Iya Mbak Gati bener, namanya Sanggradi. Ini resto es krim yang tua banget,  
konon sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 

Nah dialog soal pembuatan es krim di zaman dulu kala seperti ditulis Andy 
(Fajar Handika) ada yang kurang tuh..hehehheheee

Saya kan bilang pada zaman Kaisar Nero dan raja-raja Romawi zaman doeloe kala, 
mereka mendatangkan balok-balok es dari pegunungan terdekat atau Kutub Utara. 
Saya pernah baca, es tersebut diserut lalu dikasih sirup aneka rasa. Lalu ada 
proses pencampuran dengan bahan lain seperti susu, dll.

Nah, ini dia nemu dari sebuah blog tentang sejarah es krim:

Laporan paling tua yang mengisahkan tentang orang-orang yang sudah menikmati 
hidangan pencuci mulut ini berasal dari masa Romawi dan China kuno. Marco Polo 
kembali dari ekspedisinya yang terkenal itu sambil membawa es rasa buah, dan 
melaporkan bahwa orang-orang Asia sudah membuatnya selama ribuan tahun.


Makanan lezat ini menjadi terkenal di Perancis di tahun 1500-an, tapi hanya 
terbatas di lingkungan bangsawan dan keluarga kerajaan saja. Setelah berabad 
kemudian, proses pembikinan es krim meliputi pengambilan es dari pegunungan 
sampai dengan metode penggaraman. Krim pada awalnya diperkenalkan sebagai 
penambah rasa, dan sekitar tahun 1700-an, orang sudah menikmati hidangan 
pencuci mulut yang mirip dengan es krim model sekarang ini.

Termos jinjing es krim pertama kali dikembangkan oleh Nancy Johnson pada tahun 
1846. Es tersedia selalu di gudang-gudang besar di masa itu, jadi es krim bisa 
dinikmati oleh semua kalangan pada masa itu, bukan hanya orang kaya saja. Cara 
pembuatan es krim mengalama revolusi lagi pada tahun 1851, ketika Jacob Fussel 
memulai pengoperasian pabrik es krim pertama di Baltimore, Maryland. Sebenarnya 
hal ini berawal dari bisnis produk olahan susu, bisnis Fussel ini mengalami 
kelebihan krim dan dia tidak bisa menemukan cara bagaimana memecahkannya. 
Kemudian dia mencoba untuk membikin es dari krim ini, kemudian malah ternyata 
menjadi bisnis utamanya.



Bisnis ini kemudian berkembang selama beberapa puluh tahun. Metode-metode 
pembuatan dan aneka tambahan rasa mulai berkembang, dan teknologi pembekuan 
semakin murah dan efisien. Di tahun 1920-an, kulkas dan freezer rumahan semakin 
umum, ini berarti semakin mempercepat perkembangan industri es krim. Gula 
dijatah oleh pemerintah Amerika selama Perang Dunia I, tetapi pengusaha es krim 
berhasil meyakinkan pemerintah AS bahwa es krim adalah "makanan pokok", 
hasilnya adalah pabrik es krim mendapat jatah alokasi gula dan produksi tetap 
berlanjut.




Siapakah yang menemukan es krim Cone?
Penemuan es krim cone memang kontroversial. Seorang imigran Italia yang bernama 
Italo Marchiony mempunyai klaim yang paling kuat karena dia mempunyai hak paten 
mesin pencetak es krim cone sebelum yang lain punya ide yang sama. Tetapi, 
sebenrnya orang Perancis dulu makan es krim dengan gelas kue atau cone jauh 
sebelum orang Amerika menemukan es krim cone.

Es krim cone memulai debutnya pada tahun 1904 di Louisiana Purchase Exposition 
di St. Louis, Missouri (lebih sering disebut sebagai 1904 St. Louis Fair). Ada 
legenda yang saling bertentangan tentang siapa saja pembuat kue waffle yang 
memulai menjual kue waffle lipat kepada penjual es krim karena penjual es krim 
kehabisan piring. Karena hal tersebut, pembuat kue waffle dan penjual es krim 
menjadi banyak sekali, dan ide tentang makan es krim mengunakan kue wafel yang 
berbentuk kerucut mulai jadi trend disana.


Es krim mengalami lonjakan popularitas sampai tahun-tahun depresi yang 
menyebabkan jatuhnya penjualan non-bahan-bahan pokok. Penjualan kembali 
meningkat di tahun-tahun menuju PD II sebelum kembali turun di tahun-tahun 
sesudah PD II. Kebangkitan supermarket raksasa menciptakan permintaan es krim 
yang lebih murah, produk-masal, tapi berkualitas rendah. Di tahun 1960-an 
tercatat adanya kebangkitan es krim "premium" , sedangkan pada dekade-dekade 
setelahnya menunjukkan pasar terbagi menjadi es krim berkadar lemak rendah 
untuk alasan kesehatan, termasuk yogurt beku,es krim berbentuk batang berasa 
buah-buahan, es susu,es krim bebas lemak, dan berlusin-lusin variasi es krim 
lainnya. Bagaimanapun, es krim masih menguasai 60 persen pasar makanan beku. 





  ----- Original Message ----- 
  From: Winardani, Gati 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, May 30, 2008 11:37 AM
  Subject: RE: [bango-mania] Tragedi Yangko Kacang - the spin off (Oldies Ice 
Cream Store)


  Kedai ice creamnya Sanggrandi bukan??
  Bangkunya juga model jaman kumpeni khan?
  Enak tenan rek, di Kelapa Gading dulu kayaknya ada deh, sekarang gak tau apa 
masih ada...
  Kalo yang di Veteran juga ada, Ragussa namanya, katanya sih lebih enak dari 
Sanggrandi


  -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
[EMAIL PROTECTED]
  Sent: 30 May 2008 11:17
  To: [email protected]
  Subject: Re: [bango-mania] Tragedi Yangko Kacang - the spin off (Oldies Ice 
Cream Store)

  Import dari kutub utara? Haha... Sorry, bercanda! 
  Sent from my BlackBerry® wireless device

  -----Original Message-----
  From: Fajar Handika <[EMAIL PROTECTED]>

  Date: Fri, 30 May 2008 11:18:47 
  To:[email protected]
  Subject: Re: [bango-mania] Tragedi Yangko Kacang - the spin off (Oldies Ice 
Cream Store)

  Wah,

  Jebul saya 'dirasani' to.. 

  Sedikit cerita tentang hotel Garden Palace ini, di dekatnya ada kedai ice 
cream. Namanya adalah... (aduh, lupa!) Mungkin mas Radityo masih ingat, karena 
beliau yang mengajak saya kesitu. Ada satu lagi yang ikut bernama Mbak Sari, 
yaitu rekan satu team mas Radityo dari Jakarta.

  Nah, menurut penjelasan Radityo, tokoh kita satu ini, kedai ice cream ini 
berdiri sejak jaman belanda. Begitu duduk di kursinya yang berwarna merah, 
terjadi percakapan berikut:

  Saya (A):  "Mas radit, ini kan berdiri dari jaman belanda. Kalo orang jaman 
dulu itu bikin ice cream caranya gimana ya?"
  Radityo (R):  "Diputer gitu, sama kayak cara bikin es puter. Jadi bahan ice 
creamnya ditaroh di tengah trus digenjot, sama kayak yang jualan es puter itu 
lho"
  A : "Trus kok bisa jadi dingin?"
  Sari (S) : "Ya tetep pake es balok.."
  R : "Iya betul, tetep pake es balok biar ice creamnya jadi dingin"

  Tiba tiba ada seorang kakek datang, berumur (pastinya) lebih dari 80 tahun, 
dengan dandanan dandy (pada masanya) dan tongkat, mengingatkan saya pada sosok 
milioner dalam film Jurassic Park (dia yang punya Park-nya)

  R: "Nah, itu tuh yang punya kedai ini.."
  A: "Masak sih mas? Emang mas radit kenal?"
  R: "Iya bener, tuh kan udah tua banget.."
  S: "Ah mas Radit nih, sotoy banget sih!"

  Pesanan saya, ice cream dengan topping rum datang (duh, namanya apa ya?), 
dianterin oleh waitress nya.

  R: "Makasih ya mbak.., Eh mbak, itu yang punya sini kan yah?"
  Waitress: "Yang mana pak?"
  R: "Itu tuh, yang pake tongkat"
  W: "Ah bukan pak."
  R: "Masak sih mbak, trus itu siapa?" (kekeuh+ngeyel euy!)
  W: "Ya itu cuman tamu langgganan kita aja"
  S: "Tuuu kannn, dasar Sotoy" (sok tau, red.)
  A: ".................."

  Nah, kami bertiga mulai mencicipi ice creamnya, nyem nyem.. enuak..
  Tapi..
  Duh! Rum nya kenceng banget yak!
  Gile ini ice cream, makan kebanyakan bisa tinggi nih!

  A: "Mas radit, sekarang bikin ice creamnya gimana yah? Kayaknya aku lihat 
udah ada ice cream modern model Wall's di belakang tuh.."
  R: "Ya sekarang udah modern lah pasti, udah pake ice cream maker"
  A: "Trus jaman dulu itu, kan tadi katanya digenjot macam es puter, 
pendinginnya pake es balok. Lha bikin es baloknya gimana?"
  R: "........."
  S: ".........."

  Mereka menatap sebal kepada saya, seakan mau bilang: "Crewet amat sih!"

  Hahahaha...
  Nah, sampai sekarang yang jadi pertanyaan saya adalah, Di jaman dulu, sebelum 
ada listrik, bagaimanakah membuat es?"

  Adakah miliser yang bisa menjawabnya?

  Regards,
  Andy.

  On May 29, 2008, at 4:44 PM, mediacare wrote:

  
<http://kecap-bango.blogspot.com/2008/05/yangko-kacang-khas-kota-gede-yogyakarta.html>
 Tragedi Yangko Kacang

  Pada saat berlangsung Festival Jajanan Bango 2008 di Surabaya 
<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di-surabaya!overlay>  pada 10 
Mei lalu, hadir pula Fajar Handika, Bangomania asal Jogja. Ia menginap bersama 
rombongan Bangomania dari Jakarta di Hotel Garden Palace.

  Tak lupa ia menenteng oleh-oleh khas Jogja dalam kemasan khusus. Entah apa 
isinya. Menurut rencana, ia akan berbagi kuliner dengan Bangomania lainnya di 
ajang FJB. Kalau ada yang mau beli, silakan.

  Sabtu pagi, Raka dan Raki Surabaya mampir ke hotel, ikut sarapan pagi sembari 
briefing. Menyusul Manda "Si Jago Makan" juga nongol, menawarkan diri untuk 
beli jajanan pasar buat konsumsi media briefing. Ditawari sarapan nggak mau, 
ditawari minum ogah, katanya sudah kenyang (mungkin dia puasa seminggu lamanya 
khusus buat menyambut FJB, siapa tahu?)
  Akhirnya, Manda cabut ke toko kue Bikang ditemani Ferry.

  Usai ngobrol kesana-kemari sembari merokok dan ngopi, akhirnya kami 
berkemas-kemas untuk berangkat menuju Stadion Brawijaya. Berbagai macam barang 
kami bawa, karena kalau sampai ada yang tertinggal bisa kacau acara.

  Setiba di lokasi, Andy (nama panggilan Fajar Handika) baru sadar kalau 
oleh-oleh yang ia tenteng dari Jogja tertinggal di coffee shop. Hebohlah ia. 
Berkali-kali ia menelepon ke hotel untuk menanyakan tentengannya yang 
tertinggal. Pihak hotel belum berhasil menemukannya.
  Ia nampak kecewa.

  Karena acara akan dimulai dan kami sibuk untuk mempersiapkan Tenda Media, 
salah satu dari kami tak bisa mengantarnya untuk kembali ke hotel. Gegap 
gempita dan ramainya suasana FJB, membuat Andy melupakan sejenak soal paket 
oleh-olehnya itu. Ia rupanya cukup sibuk berburu kuliner.

  Pada pukul 3 siang, barulah kami kembali ke hotel. Setiba di hotel, Andy 
langsung berjalan menuju coffee shop. Setelah bertanya kesana-kemari, dos itu 
akhirnya ditemukan. Legalah ia.
  Daripada dibawa pulang kembali ke Jogja, dos berisi oleh-oleh diberikan 
kepada saya (padahal saya yang minta...hehehehehehe...).

  Esok harinya saya buka dos tersebut. Wow, ternyata isinya beraneka ragam. Ada 
Yangko Kacang, Bakpia Pathok, Kumbu, dan Ampyang. Wah semua serba manis 
tentunya. Saya lalu kepikiran untuk mengirimkan Ampyang ke Oom Naratama di 
States. Tapi setelah dipikir-pikir ongkos kirimnya kok mahal. Ya batal 
sudah....dan Ampyang yang bernasib malang itu pindah ke perut teman-teman.

  Berikut saya ketikkan dari dos kemasan Yangko Kacang: 
  _______________________________

  Yangko Kacang
  Makanan khas Kota Gede, Yogyakarta (DIY)

  Cocok untuk oleh-oleh 
<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/cocok-untuk-oleholeh!overlay> . 
Harum, manis, lezat.

  Terbuat dari beras ketan, gula, dan kacang tanah.

  Yangko Kacang Merk SML
  Penyalur resmi Toko Bakpia Pathok 25
  Jl. AIP II KS Tubun No 65,
  Yogyakarta

  Telp: (0274) 512-219

  P. IRT No 306347101015Sphere: Related Content 
<http://www.sphere.com/search?q=sphereit:http://kecap-bango.blogspot.com/2008/05/yangko-kacang-khas-kota-gede-yogyakarta.html>
 

  di 1:54 AM 
<http://kecap-bango.blogspot.com/2008/05/yangko-kacang-khas-kota-gede-yogyakarta.html>
  0 komentar 
<http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1386765629325794664&amp;postID=6582550171382479835&amp;isPopup=true>
   
<http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=1386765629325794664&amp;postID=6582550171382479835>
    
<http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1386765629325794664&amp;postID=6582550171382479835>
  Link ke posting ini 
<http://kecap-bango.blogspot.com/2008/05/yangko-kacang-khas-kota-gede-yogyakarta.html#links>
 
  Label: yangko kacang <http://kecap-bango.blogspot.com/search/label/yangko 
kacang> 


  ------------------------------------

  http://kecap-bango.blogspot.comYahoo! Groups Links



   

Kirim email ke