The Dream Team Championship 2008: Kompetisi Tim Pemasar Tangguh


Rabu, 19 Maret 2008



Oleh : Taufik Hidayat

 

 

"FJB kami lihat sukses, kemudian kami replicate dan improve dari tahun ke 
tahun," ujar Memoria Dwi Prasita, Manajer Merek Bango. Memoria menerangkan, 
konsumen kecap terbagi menjadi dua segmen: in house dan out of home. In house 
adalah konsumen umum yang mengonsumsi kecap di rumah dalam masakan sehari-hari. 
Adapun out of home adalah konsumen yang mengonsumsi kecap dalam konteks jajan 
atau makan di luar, seperti di warung bakso, soto dan warteg. Saat ini 70% 
pasar masih dikuasai segmen in house.

 

Dicky mengatakan, lewat FJB, Bango bisa berkomunikasi langsung dengan dua 
segmen ini. Tak mengherankan, sejak 2007 FJB hadir di lima kota: Jakarta, 
Bandung, Semarang, Surabaya dan Medan. Di setiap kota, sekitar 50 pedagang 
diundang untuk menyemarakkan event ini. Pedagang yang dipilih adalah pedagang 
kecil yang menjual berbagai makanan tradisional kota tersebut. Tidak melulu 
pedagang yang jualannya menggunakan kecap sebagai penambah rasa, ada juga 
pedagang makanan khas daerah yang tidak menggunakan kecap. Namun, pedagang yang 
menggunakan kecap selama event harus menggunakan Bango. "Banyak juga yang 
menggunakan brand lain, jadi pada saat event kami beri Bango," ungkapnya. 
Tenyata, setelah mereka (pedagang) mencoba, konsumennya puas, sehingga mereka 
pun beralih ke Bango. "Retention rate yang tadinya tidak pakai Bango jadi pakai 
itu tinggi sekali," Dicky menambahkan. 

 

FJB juga berdampak sangat baik bagi pedagang. Mantan senior brand manager Bango 
Heru Prabowo mengungkapkan, hanya dalam waktu 1,5 hari, omset yang diraih 
mencapai Rp 1,5 miliar. Tak mengagetkan, pedagang yang beberapa kali diundang 
berjualan di event ini merasa sangat senang. Sebab di FJB, pedagang tidak perlu 
mengeluarkan biaya apa pun dan hasil penjualan sepenuhnya milik mereka. "Tahun 
kemarin, ada seorang pedagang yang ikut di empat kota. Begitu pulang, 
alhamdulillah, pedagangnya bisa beli mobil," kata Heru.

 

Untuk meremajakan mereknya, pada 2007 Unilever mengubah tampilan kemasan Bango. 
Walau masih tetap menggunakan logo dan warna yang sama, kemasan baru dibuat 
lebih eye catching. Selain itu, kata "kecap" di depan merek juga dihilangkan. 
Tulisan "Kecap Cap Bango" diubah menjadi "Bango, Kecap Manis". "Bango kami 
establish lagi jadi suatu brand, dan kecap adalah product descriptor-nya saja," 
ujar Memoria. Suatu hari nanti, dikatakannya, Bango bisa saja bukan hanya kecap.

 

Sejak ditangani Unilever, performa Bango memang terus meningkat. "Bango menjadi 
salah satu brand elite di Unilever karena termasuk dalam Klub Twenty-Five," 
ungkap Dicky seraya menjelaskan, Klub Twenty-Five adalah nama kelompok untuk 
tim terbaik yang memberikan pertumbuhan minimal 25% per tahun. "Sejak tahun 
pertama diakuisisi, Bango sudah bergabung dalam Klub Twenty-Five," tambahnya. 
Tak hanya itu, dalam portofolio bisnis Unilever, Bango menjadi kontributor 
terbesar untuk divisi makanan.

 

Keberhasilan Bango di pasar domestik mengilhami Unilever membawa merek ini go 
international. Dicky mengatakan, saat ini permintaan untuk ekspor sudah ada 
walau belum terlalu banyak. "Di Amerika dan Eropa, di toko-toko Cina itu 
biasanya ada Bango," ujarnya seraya menyebutkan, ekspor langsung baru dilakukan 
ke Arab Saudi.

 

Memoria menambahkan, beberapa negara Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand 
dan Vietnam, juga sudah meminta Bango. Sebagian besar negara-negara itu 
memiliki banyak warga yang berasal dari Indonesia. Maklum, kecap manis adalah 
khas Indonesia. "Di luar negeri, lebih terkenal kecap asin dari Chinese 
culture," ujarnya. Ini pula alasan mengapa Bango hanya menyediakan satu varian 
rasa: manis. Sebab, pangsa pasar terbesar di Indonesia (95%) adalah kecap 
manis. Padahal sebelum diakuisisi, Bango memiliki sejumlah varian rasa.

 

 

Taufik Hidayat/Wini Angraeni

Riset: Siti Sumariyati





Swa - 19 Maret 2008 

  

Kirim email ke