak
dengan Kecap Mirama.

Lihat saja. Jalan-jalan petang hari di Pasar Imlek yang sangat hidup
ini, pertama-tama menikmati apa yang disebut bakmi jowo. Dimasak dengan
arang, bakmi goreng dengan ditambah kekian ini luar biasa sedap. Rasanya
mau menggasak lebih dari satu porsi kalau tidak mengingat bahwa
makanan-makanan lain perlu diberi tempat. Nasi goreng dan soto ayam di
dekat situ menunjukkan lagi kualitasnya yang prima—juga dengan
andalan kecapnya. Mengapa selalu Kecap Mirama? "Wis kulino... (sudah
terbiasa)," kata si pedagang. (Bukankah ada istilah bahasa Jawa
juga, "Tresno jalaran soko kulino"?)

Makanan/jajanan di situ betapapun sederhananya, umumnya berakar pada
tradisi yang panjang—ditumbuhkan dari kecintaan yang terpelihara
dari generasi ke generasi. Kalau mau sedikit membandingkan dengan
semangat zaman sekarang, itulah kelebihan mereka. Mereka tekun dan setia
pada satu hal yang mereka cintai, yakni membuat makanan sampai roh
pembuatnya seperti memanifestasi pada kelezatannya.

Kecap Mirama, misalnya, dibuat oleh nyonya yang katanya sangat hobi
memasak, yakni Nyonya Kwik Sik Giem, pada sekitar tahun 1935. Yang
meneruskan usahanya kini adalah pewaris kesekian. Tempat makan lain,
Rumah Makan Air Mancur, sudah eksis sejak tahun 1940-an dan kini
dilanjutkan oleh generasi ketiga. Meski namanya "rumah makan",
jangan bayangkan satu tempat yang mewah. Tempatnya sederhana, menempati
ruko dua lantai, dengan sajian nasi langgi, nasi berkat, lontong cap go
meh, dan lain-lain. Dalam hal cita rasa, dia terasa lebih sedap
dibandingkan dengan beberapa restoran peranakan yang sedang menghiasi
kekenesan Jakarta.

Setiap tempat makan di situ umumnya selalu punya sejarah panjang seperti
itu. Bahkan juga es puter Cong Lik, dengan penampilan kiosnya yang
sederhana. Es puter durian, kacang hijau, atau ketan hitamnya luar
biasa, menyempurnakan petualangan makan sepanjang petang dan malam hari.

Menurut Yvonne, pemiliknya, usaha es putarnya ini sudah dimulai sejak
tahun 1944. Tentu saja yang menjualnya waktu itu kakek buyutnya, yang
katanya berjualan es puter dengan mendorong gerobak ketika umurnya masih
sepuluh tahun. "Makanya disebut cong (kacung) cilik (kecil),"
kata Yvonne, ibu dua anak yang mengaku "jomblo" ini sembari
tertawa. (BRE/IND)

http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.0\
2.10.03532649&channel=2&mn=22&idx=22

Kirim email ke