SUARA PEMBARUAN DAILY --------------------------------------------------------------------------------
Sekilas Boga Panduan Makan di Jakarta Promosi nusantara rupanya tidak hanya dilakukan dengan memperkenalkan daerah tujuan wisata. Makanan yang beraneka ragam di suatu daerah pun dapat menjadi promosi tersendiri bagi kekhasan daerah itu di mata turis lokal maupun mancanegara. Demikian yang kiranya tercermin dalam buku The Jakarta Good Food Guide 2008/2009 (JGFG 2008/2009) yang diluncurkan penulis Laksmi Pamuntjak baru-baru ini di Jakarta. Laksmi mengatakan, proyek menulis buku tersebut sebelumnya hanya iseng. Ide menulis buku itu diawali keinginan Laksmi melampiaskan frustrasi pribadi atas tidak adanya panduan makanan di Jakarta, apalagi yang objektif (tidak disponsori restoran atau hotel di mana tempat makan itu berada dan komprehensif serta deskriptif). Artinya, tidak saja melihat sebuah restoran dari suatu sisi, tapi dari banyak unsur. "Dengan membuat JGFG saya jadi belajar tentang kota saya, tak saja dari segi sejarah dan fisiknya, tetapi juga dari segi bagaimana ia menyatukan manusia-manusia di dalamnya. Bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain di dalamnya. Saya selalu percaya, makanan adalah metafora tertepat bagi "budaya". Maksudnya, budaya merupakan sesuatu yang selalu hybrid, mengalir, berubah, dan menyerap dari sana sini," demikian dikatakan Laksmi dalam acara peluncuran bukunya. Menurutnya, budaya tidak pernah baku atau tunggal. Budaya selalu mengelak dari upaya-upaya untuk mendirikan batas atau menutup diri, entah lewat formalisasi atau penyeragaman. Sebagai contoh di Lamongan, menu soto kaldunya terdiri dari kaldu udang dan dibubuhi bawang putih goreng dan kacang mede, Di Bandung, kaldunya bening dengan ditambahi tempe goreng, serai, dan lobak. Sementara soto betawi penuh santan, dengan kandungan daging, babat, dan kentang. Untuk penulisan buku The Jakarta Good Food Guide 2008/2009, Laksmi menuturkan telah mencoba sejumlah 440 restoran termasuk kaki lima. Kegiatan itu dilakukan penulis dalam kurun waktu kira-kira delapan bulan. Dalam proses mencicipi makanan, Laksmi umumnya membawa satu atau dua teman, terkadang lebih. Hal itu dimaksudkan agar bisa memesan jenis hidangan cukup banyak dan supaya lebih akurat dalam menilai sebuah restoran. Selain menerbitkan buku The Jakarta Good Food Guide, Laksmi juga berkeinginan untuk menulis buku semacam buku The Lonely Planet tentang makanan di seluruh daerah di nusantara. Menurutnya, tentu keinginan untuk itu memerlukan kerja sama suatu tim yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang tidak hanya mampu mencicipi makanan. Namun, harus juga mampu menuliskan rasa makanan itu dan hal tersebut bukan hal yang mudah. [AMT/N-5] -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 4/4/08 mediacare http://www.mediacare.biz
<<0604seki.gif>>
