BONDAN WINARNO

Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat
dan mencicipi makanan-makanan khas, dan masih akan terus melakukan
pengembaraannya.

Tidak jauh dari tempat tinggal kami di Bukit Sentul, ada sekelompok
penjual sate kambing yang dikenal sebagai sate kiloan. Saya sendiri tidak
mengerti mengapa mereka memakai istilah yang justru dapat berkonotasi
negatif. Handuk yang dijual kiloan, misalnya, adalah handuk yang
berkualitas rendah. Kain yang dijual secara kiloan di Tanahabang juga
bercitra tekstil murahan.

Jadi, gimmick apa yang ingin dimanfaatkan para pedagang sate kiloan ini?
Pada akhir pekan panjang yang lalu, saya lihat salah satu penjual sate
kiloan yang paling terkenal di Babakan Madang itu menggantung sepuluh ekor
kambing muda yang baru saja disembelih. Saya pikir, kesan yang ingin
mereka kedepankan adalah volume. Semakin banyak kambing yang disembelih,
kesan laris yang merupakan bukti kelezatan akan tampil.

Di warung sate kiloan, para tamu membeli daging kambing secara kiloan.
Daging kemudian dipotong-potong dan ditusuki dengan tusukan bambu.
Seperempat kilogram daging kambing menghasilkan sekitar 13 tusuk. Cukup
untuk dua orang karena potongan dagingnya besar-besar. Karena kambingnya
muda, dan fresh from the butcher, kenyataannya sate ini memang empuk.
Tidak perlu lagi upaya mengempukkan daging dengan daun pepaya dan lain
sebagainya.

Di Bogor, di kawasan yang dikenal dengan sebutan Empang, ada seorang
penjual sate kambing yang sangat terkenal. Warungnya terletak di sebuah
gang di sebelah masjid tua. Tidak ada papan nama ataupun penanda lain yang
menunjukkan kehadiran warung di kampung yang tampaknya didominasi warga
keturunan Arab itu. Warung sate itu milik Utsman Thohir bin Abdulrrachman
yang akrab dipanggil Pak Rebing.

Belum lama ini saya ditemani JS-er Marchellinus Hanjaya, pemimpin redaksi
majalah Appetite Journey, makan sate Pak Rebing. Potongan dagingnya cukup
besar, tetapi sekilas penampilannya seperti belum matang. Sama sekali tak
tampak tanda-tanda kegosongan pada tusukan sate yang tersaji. Dagingnya
juga pilihan, tidak berlemak, sehingga tidak tampak minyak yang
menetes-netes ketika dibakar. Tetapi, ternyata dagingnya sudah empuk.
Bumbunya adalah campuran kacang tanah dan kecap, dengan acar bawang merah
dan ketimun yang dihidangkan terpisah.

Tentu saja, seperti daging bakar lainnya, sate pun harus segera disantap
ketika masih panas. Bila dibiarkan dingin, dagingnya sudah menjadi kering
dan keras. Itulah sebabnya sate kambing menjadi kurang enak bila dibungkus
dan dibawa pulang.

Mereka yang khawatir bahwa daging yang gosong dipanggang (charred meat)
dapat mengakibatkan kanker, mungkin akan menyukai sate Pak Rebing ini.
Daging yang dibakar hingga coklat kehitaman mengandung PAH (polycyclic
aromatic hydrocarbons) yang terbukti memicu kanker pada hewan maupun
manusia dalam skala ujicoba – khususnya kanker prostat dan kanker anus.
Tetapi, karena tubuh manusia mempunyai cara metabolisasi yang efisien,
para ahli juga berpendapat bahwa sebetulnya merokok jauh lebih berbahaya
sebagai pemicu kanker dibanding PAH pada sate yang sedikit gosong. Tanpa
dibakar pun, daging sapi dan daging kambing dipercaya mengandung
karsinogen yang cukup besar bila dikonsumsi secara berlebihan.

Salah satu penyebab mengapa sate Pak Rebing tidak gosong adalah karena
satenya tidak dilumuri kecap manis ketika dibakar. Kandungan gula dalam
kecap membuat efek karamel yang mempercepat kegosongan ketika dibakar.
Kecap manis dipakai sebagai kondimen yang dibubuhkan setelah proses
pembakaran selesai.

Sop kambing di warung Pak Rebing juga perlu dicicipi. Bumbunya minimalis,
menghasilkan sop bening yang segar dengan daging kambing yang empuk.
Marchel mengejutkan saya dengan melolos beberapa tusuk sate dan memasukkan
dagingnya ke dalam sup. Hal itu mengubah citarasa sop karena munculnya
efek smoky dari daging bakar yang diserap dalam kuah panas. Hmm, sebuah
“teknik” yang boleh dicoba.

Sekalipun melawan tradisi, saya ingin “menggugat” food pairing sate
kambing dengan sop kambing atau gule kambing. Mengapa selalu begitu?
Bukankah ini merupakan loading kambing secara berlebihan? Mengapa bukan
sate kambing dengan pecel, urap sayur, atau gado-gado, sehingga tercipta
keseimbangan antara sumber gizi hewani dan nabati?

Saya sendiri bukanlah penggila sate kambing, sehingga kurang dapat
merekomendasikan di mana Anda dapat mencicipi sate kambing yang paling
enak. Saya hanya tahu tempat makan sate kambing yang kebetulan tidak jauh
dari rumah atau kantor. Seperti misalnya sate kambing di ujung Jalan
Cikajang, Kebayoran Baru, atau sate kambing “Pancoran” di Jalan Raya Pasar
Minggu. Rumah kami di Bintaro dulu juga “bertetangga” dengan “Sate Jono
Yogya”. Kadang-kadang saya juga menyempatkan singgah ke “Sate Kapuran”
yang menjadi kebanggaan orang Semarang.

Tentu saja saya juga pernah mencicipi sate kambing “Hadori” yang
legendaris di depan Stasiun Kereta Api Bandung. Konon, hampir semua
perwira TNI AD yang pernah mengikuti pendidikan di Seskoad pasti menjadi
pelanggan fanatik “Hadori”. Bahkan, setelah mereka menjadi petinggi
negara, mereka masih selalu singgah ke “Hadori” bila berkunjung ke
Bandung. Anehnya, ketika “Hadori” membuka cabang di Kemang, Jakarta
Selatan, hanya beberapa tahun sudah tutup lagi karena tidak laku.

Belum lama ini saya juga sempat mencicipi sate kambing yang legendaris di
Jombang, yaitu sate kambing “Pak Slamet” yang lebih dikenal sebagai “Sate
Ringin Contong” karena di dekat situ ada pertigaan dengan pohon beringin
yang dipangkas membentuk contong (seperti corong).

Berlokasi di emperan sebuah bangunan kuno, di angkring penjual sate ini
sering nangkring pula beberapa “gelundung” kepala kambing utuh. Bila
berminat, kepala kambing ini dipotong-potong dan disajikan dalam bentuk
gule. Menurut saya, gulenya justru lebih enak daripada satenya. Menurut
penjualnya, ia memakai daging kambing keturunan Australia yang sudah
diternakkan di sekitar Jombang.

Tidak jauh dari Jombang, di jalan utama dekat pabrik gula Cukir – atau
lebih populer dengan nama Tebuireng yang dikenal sebagai kawasan pesantren
– juga ada sate kambing “Pak Faqih” yang terkenal. Semua alumni pesantren
Tebuireng pasti pernah menjadi anggota “Pak Faqih Sate Club”, dan selalu
kembali ke warung sate ini bila bersilaturahmi ke Tebuireng.

Dulu, Pak Faqih sendiri yang berjualan sate kambing dengan bumbu
kacang-kecap yang legendaris itu. Sekarang, di tempatnya dulu berjualan,
usaha sate ini diteruskan oleh salah seorang putrinya. Seorang putrinya
yang lain membuka warung sate juga dengan nama “Pak Faqih”, tetapi
berlokasi di jalan sempalan yang menuju ke Wonosalam. Kabarnya, ada lagi
satu warung sate pecahan “Pak Faqih” di nDiwek, desanya Asmuni Sri Mulat.

Saya sempat singgah di warung sate “Pak Faqih” yang di jalan utama Cukir,
dan tidak terlalu kesan pada mutunya. Mungkin karena sudah terbiasa dengan
sate kambing di Jakarta yang potongannya besar dan empuk, maka sate
kambing yang agak alot bolehlah menyingkir dulu.

Dalam tayangan acara BCRN (Bango Cita Rasa Nusantara) yang saya pandu di
TransTV, beberapa kali pula sempat kami tampilkan sate kambing yang
terlalu populer untuk dilewatkan. Misalnya, Sate “Wahab” di Tangerang –
“penemuan” JS-er Dr Sindhiarta Mulya. Di samping sate, di warung ini
pembeli suka pesan kambing bakar – potongan lebar daging (steak) kambing
yang dibakar dan disajikan dengan bumbu sate.

Sate “Tambaksegaran” di Solo yang terkenal dengan sate buntelnya juga
perlu dicatat secara khusus. Sate buntel adalah daging kambing cincang
yang dibungkus dengan lemak. Demikian pula sate kambing dari Bangil, Jawa
Timur, yang sungguh mak nyuuuusss!

Tidak bisa dipungkiri, sate kambing adalah hidangan populer yang sangat
bergantung pada selera pribadi. Setiap orang mempunyai sate kambing
kegemarannya sendiri. Setiap kota juga mempunyai penjual sate kambing
andalan masing-masing.

Jadi, mohon maaf bila sate kambing favorit Anda belum sempat tercantum
dalam “Hall of Fame” dunia persatean ini.

Minggu | 16 April 2006 | 9:31 wib |

Kirim email ke