Oleh Ninok Leksono

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0701/24/Sosok/3263196.htm


"Your body is your temple." Inilah jawaban Bondan Haryo Winarno
ketika ditanya tentang kiat makan enak, tetapi kolesterol tetap
terjaga.

Bertutur dengan Bondan, mau tak mau orang perlu fokus, mengingat
ragam pengetahuan dan pengalamannya amat kaya.

Kini memang ia tak terikat dengan perusahaan atau lembaga tertentu
setelah tahun 2004 memutuskan pensiun dini. Tetapi, aktivitasnya
masih amat banyak: sebagai konsultan komunikasi sejumlah perusahaan,
kolumnis lepas media lokal dan regional, presenter acara televisi
untuk kuliner tradisional, dan "kepala suku" Komunitas Jalansutra.

Yang terakhir ini justru memberi Bondan identitas lebih khas dan
populer dibandingkan dengan sederet atribut yang pernah menempel
sebelum ini, sebut misalnya pemimpin redaksi, direktur, dan external
affairs officer.

Semua seperti mengalir pada Bondan, yang setelah sempat kuliah di
Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro, Semarang, lalu mengikuti
berbagai kursus dan pelatihan, seperti periklanan, pemasaran,
manajemen, keuangan, jurnalisme, penerbitan, dan produksi film di
dalam maupun di luar negeri.

Jalansutra

Dunia komunikasi dan manajemen mungkin terus menarik bagi Bondan,
tetapi sejak tahun 2000 urusan wisata dan kulinerlah yang banyak
digeluti Bondan.

Ia menemukan hal dahsyat dalam kuliner. Pertama-tama karena kuliner
langsung dapat dinikmati. "Itu karena saya bersikap terbuka terhadap
makanan. Saya tidak punya prasangka terhadap makanan dan selalu
ingin mencicipi," tuturnya melalui surat elektronik, Sabtu (20/1).
Dan tampaknya, semua yang ia cicipi, mak nyuuss!, saking enaknya.

Menurut Bondan, sejak enam tahun terakhir ia mendapat penyadaran,
makanan (kuliner) adalah bagian sangat penting dari budaya.

"Dalam semua rite de passage (ritual pelintasan), selalu ada makanan 
bermakna khusus, bukan?" Dan itu menurut Bondan ada pada semua  budaya.
Misalnya, orang Tionghoa merayakan ulang tahun dengan mi,  orang Amerika
merayakan Thanksgiving dengan kalkun panggang, dan  orang Jawa selamatan
dengan tumpeng.

Jalansutra berawal dari kolom yang ditulis Bondan di situs Kompas
Cyber Media mulai tahun 2000. Menurut Bondan, Jalansutra ditulis
dalam satu kata, berbeda dengan Jalan Sutra yang merupakan
terjemahan The Silk Road.

"Ingat Kamasutra? Itu berarti sutra (kawruh, pengetahuan) tentang
kama (seks dan reproduksi manusia). Nah, Jalansutra itu artinya
kawruh tentang jalan-jalan gitu loh."

Sambutan atas kolom Jalansutra (JS) ternyata luar biasa. Setiap hari
selalu saja ada surat elektronik yang menanggapi, menjadikan itu
sebagai tulisannya yang paling menghasilkan interaksi. Dari kolom
itu lalu lahir Forum JS melalui milis yang dirintis Wasis Gunarto
pada Maret 2003.

Sebagaimana pada komunitas lain, Forum JS berkembang, disertai temu
darat, yang lalu dinamai Kumpulsutra, yang artinya "pergi bareng ke
satu tempat makan, mencicipi, lalu menulis review". Selain itu,
masih ada Sambutsutra untuk menyambut anggota dari luar negeri yang
berkunjung ke Indonesia. Masih ada juga kegiatan Wisata Kuliner yang
sering harus diulang karena banyaknya peminat.

Akhirnya, dari sekadar forum melalui milis, paguyuban ini benar-
benar berkembang menjadi komunitas, kini dengan anggota hampir 8.000
orang tersebar di seluruh dunia. Menurut Bondan, yang lebih penting
bukan sebaran geografisnya, tetapi sebaran sosio-ekonominya.

Di dalam komunitas ini ada remaja, mahasiswa, dan wartawan senior
berusia hampir 90 tahun yang bermukim di Houston, AS. Dari segi
agama, anggota juga amat beragam, demikian pula suku bangsa dan
segmentasi ekonomi. Keragaman itu lalu membuat diskusi di forum amat hidup
dan saling memperkaya.

Tentang kuliner Nusantara, Bondan merasa sedih karena ia melihat hal  itu
tidak ada yang ngurusin. Akibatnya, sejumlah pusaka kuliner  Nusantara
punah.

Pemerintah tidak pernah menjadikan makanan sebagai kekuatan ekonomi, 
sementara Thailand punya program seperti Thai Kitchen to the World. 
Program ini berdampak pada kenaikan jumlah turis ke Thailand. Atas  dasar
ini, salah satu obsesi Bondan adalah membuat masyarakat demam  makanan
daerah.

Rutin detoks

Sebagai orang yang mendapat kesempatan mencicipi aneka masakan,
Bondan yang gemar masakan padang (karena waktu kecil tinggal di
Padang) mau tak mau perlu menjaga kesehatan diri. Tahu apa yang
dimakan merupakan prinsip utama dan ini diwujudkan dengan memuliakan
raga yang dititipkan Tuhan melalui makanan dan minuman yang
diasupkan ke raga. "Yang tidak wholesome (sehat) jangan
dimakan/minum. "

Bondan sendiri tidak memantang satu hidangan, tetapi ia amat
memerhatikan jumlah yang ia makan. Dengan mengetahui RDA
(Recommended Daily Allowance), ia bisa menakar berapa banyak steak
atau udang yang bisa ia santap.

Selain itu, dia tidak menyantap menu enak setiap hari dan juga
melakukan detoks (dari detoksifikasi, pembuangan racun), setiap enam
bulan sekali kontrol darah. Ia menyadari, ketika usia sudah
menjelang 57 tahun—Bondan lahir di Surabaya, 29 April 1950—raga dan
metabolisme sudah tak sebagus seperti usia 20-an tahun.

Dengan kawruh dan pengalaman banyak di bidang kuliner, Bondan merasa
sudah mencapai puncak dan ingin mendaki gunung lain, lebih-lebih
ketika di gunung ini sudah bermunculan penulis dan komentator andal.

Tak takut kehilangan hidangan enak? Istrinya, Yvonne, memang hanya
suka masak tom yam kung, tetapi di rumahnya ada juru masak pintar
sehingga urusan masak bagi tiga anak (Marisol, Eliseo, dan
Gwendoline), dan enam cucu kalau lagi kumpul, aman.

Kirim email ke