Laksmi Pamuntjak luncurkan buku "The Jakarta Good Food Guide 2008-2009" 

sampul buku 
_________________________________

Laksmi Pamuntjak luncurkan buku "The Jakarta Good Food Guide 2008-2009"


Bertempat di Toko Buku Aksara Kemang, Jakarta Selatan, pada hari Rabu (26/3) 
lalu, Laksmi Pamuntjak meluncurkan edisi teranyar buku panduan "The Jakarta 
Good Food Guide 2008-2009". Buku yang menjadi peta wisata kuliner ini memuat 
sekitar 440 restoran termasuk tempat makan pinggir jalan dan kaki lima yang 
bertebaran di Jakarta. Laksmi menggandeng Paul Kadarisman untuk mempermanis 
bukunya dengan tampilan foto-foto yang menawan, serta Cecil Mariani dan JB 
Design untuk rancang grafis.

Kemunculan "The Jakarta Good Food Guide" (JGFG) diawali oleh rasa frustasi 
Laksmi Pamuntjak atas tidak adanya panduan makanan di Jakarta yang independen, 
komprehensif dan deskriptif. Terbitnya buku yang menjadi "peta kuliner" ini 
memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mencicipi beragam hidangan 
berkualitas di seantero Ibu Kota. Menurut Laksmi, TJGFG bukanlah sekadar buku 
panduan, tapi ingin menjadi jendela ke dalam sosiologi kota Jakarta. "Karena 
makanan mencerminkan budaya: sesuatu yang selalu hybrid, mengalir, berubah dan 
menyerap dari sana sini," tutur Laksmi.

JGFG adalah buku panduan restoran pertama di Indonesia yang independen. Ia 
tidak disponsori restoran dan hotel di Jakarta maupun industri makanan. 
Penulisnya selalu membayar penuh di setiap restoran yang ia kunjungi dan tak 
pernah memberi tahu kedatangannya kepada pihak restoran. Mengingat untuk 
menerbitkan buku seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Laksmi 
memerlukanpenaja (sponsor). Beruntunglah, Mandiri Prioritas bersedia menjadi 
penaja utama dan Depbudpar (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) Republik 
Indonesia mencantumkan buku ini dalam rangkaian program Visit Indonesia Year 
2008.

Sebagai catatan, JGFG pertama kali diluncurkan tahun 2001 dan laku 13.000 
eksemplar. Edisi berikutnya, The Jakarta Good Food Guide 2002/2003, laku 10.000 
eksemplar. Pada 2002, buku ini memenangi penghargaan "Editorial Merit" dalam 
International Graphic Design Award ke-10 Majalah HOW USA dan juga dimuat 
sebagai salah satu "Penerbitan Kelas Dunia" dalam koleksi National Library of 
Australia. Penulisnya pernah diundang menjadi juri dalam kompetisi kuliner 
internasional seperti World Gourmet Summit dan pernah tampil sebagai co-host 
dalam program TV Kulinaria TV7 (kini bernama Trans7) bersama William Wongso.

Tentang penulis

Laksmi Pamuntjak (www.laksmipamuntjak.com) sejak 1994 telah menulis kolom dan 
artikel tentang politik, film, makanan, musik klasik dan sastra di majalah 
Tempo, The Jakarta Post, Djakarta! dan lainnya. Ia juga salah satu pendiri Toko 
Buku Aksara, penulis Jakarta Good Food Guide 2001 dan Jakarta Good Food Guide 
2002-2003, dan pada tahun 2004 menerjemahkan, menyunting dan memperkenalkan 
Goenawan Mohamad: Selected Poems.

Kumpulan puisi pertamanya, Ellipsis, adalah salah satu Buku Terpilih (Books of 
the Year) harian Inggris The Herald UK tahun 2005, yang menjadikannya penulis 
pertama Indonesia yang karyanya dinobatkan sebagai salah satu buku terpilih di 
Eropa.

Tahun 2006, telaah filosofinya tentang hubungan manusia, kekerasan, agama dan 
mitologi dibukukan sebagai Perang, Langit dan Dua Perempuan dan diterbitkan 
oleh Freedom Institute dan Penerbit Nalar.

Di tahun yang sama, terbit kumpulan puisi pertamanya berdasarkan lukisan, The 
Diary of R.S.: Musings on Art, yang kini sedang diterjemahkan ke dalam bahasa 
Prancis dan Indonesia.

Kumpulan puisinya yang kedua, The Anagram, terbit awal tahun 2007. 
Terjemahannya atas buku Goenawan Mohamad, Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai, 
telah terbit pada tahun yang sama dengan judul On God and Other Unfinished 
Things. Sekarang, Laksmi sedang giat menulis novelnya yang pertama, The Blue 
Widow, tentang Pulau Buru dan kenangan sejarah 1965.

Laksmi kerap diundang diskusi dan membacakan karya di luar negeri, dan telah 
tampil dalam festival-festival sastra internasional di Amerika Serikat, Canada, 
Australia, Hong Kong, Ubud, Jakarta, Kuala Lumpur dan Singapore.

Ragam komentar

"Akhirnya, tolok ukur santap lezat di Jakarta telah dikukuhkan melalui tulisan 
yang tak neko-neko dan kritik yang jujur."

William Wongso, pakar kuliner

"Yang mengagumkan dari JGFG adalah mutu keseluruhannya: desain yang bersih dan 
anggun; pemilahan kategori yang bijak; tulisan yang ajek dan berkilau; dan, 
terutama, resensi yang informatif, kritis dan sarat pengetahuan ... prosanya 
senantiasa renyah, dalam, dan tidak pernah klise."

Daniel Ziv, Penulis Jakarta Inside Out

"Gubernur Makan-Makan Enak di Jakarta..."

Bondan Winarno, pakar kuliner, dalam Tempo

"Ini adalah buku yang lezat dan layak dimiliki setiap warga kota ini... pecinta 
makanan Jakarta ... tidak pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya."

The Jakarta Post

"Ketekunan Laksmi dalam menyusun buku ini layak dipuji ..."

Gatra

_________________________________


<<foodguide_cover.jpg>>

Kirim email ke