hehehe...
 
Masukan & kritik membangunnya bagus banget niy....
 
salam
Ani

   _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
mediacare
Sent: 22 April 2008 9:45
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; media 
jakarta; media jabar; mediacare; aci
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Spam:[bango-mania] Dua acara wisata kuliner TV yang saya senangi




Oleh Mula Harahap
 
E-mail: HYPERLINK "mailto:[EMAIL PROTECTED]"[EMAIL PROTECTED]
 
 
Ada 2 acara wisata kuliner TV yang saya senangi. Yang pertama adalah "No 
Reservation"-, dipandu oleh Anthony Bourdain, dan disiarkan di Discovery 
Chanel. Yang kedua adalah (saya lupa judulnya), dipandu oleh Keith Floyd, dan 
kalau saya tak salah ingat juga disiarkan di Discovery Chanel.
 
Bagi saya acara itu menjadi menarik karena kita selalu diingatkan bahwa urusan 
kuliner adalah urusan kebudayaan. Mengenal makanan suatu masyarakat artinya 
mengenal kebudayaannya. (Di sebuah majalah saya pernah membaca bahwa selama 
beberapa tahun terakhir ini koki-koki Israel dan Palestina selalu bertemu dan 
mengadakan acara masak bersama: mereka mau mencoba
menggalang perdamaian lewat kuliner).
 
Dalam acara "No Reservation" kepada kita selalu diperlihatkan bagaimana Anthony 
Bourdain berinteraksi dengan penduduk setempat, mengobrol tentang berbagai 
aspek kebudayaan yang menarik hatinya, dan menyantap berbagai makanan yang 
(biasanya) erat kaitannya dengan
aspek kebudayaan yang sedang diperbincangkannya itu.
 
Dalam sebuah episode--misalnya---kepada kita diperlihatkan bagaimana Anthony 
Bourdain menonton
pertarungan adu domba di Garut, seraya duduk menikmati jajanan yang dijual oleh 
para pedagang di seputar arena adu domba itu. Atau, dalam episode yang lain, 
kepada kita diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain berkelana di Thailand, 
naik "tuktuk" dan gajah, keluar-masuk pasar, lalu mengobrol ngalor-ngidul 
sambil menikmati makanan khas Thailand tersebut.
 
Dan hal yang juga menarik dari acara tersebut (serta yang membuat kita tambah 
ngiler) ialah: bahwa Anthony Bourdain selalu menyantap makanannya dengan lahap 
dan tak meninggalkan sisa.
 
Acara kuliner yang dibawakan oleh Keith Floyd, yang kemana-mana selalu 
mengusung wajannya itu, juga tak kalah menarik. Keith Floyd selalu di-"shoot" 
memasak makanan setempat di tengah-tengah alam atau lingkungan setempat pula.
 
Dalam sebuah episode kepada kita--misalnya---diperlihatkan ketika Keith Floyd 
sedang berada di pinggir pantai Norwegia. Di latar belakang kelihatan 
sekelompok orang Norwegia sedang
duduk mengelilingi sebuah meja besar (yang masih kosong) sambil 
bernyanyi-nyanyi. Lalu mulailah Keith Floyd (yang dalam episode itu memakai 
topi seperti tanduk orang Viking) meramu kerang, kepiting dan udang dalam menu 
Swedia di wajannya yang besar itu. Setelah masakan matang ia memanggil salah 
seorang dari antara kerumunan itu untuk mengambil makanan. Semua menyantap
makanan dengan lahap dan tak bersisa.
 
Sementara itu, dalam wisata kulinernya (yang disiarkan oleh Trans-TV), Bondan 
Winarno tak pernah kelihatan berusaha untuk mengangkat setting dan warna budaya 
dari makanan yang sedang dipromosikannya itu. Ia hanya sibuk membahas bumbu 
dari makanan tersebut, lalu setelah memakannya satu atau dua sendok hanya 
berkata, "suedaaap", "uenaak" atau "mak nyus". Maaf, saya bahkan mendapat 
kesan, bahwa alih-alih mempromosikan etnis dan budaya asal makanan tersebut, 
Bondan Winarno lebih mempromosikan restoran yang menyajikan makanannya.
 
Hal yang lebih menjengkelkan lagi dari Bondan Winarno ialah, bahwa dalam setiap 
episode ia selalu berusaha untuk memperkenalkan sebanyak mungkin makanan. Lalu 
ia hanya menyantap satu atau dua sendok dari berbagai makanan yang 
diperkenalkannya itu. Memang, saya tidak mengharapkan Bondan Winarno untuk 
menyantap habis semua makanan yang diperkenalkan dalam satu episode
acara itu (bisa mencret dia). Tapi dengan trik kamera sebenarnya bisa 
diperlihatkan bagaimana Bondan Winarno seolah-olah telah menyantap makanan itu 
sampai habis. 
 
Dan kalau hal ini bisa dilakukannya maka saya--yang sedari kecil sudah diajari 
bahwa tidak menghabiskan makanan di piring sendiri adalah dosa--mungkin masih 
bisa sedikit mengapresiasi acaranya yang hanya dipenuhi dengan kata-kata 
"suedaap" itu.
 
Horas,
 
Mula Harahap
 

 


Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.13.18/1007 - Release Date: 13/09/2007 
21:48



Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.13.18/1007 - Release Date: 13/09/2007 
21:48
 

Kirim email ke