Sebenarnya,hampir semua buah dan sayur dg kandungan seratnya mampu mengurangi
penyerapan lemak di usus yg pada akhirnya akan menurunkan kadar lemak
darah...Sayangnya,konsumsi buah dan sayur kita kadang sangat kurang..Padahal
buah dan sayur jg mengandung antioksidan lho.. ^_^
Dodi Andreas wrote:
>
> dari milis sebelah. semoga berguna.
>
> salam
> dody
> Maaf Kalau sudah pernah diposting ......... KOLESTEROL TINGGI ? ( Pengobatan
> Alternatif ) Salah satu penyakit paling populer di zaman ini ialah kelebihan
> kolesterol atau hiperkolesterolemia . Ia ditakuti lantaran bisa mengganggu
> kesehatan jantung. Dengan berpantang makanan sumber kolesterol, kadar
> kolesterol darah ini bisa dikurangi. Kalaupun sudah kadung tinggi, bisa
> diturunkan dengan mengkonsumsi bahan alami seperti seledri, bawang putih,
> bawang prei, atau temulawak. Seorang pria eksekutif muda tiba-tiba saja
> menolak ajakan rekan-rekannya menyantap tongseng ketika makan siang bersama
> di sebuah warung. Padahal sebelumnya, makanan lezat yang terbuat dari daging
> kambing ini termasuk favoritnya. Setelah diledek macam-macam, akhirnya dia
> buka kartu. "Gua kena kolesterol, nih!". Rupanya, dia menderita kelebihan
> kadar kolesterol alias hiperkolesterolemia . Ia lalu bercerita, seminggu
> sebelumnya hasil pemeriksaan kesehatannya menunjukkan kadar kolesterol
dalam darahnya sudah menembus plafon sehat. Dokter memang memberinya resep
obat, tetapi - tahu sendiri - harganya mahal. Ia hanya menebus resep sekali
saja. Sebagai gantinya ia bertanya sana-sini adakah bahan alami berkhasiat obat
untuk melawan hiperkolesterolemia , selain mencoba melakukan olahraga dan diet
secara teratur. Celakanya, hiperkolesterolemia termasuk gangguan yang relatif
baru diketahui dalam dunia kedokteran. Makanya, tidak dikenal obat
tradisionalnya. Kalaupun kemudian diketahui obat alami untuk kondisi ini,
sifatnya bukanlah warisan nenek moyang. Untunglah, beberapa penelitian sudah
membuktikan adanya sejumlah bahan alami yang bisa dijadikan obat. Beberapa
tanaman yang telah diteliti dan memberi indikasi positif dalam penyembuhan
hiperkolesterolemia di antaranya adalah tanaman yang biasa dipakai sebagai
bahan sayur dan bumbu dapur. Umpamanya, bawang putih, bawang prei, seledri,
temulawak, belimbing wuluh, kunyit, dan teh hijau. Seperti
diketahui, selain bisa dibuat oleh tubuh di dalam hati, kolesterol yang
merupakan substansi lemak itu hanya ditemukan dalam bahan makanan hewani. Dua
komponen penting dari kolesterol adalah LDL (low-density lipoprotein) , yang
disebut pula kolesterol "jahat", dan HDL (high-density lipoprotein) yang
disebut kolesterol "baik". Sebenarnya, kita hanya perlu sejumlah kecil
kolesterol yaitu untuk membuat dan memelihara sel-sel saraf serta untuk membuat
hormon. Kalau kadar kolesterol dalam pembuluh darah berlebihan, maka sebagian
kolesterol itu akan mengendap. Hal ini memungkinkan terjadinya kalsifikasi atau
pengapuran sehingga pembuluh darah tidak elastis lagi. Akibatnya, timbul
tekanan darah tinggi. Keadaan itu dapat membahayakan, terutama bila sampai
menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Apalagi pembuluh yang pecah adalah
pembuluh darah di otak yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Bila pengapuran
terjadi di pembuluh darah jantung, organ vital ini akan
kekurangan pasokan darah sehingga kekuatannya berkurang. Kalau aliran darah
sampai tersendat, akan terjadi infark jantung yang membuat denyut jantung tidak
teratur atau sama sekali tidak kuat. Akibatnya bisa fatal. Mencegah
penggumpalan darah Untuk mencegah agar tidak mencapai tahap yang fatal, mau
tidak mau kadar kolesterol harus dinormalkan dengan menurunkan LDL dan
meningkatkan HDL dalam darah. Penelitian menunjukkan, untuk setiap penurunan
tingkatan kolesterol 1%, risiko penyakit jantung dikurangi sampai 2%. Pada
hewan percoban, sari bawang putih Allium sativum terbukti dapat menurunkan
kadar kolesterol serum dan trigliserida dalam serum darah. Ia juga dapat
menaikkan kadar HDL serta meningkatkan aktivitas fibrinolitik. Umbi bawang
putih ini pun bisa mencegah terjadinya infiltrasi (penyusupan) lemak,
menghambat atau mencegah agregasi platelet (bagian darah yang berperan dalam
pembekuan darah), sehingga penggumpalan darah tidak terjadi. Semua ini
mencegah terjadinya pengapuran dan akan mencegah terjadinya tekanan darah
tinggi serta serangan jantung (koroner). Maka tak salah kalau bawang putih juga
dikatakan bersifat antiarteriosklerosi s. Percobaan pada manusia lebih berarti
untuk pencegahan. Seluruh bagian tanaman bawang putih mengandung minyak atsiri.
Kandungan senyawa itu lebih banyak terdapat di dalam daunnya ketimbang pada
umbinya. Sayangnya, bawang putih mengeluarkan aroma menyengat. Untuk
menghilangkannya telah dicoba dengan mencampurnya dengan minyak atsiri sirih.
Juga telah dicoba dengan menggunakan campuran daun beluntas. Secara in vitro,
daun beluntas bisa menghilangkan bau bawang putih, tetapi tidak mempengaruhi
potensi bawang putih. Diperlukan dua siung bawang putih atau sekitar 4 g setiap
kali mengkonsumsinya. Umbi putih dengan rasa menyengat ini dikunyah hingga
halus baru ditelan. Setelah itu minum air hangat secukupnya. Ini dilakukan
sebanyak tiga kali dalam sehari. Penelitian
menggunakan seledri Apium graveolens L. menunjukkan hasil positif pada tikus
putih. Kadar kolesterol darah hewan percobaan yang diberi rebusan daun seledri
ternyata menurun. Rasa dan aroma bawang putih memang menyengat, tapi demi
kesehatan, jangan dipersoalkan. Di dalam daun seledri terkandung senyawa
glukosida, apiin, dan apoil yang memberi aroma khas. Namun, senyawa apa yang
berkhasiat menurunkan kadar kolesterol darah belum terungkap. Bila daun ini
dipilih sebagai obat, diperlukan sebatang seledri yang direbus dengan 1 gelas
minum air hingga mendidih. Setelah dingin, minumlah air rebusan itu. Dalam
sehari cukup minum satu kali. Terbukti pada hewan percobaan Begitu pula ekstrak
temulawak Curcuma xanthorrhiza dan kunyit Curcuma domestica. Keduanya dapat
menurunkan kadar kolesterol darah hewan percobaan. Dengan dosis 6 ml, 8 ml, dan
10 ml, rimpang temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan
trigliserida darah kelinci yang mengalami
hiperlipidemia. Pada dosis 10 mg, 15 mg, dan 20 mg kurkuminoid temulawak
menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida. Khusus pada dosis 20 mg,
pengaruh yang diberikan berupa peningkatan HDL-kolesterol darah. Sementara,
kunyit mempunyai sifat menurunkan kadar kolesterol pada tikus. Ini berkat
kurkumin yang terkandung di dalamnya. Daun bawang prei (Allium porrum L., A.
fistulosum L.) termasuk yang telah diteliti kemampuannya dalam menurunkan
hiperkolesterolemia . Dalam penelitian itu, digunakan tikus yang diberi ekstrak
daun bawang prei yang jumlahnya setara dengan 10 g bawang daun/kg BB (berat
badan)/hari selama 60 hari. Hasilnya ternyata meningkatkan kadar trigliserida
dan kolesterol darah tikus. Tapi pada tikus yang dietnya diberi sukrosa,
pemberian ekstrak dengan jumlah dan jangka waktu sama ternyata dapat menurunkan
kadar trigliserida dan kolesterol darah. Buah belimbing wuluh Averrhoa bilimbi
L. yang biasa digunakan sebagai bagian dari bumbu
masak atau sayur, terbukti pula menurunkan kadar kolesterol darah. Dari
penelitian terbukti, air perasan belimbing wuluh dengan volume 1 ml, 1,5 ml, 2
ml, dan 2,5 ml secara oral pada tikus putih dapat menurunkan kadar kolesterol
dalam serum darahnya. Sementara pada dosis tertentu, 0,54 g/200 g BB, teh hijau
ternyata mampu menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida,
dan berat badan tikus putih. Tapi teh hijau tidak mempengaruhi kadar kolesterol
HDL. Tikus yang dietnya diberi sukrosa bawang prei, kadar kolesterol darahnya
turun. Sayangnya, takaran optimal empat bahan obat terakhir untuk menurunkan
kadar kolesterol pada manusia belum diketahui. Ini lantaran penelitian belum
sampai pada penerapannya bagi manusia. Data empiris pun masih belum ditemukan.
Untuk memanfaatkannya, memang perlu percobaan. Yang pasti, semua tanaman tadi
dalam penelitian tidak menunjukkan sifat toksik (beracun), sehingga relatif
aman untuk dicoba dalam upaya
menurunkan kadar kolesterol darah. Bagaimanapun pengobatan merupakan langkah
baik untuk menurunkan kadar kolesterol darah yang telanjur tinggi. Namun,
tindakan pencegahan tetap lebih baik. Beberapa patokan sederhana untuk mencegah
hiperkolesterolemia di antaranya menambah kadar serat dapat larut dalam diet
dengan makan buah-buah, sayuran, kekacangan, dan bebijian; memilih lauk produk
daging putih atau ikan; menyingkirkan kulit sebelum memasak ayam; memilih
daging tak berlemak dan membuang semua lemak yang ada, serta mengkonsumsi dalam
porsi sedang. Juga membatasi jumlah kacang tanah yang dikonsumsi; membatasi
penggunaan mentega, margarin, keju, dan minyak goreng dari kelapa atau kelapa
sawit, sebaliknya gunakan minyak bunga matahari, kedelai, kanola, atau minyak
zaitun; memilih produk-produk makanan dan minuman yang tanpa atau rendah lemak;
dan bila kelebihan bobot badan, sebaiknya lakukan penurunan bobot badan dan
olahraga. (Drs. B. Dzulkarnain)
Informasi lebih lanjut bisa ditelusuri di antaranya dalam kepustakaan berikut:
Dirghantara, E. 1994. Efek Ekstrak Sari Seduhan Daun Teh Hijau (Camellia
sinensis O. Kuntze.) terhadap Kadar Kolesterol dan Trigliserida Tikus Putih
yang Diberi Diet Kuning Telur dan Sukrosa. Jurusan Farmasi, FMIPA UI. Jakarta.
Gunawan, N., 1988. Pengaruh Campuran Ekstrak Bawang Putih dan Daun Beluntas
terhadap Kadar Kolesterol Serum Darah Tikus Putih. Fak. Farmasi, UGM.
Yogyakarta. Hutagalung, J.S., 1986. Penelitian Pendahuluan Pengaruh Perasan
Belimbing Asam (Averrhoa bilimbi L.) terhadap Kadar Kolesterol dalam Serum
Darah Tikus. Jurusan Biologi, FMIPA Unair. Surabaya. Idris, N. S., 1990.
Penelitian Pendahuluan Pengaruh Pemberian Rebusan Daun Seledri (Apium
greaveolens L) terhadap Kadar Kolesterol Darah Tikus Putih. Jurusan Biologi,
Unas. Jakarta. Pramadhia B., 1988. Pengaruh Kurkuminoid dari Temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) terhadap Kolesterol Total, Trigliserida,
HDL-kolesterol Darah Kelinci dalam Keadaan Hiperlipidemia. Jurusan Farmasi,
FMIPA Unpad. Bandung. Perry, L. M., Metger, Y., 1980. Medicinal Plants of East
Asia and Southeast Asia. The MIT Press. Cambridge, Massachusetts, London.
Yusuf, A., 1988. Pengaruh Ekstrak Eter Bawang Prei (Allium porrum L.) terhadap
Kadar Glukosa, Triasilgliserol, dan Kolesterol Plasma Darah Tikus yang Diberi
Diet Sukrosa. Jurusan Farmasi, FMIPA UI, Jakarta
>
____________________________________________________________________________________
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com