Buat bung Danny...
coba aja datang ke gedung smesco mall milik pemprov DKI yang letaknya di
tanah abang dibelakangnya kantor pajak...disana banyak dijual hasil kerajinan
dari para pengusaha UKM nah salah satunya batik.
tks,
indra
danny phradiptha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bicara tentang Batik,
Apakah ada yang bisa bantu,Saya perlu informasi dimana sentra batik, seperti
batik-batik yang di jual di boutique di seputaran daerah Kemang Jakarta Selatan
terima kasih.
mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
17/05/08 11:28
Batik Tandai Kebangkitan Indonesia
Oleh Desy Saputra
Jakarta, (ANTARA News) - Batik, salah satu kain tradisi Indonesia, belakangan
ini semakin terlihat "menjamur" dikenakan orang di mana-mana.
Di pusat perbelanjaan, di perkantoran, hingga acara-acara pesta, banyak orang
yang mengenakan batik dengan gaya yang lebih modern dan kontemporer.
"Batik `fever` sedang melanda Indonesia," ujar perancang busana Ghea Panggabean
kepada ANTARA di Jakarta, Jumat malam (16/5).
Perempuan yang 25 tahun terakhir setia mengeksplorasi kain-kain tradisi
Indonesia dengan gaya modern ini melihat keadaan tersebut sebagai perkembangan
yang menggembirakan.
Menurut Ghea, dunia mode Indonesia sdang bangkit dan bergairah. Hal itu
terlihat dari antusiasme orang mengenakan batik di berbagai acara. Desain dan
coraknya sangat beragam serta berkembang dengan cepat.
"Sekarang orang sangat bangga memakai batik dan merasa `in`, beda dengan zaman
dulu kalau orang memakai batik dianggap kuno dan lebih percaya diri memakai
baju merek luar negeri," katanya.
Ghea adalah perempuan berdarah campuran Belanda yang sejak remaja jatuh cinta
pada budaya Indonesia.
Pemilik nama lengkap Ghea Sukarya Panggabean ini lahir di Rotterdam, Belanda, 1
Maret 1955.
Meski dibesarkan di Eropa, namun ia memilih Indonesia sebagai sumber inspirasi
hidup dan berkarya. Di dunia mode, Ghea dikenal banyak orang karena rancangan
kebaya dan tunik.
"Indonesia kaya dengan kain-kain tradisional. Saya hampir 25 tahun menggali
kebudayaan nenek moyang bangsa kita dan saya selalu mencari inspirasi baru yang
lantas diterjemahkan dalam fesyen," ujar ibu tiga anak ini.
Ghea menempuh pendidikan fashion di Lucie Clayton College of Dressmaking
Fashion Design, London (1976-1978) dan Chelsea Academy of Fashion, London
(1979).
Nama Ghea telah berkibar di Indonesia dan mancanegara. Reputasinya di bidang
fashion antara lain dibuktikan dengan mewakili Indonesia dalam Fashion
Connection, Singapura (1986-1987-1989), berpartisipasi dalam Le Bon Marche
Department Store, Prancis dengan menampilkan koleksi gringsing Bali dan Sumba
(1997).
Sejumlah penghargaan pernah diraihnya, yakni Penghargaan 10 Besar Designer
ASEAN (1987), Penghargaan Kartini atas kontribusi profesional dalam
mempromosikan mode Indonesia (1987), Citra Adhikarsa Budaya (1996), Adhikarya
Busana (1999), dan Adhikarya Wisata (2001).
"Kita harus bangga dengan keadaan yang terjadi pada dunia fesyen kita saat ini,
setahun terakhir saya mengamati, terutama pada produk yang berkaitan dengan
budaya Indonesia selalu mendapat tanggapan positif masyarakat," katanya.
Dukungan Pemerintah
Perancang busana Handy Hartono mengungkapkan peran pemerintah sangat penting
dalam mendukung pelestarian dan memupuk kecintaan anak bangsa terhadap
kain-kain tradisi Indonesia.
"Baru-baru ini saya diajak Departemen Perindustrian berpameran di Dubai bersama
beberapa perancang busana lain dari Indonesia, saya merasa dampaknya luar biasa
positif," kata Handy yang karya-karyanya jadi langganan para artis dan kalangan
sosialita ini.
Pria yang mengawali karirnya sebagai asisten perancang busana pada Susan
Budiharjo tahun 1985 ini mengaku banjir pesanan dari Dubai ketika pameran usai.
Kain tenun, ulos, songket, yang dipadukan menjadi gaun-gaun modern oleh Handy
sangat disukai pengunjung pameran saat itu.
Handy terkenal memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap rancangannya. Ia
mencampurkan unsur etnik dan modern sehingga menghasilkan karya baru yang unik
dan elegan.
"Saya tidak menyangka, kain-kain Indonesia sangat dihargai dan digemari di luar
negeri, karena itu kita harus bangga memiliki budaya Indonesia dan
berkesempatan mengenakan kain-kain tradisi itu kapan saja," tambahnya.
Sementara itu Ghea mengungkapkan gairah dunia fesyen Indonesia tidak lepas dari
usaha berbagai pihak untuk menggalakkan cinta budaya bangsa sendiri.
"Pemerintah melalui Inacraft pada April lalu dan pameran kain nusantara
Adiwastra Nusantara adalah sedikit contoh dari upaya pelestarian budaya
Indonesia," katanya.
Inacraft (International Handicraft Trade Fair) adalah salah satu pameran
kerajinan terbesar di Indonesia yang digelar rutin setip tahun sejak 1999.
Pada penyelenggaraan ke-10 (tahun ini) Inacraft semakin ramai didatangi
pengunnung. Kegiatan itu diikuti 1.650 perusahaan kerajinan dari dalam dan luar
negeri seperti Tunisia, India, dan Amerika Serikat.
"Di pameran itu kita bisa melihat bermacam-macam kain tradisional Indonesia
yang sangat indah. Pengunjung yang berminat juga bisa membeli langsung dengan
harga yang sepadan dengan kualitasnya," ujar Ghea.
Promosi semacam itu, lanjut Ghea, sangat menguntungkan bagi banyak pihak. Bagi
peserta pameran, ajang itu menjadi kesempatan untuk mendapat pesanan dalam
jumlah melimpah, sedangkan pengunjung dapat berbelanja dengan harga terjangkau
dan kualitas barang yang baik, sekaligus juga dapat memberdayakan para perajin
dari berbagai daerah.
Tren Berikutnya
Sampai kapan tren batik menjangkiti masyarakat? Ghea mengatakan tidak ada waktu
yang pasti, meski fesyen memang akan terus berubah seiring waktu berjalan.
"Saya berharap tren ini akan berlanjut dengan digemarinya jenis-jenis kain
tradisi Indonesia lainnya. Indonesia kan tidak hanya memiliki batik, tapi juga
kain tenun, songket, dan kain adat dari seluruh nusantara," katanya.
Ghea menambahkan, eksplorasi di dunia mode terus berjalan. Namun orang tidak
perlu selalu berubah dan menata penampilan mengikuti perkembangannya.
"Menurut saya yang terpenting adalah bagaimana orang menjadi cerdas menata
penampilannya. Untuk tampil menarik tidak harus mahal kok, tidak harus produk
luar negeri. Kuncinya adalah `smart` dalam memadupadankan busana," kata
perempuan yang kerap tampil dalam busana dari kain songket ini.
Tampil trendi dalam segala suasana, lanjutnya, juga dapat dilakukan dengan
mengenakan busana tradisional dalam setiap kesempatan dan tidak takut berkreasi
sendiri. Busana dengan gaya kontemporer dan modern juga bisa menjadi pilihan
sehingga si pemakai tidak merasa ketinggalan jaman.
Keberanian berinovasi dalam mode, menurut Handy, juga membawa dampak positif
dari hasil pamerannya di Dubai. Ia melihat kain-kain Indonesia jauh lebih
berkualitas dan kaya dalam gaya dibandingkan produk India dan China.
"Inovasi baru dan terus melakukan eksplorasi terhadap budaya tradisi serta
keberanian untuk berkreasi adalah kekuatan yang kita miliki, yang tidak
dimiliki bangsa lain," demikian katanya.(*)
http://by138w.bay138.mail.live.com/mail/EditMessageLight.aspx?n=1026578163
mediacare
http://www.mediacare.biz