Kecap Bango sukses menggarap pasar kecap di Tanah Air. Komunikasi below the 
line jadi andalan.

Ada dua jawara di pasar kecap nasional: ABC dan Bango. Dalam beberapa tahun 
terakhir kedua merek ini bertarung sengit memperebutkan "kue" pasar kecap yang 
besar itu. Situasi kompetisi tambah ketat, serangan bukan cuma datang dari 
merek-merek nasional namun juga dari merek-merek lokal. "Tapi, kami percaya 
bahwa kami akan tetap bisa bersaing dan berkembang. Bahkan akan lebih baik 
lagi," kata Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Kecap Bango PT Unilever 
Indonesia.

Optimisme Memoria cukup beralasan. Sebab, walaupun ABC hingga kini tetap 
memimpin pasar, tapi posisinya semakin didekati oleh Bango. Kondisi itu 
terlihat jelas dalam Top Brand Index (TBI) 2008, di mana ABC memperoleh indeks 
48,5% dan Bango 40,6%. Selisihnya memang masih 8%, namun jarak antara keduanya 
tiap tahun kian dekat. Bukan itu saja, TBI ABC dalam enam tahun terakhir 
cenderung menurun, sebaliknya TBI Bango terus menanjak (lihat grafik 4).

Mungkin rasa "waswas" kecap ABC bisa sedikit berkurang jika melihat tren 
commitment share. Dalam hal ini, ABC ada peningkatan dari 45,0% (2007) menjadi 
47,2% (2008); sementara Bango turun dari 42,8% (2007) menjadi 42,0% (2008). 
Artinya, konsumen yang ingin membeli ABC di masa mendatang cenderung naik, 
sedangkan Bango sedikit menurun (lihat grafik 3).

Kendati demikian, ABC mesti melancarkan strategi mumpuni untuk meredam 
agresivitas Bango. Jika tidak, pelan-pelan pangsanya akan terus digerogoti oleh 
Bango. Merek ini sejak tahun 2003 menunjukkan tren market share yang terus 
meningkat; dari semula 15,6% kini telah berlipat menjadi 40,4% (lihat grafik 
2). Jurus apakah yang telah dilancarkan Bango?

Konsisten

Kelahiran kecap Bango berawal pada tahun 1928 sebagai merek lokal di daerah 
Jawa Barat dan Jakarta. Sejak pertama kali dirilis, merek ini terus berkembang 
dan semakin kuat di pasar kecap di kedua wilayah itu. Melihat potensi besar 
kecap ini, pada tahun 2001, PT Unilever Indonesia melamar Bango sebagai salah 
satu merek yang kemudian dikembangkan di bawah divisi makanan.

Sejak mengakuisisi merek tersebut, terus menggeber inovasi pada kecap Bango. 
Salah satunya dengan memproduksi berbagai kemasan dan ukuran untuk membidik 
pasar kelas ekonomi yang lebih luas. "Kami meluncurkan kemasan plastik isi 
ulang. Dan tahun 2007, kami meluncurkan kemasan sachet," kata Memoria.

Menurutnya, sejak awal Bango yang merupakan kecap manis ini ditujukan untuk 
segmen ibu rumah tangga kelas AB berusia 25-45 tahun. Sementara itu, 
positioning-nya sejak 2001 sampai sekarang tidak berubah yakni menempatkan 
Bango sebagai kecap berkualitas lantaran dibuat dari empat bahan alami pilihan: 
Kedelai hitam, gula kelapa, air, dan garam tanpa tambahan MSG, pengawet maupun 
pewarna.

"Kualitas produk kami terletak dari hulu sampai hilir. Artinya, dari mulai 
pembibitan, penanaman, pemilihan bahan mentah murni dari alam, proses produksi 
untuk menghasilkan produk jadi sampai ke tangan konsumen dengan sentuhan rasa 
kecap yang mantap," tandasnya.

Namun, upaya membangun brand personality yang kuat bukanlah perkara mudah. Ini 
pun diakui Memoria. Dalam hal ini, Unilever berangkat dari brand personality 
yang sudah ada, lalu melakukan analisis dengan melihat kompetisi dan visi Bango 
dalam jangka panjang. "Dari situ, kami mengintegrasikannya secara konsisten di 
dalam elemen-elemen bauran pemasaran. Mulai dari desain kemasan, iklan, materi 
promosi, sampai mekanisme promosi di pasar. Dengan begitu, kapan pun dan di 
mana pun, orang akan melihat Bango dengan personality yang sama," tegasnya.

Perlahan tapi pasti, Unilever memperlebar cakupan distribusi kecap Bango secara 
nasional. Seiring dengan itu, komunikasi melalui jalur above the line dan below 
the line (BTL) pun ditempuh. Salah satu kegiatan BTL yang cukup akrab, semarak, 
sekaligus dekat dengan masyarakat adalah Festival Jajanan Bango. Festival 
tahunan ini digelar sebagai andil pelestarian makanan tradisional yang semakin 
tergencet oleh makanan mal dan pabrikan. Karena tradisi kuliner tidak bisa 
dipisahkan dari budaya, acara ini memadukan jajanan dengan kesenian 
tradisional. Di televisi, acara serupa tertuang dalam program Bango Cita Rasa 
Nusantara.

Festival Jajan Bango (FJB) ini merupakan strategi yang jitu. Acara tersebut 
dihadiri oleh ribuan pengunjung dan pedagang yang menjajakan makanannya. 
"Dengan mengenal, menikmati, dan menyukai makanan tradisional, kami berharap 
masyarakat dapat melestarikan makanan itu. Festival ini kami gelar terus karena 
dalam festival pertama dan kedua, antusiasme masyarakat luar biasa," kata Heru 
Prabowo, Senior Brand Manager Kecap Bango saat membuka Festival Jajan Bango 
tahun 2007 di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat, festival ini mengundang 
secara khusus penjaja makanan khas Nusantara dari tiga kota yang ditunjuk 
sebagai "Duta Bango". Bahkan, Bango juga menggelar kompetisi dekorasi (best 
decoration), pelayanan pada pelanggan terbaik (best service), Bango Photo 
Contest, Bango Writing Contest, dan Bango Blogger Contest.

Di samping menggelar FJB, Bango juga pernah menggelar Piknik  Ala Bango. Dalam 
acara rekreasi itu, diperagakan pula oleh para koki dalam memasak makanan 
dengan menggunakan kecap Bango. Acara ini diadakan di 50 kecamatan di lima kota 
besar di Indonesia.

Secara tidak langsung, program CSR dari Bango pun ikut mendongkrak brand Bango 
itu sendiri. Unilever berhasil dalam memberdayakan komunitas petani kedelai 
hitam (Black Soya Bean). Program kemitraan ini berjalan secara mutualistis, 
saling menguntungkan kedua belah pihak.

"Bango tidak pernah pergi dari apa yang sudah di-value konsumen selama ini. 
Positioning kami tetap dari dulu sampai sekarang. Tapi, kami juga tidak mau 
terjebak menjadi merek yang ketinggalan zaman. Kami harus progresif, namun 
tetap pada koridor positioning dan personality yang sama," kata Memoria.

Selain promosi yang gencar dalam upaya pull market, kunci lain kesuksesan 
Unilever dalam membesarkan kecap Bango juga didapat dari upaya push market 
dengan distribusi yang merata ke seluruh pasar Indonesia. Dengan demikian, 
konsumen bisa menemukan merek ini di warung-warung.

Berkaitan dengan kompetisi, Memoria masih optimis Bango mampu melaju di pasar 
lantaran kategori Bango cukup unik. Yaitu, kategori kecap manis yang sudah 
dikenal sejak zaman dulu dan tidak terpisahkan dengan budaya kuliner Indonesia. 
"Ini yang membuat relasi kami dengan konsumen Indonesia kuat. Kami tidak 
sekadar menyuguhkan fungsi, tapi juga sentuhan emosional. Jadi, kami percaya 
merek kami tidak akan ditinggalkan," katanya.

Sigit Kurniawan

Majalah Marketing - Edisi Khusus I/2008



mediacare
http://www.mediacare.biz

Kirim email ke