Wah,
Jebul saya 'dirasani' to..
Sedikit cerita tentang hotel Garden Palace ini, di dekatnya ada kedai
ice cream. Namanya adalah... (aduh, lupa!) Mungkin mas Radityo masih
ingat, karena beliau yang mengajak saya kesitu. Ada satu lagi yang
ikut bernama Mbak Sari, yaitu rekan satu team mas Radityo dari Jakarta.
Nah, menurut penjelasan Radityo, tokoh kita satu ini, kedai ice cream
ini berdiri sejak jaman belanda. Begitu duduk di kursinya yang
berwarna merah, terjadi percakapan berikut:
Saya (A): "Mas radit, ini kan berdiri dari jaman belanda. Kalo orang
jaman dulu itu bikin ice cream caranya gimana ya?"
Radityo (R): "Diputer gitu, sama kayak cara bikin es puter. Jadi
bahan ice creamnya ditaroh di tengah trus digenjot, sama kayak yang
jualan es puter itu lho"
A : "Trus kok bisa jadi dingin?"
Sari (S) : "Ya tetep pake es balok.."
R : "Iya betul, tetep pake es balok biar ice creamnya jadi dingin"
Tiba tiba ada seorang kakek datang, berumur (pastinya) lebih dari 80
tahun, dengan dandanan dandy (pada masanya) dan tongkat, mengingatkan
saya pada sosok milioner dalam film Jurassic Park (dia yang punya
Park-nya)
R: "Nah, itu tuh yang punya kedai ini.."
A: "Masak sih mas? Emang mas radit kenal?"
R: "Iya bener, tuh kan udah tua banget.."
S: "Ah mas Radit nih, sotoy banget sih!"
Pesanan saya, ice cream dengan topping rum datang (duh, namanya apa
ya?), dianterin oleh waitress nya.
R: "Makasih ya mbak.., Eh mbak, itu yang punya sini kan yah?"
Waitress: "Yang mana pak?"
R: "Itu tuh, yang pake tongkat"
W: "Ah bukan pak."
R: "Masak sih mbak, trus itu siapa?" (kekeuh+ngeyel euy!)
W: "Ya itu cuman tamu langgganan kita aja"
S: "Tuuu kannn, dasar Sotoy" (sok tau, red.)
A: ".................."
Nah, kami bertiga mulai mencicipi ice creamnya, nyem nyem.. enuak..
Tapi..
Duh! Rum nya kenceng banget yak!
Gile ini ice cream, makan kebanyakan bisa tinggi nih!
A: "Mas radit, sekarang bikin ice creamnya gimana yah? Kayaknya aku
lihat udah ada ice cream modern model Wall's di belakang tuh.."
R: "Ya sekarang udah modern lah pasti, udah pake ice cream maker"
A: "Trus jaman dulu itu, kan tadi katanya digenjot macam es puter,
pendinginnya pake es balok. Lha bikin es baloknya gimana?"
R: "........."
S: ".........."
Mereka menatap sebal kepada saya, seakan mau bilang: "Crewet amat sih!"
Hahahaha...
Nah, sampai sekarang yang jadi pertanyaan saya adalah, Di jaman dulu,
sebelum ada listrik, bagaimanakah membuat es?"
Adakah miliser yang bisa menjawabnya?
Regards,
Andy.
On May 29, 2008, at 4:44 PM, mediacare wrote:
Tragedi Yangko Kacang
Pada saat berlangsung Festival Jajanan Bango 2008 di Surabaya pada
10 Mei lalu, hadir pula Fajar Handika, Bangomania asal Jogja. Ia
menginap bersama rombongan Bangomania dari Jakarta di Hotel Garden
Palace.
Tak lupa ia menenteng oleh-oleh khas Jogja dalam kemasan khusus.
Entah apa isinya. Menurut rencana, ia akan berbagi kuliner dengan
Bangomania lainnya di ajang FJB. Kalau ada yang mau beli, silakan.
Sabtu pagi, Raka dan Raki Surabaya mampir ke hotel, ikut sarapan
pagi sembari briefing. Menyusul Manda "Si Jago Makan" juga nongol,
menawarkan diri untuk beli jajanan pasar buat konsumsi media
briefing. Ditawari sarapan nggak mau, ditawari minum ogah, katanya
sudah kenyang (mungkin dia puasa seminggu lamanya khusus buat
menyambut FJB, siapa tahu?)
Akhirnya, Manda cabut ke toko kue Bikang ditemani Ferry.
Usai ngobrol kesana-kemari sembari merokok dan ngopi, akhirnya kami
berkemas-kemas untuk berangkat menuju Stadion Brawijaya. Berbagai
macam barang kami bawa, karena kalau sampai ada yang tertinggal
bisa kacau acara.
Setiba di lokasi, Andy (nama panggilan Fajar Handika) baru sadar
kalau oleh-oleh yang ia tenteng dari Jogja tertinggal di coffee
shop. Hebohlah ia. Berkali-kali ia menelepon ke hotel untuk
menanyakan tentengannya yang tertinggal. Pihak hotel belum berhasil
menemukannya.
Ia nampak kecewa.
Karena acara akan dimulai dan kami sibuk untuk mempersiapkan Tenda
Media, salah satu dari kami tak bisa mengantarnya untuk kembali ke
hotel. Gegap gempita dan ramainya suasana FJB, membuat Andy
melupakan sejenak soal paket oleh-olehnya itu. Ia rupanya cukup
sibuk berburu kuliner.
Pada pukul 3 siang, barulah kami kembali ke hotel. Setiba di hotel,
Andy langsung berjalan menuju coffee shop. Setelah bertanya kesana-
kemari, dos itu akhirnya ditemukan. Legalah ia.
Daripada dibawa pulang kembali ke Jogja, dos berisi oleh-oleh
diberikan kepada saya (padahal saya yang minta...hehehehehehe...).
Esok harinya saya buka dos tersebut. Wow, ternyata isinya beraneka
ragam. Ada Yangko Kacang, Bakpia Pathok, Kumbu, dan Ampyang. Wah
semua serba manis tentunya. Saya lalu kepikiran untuk mengirimkan
Ampyang ke Oom Naratama di States. Tapi setelah dipikir-pikir
ongkos kirimnya kok mahal. Ya batal sudah....dan Ampyang yang
bernasib malang itu pindah ke perut teman-teman.
Berikut saya ketikkan dari dos kemasan Yangko Kacang:
_______________________________
Yangko Kacang
Makanan khas Kota Gede, Yogyakarta (DIY)
Cocok untuk oleh-oleh. Harum, manis, lezat.
Terbuat dari beras ketan, gula, dan kacang tanah.
Yangko Kacang Merk SML
Penyalur resmi Toko Bakpia Pathok 25
Jl. AIP II KS Tubun No 65,
Yogyakarta
Telp: (0274) 512-219
P. IRT No 306347101015
Sphere: Related Content
di 1:54 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: yangko kacang