aduhhhh...isin aku. Ampun Mas Radit *berlutut

mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                
       Catatan si Jago Makan: Tuntutan Profesi atau Perut?   
  Hampir tiap hari makan bakso. Ini seperti sudah menjadi ritual  wajib. 
Setelah bakso baru bebek. Meski tak separah bakso, menu yang satu ini  cukup 
membuatnya tak bisa berpaling. Paling tidak seminggu sekali. Lalu Mi Ayam,  
Soto Madura, Sate Kelapa, Rawon Setan, Pecel, dan mungkin masih banyak yang  
lain.

 
 Dalam sehari bisa makan sampai 6 kali. �Eh, nggak ding,  kadang ampe 7,� 
ia meralatnya. Belum sempat saya menuntaskan keheranan saya,  ia menambahkan 
�Jangan salah, ada ngemil-nya juga. Bakso, Pangsit,  Siomay, Rujak� Ya 
ampun�.bener-bener doyan makan ini orang!!!

 Namanya Manda Roosa. Tapi lebih dikenal dengan panggilan  �Mendol�. 
Lengkapnya La Mendol. Sekilas nama ini seperti diambil dari bahasa  Italia. 
Tapi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Penjelasan lebih  detailnya 
di sini.

 �Nama Mendol adalah nama pemberian Mbah Kakung saya. Ini nama  panggilan di 
keluarga dan saudara-saudara. Nama Mendol, merujuk pada makanan  khas dari 
olahan tempe bosok, yang bentuknya padat seperti  pembawaan saya,� jelasnya.

 Baiklah, untuk lebih mengakrabkan, saya akan panggil pemilik  blog 
jagomakan.blogspot.com ini dengan nama Mendol. Isi blognya  apalagi kalau bukan 
soal makan, urusan yang tak jauh dari perut. Ada Puding,  Nasi Goreng, Donat, 
Durian, Pecel, Bakso Bakar, Pecel Terong, dan masih banyak  menu-menu lainnya.

 Sepertinya ibu satu anak ini doyan banyak jenis makanan.  Setelah saya desak, 
ia membeberkan makanan yang menjadi pantangannya. Ada dua jenis makanan yang  
membuatnya bergidik, yaitu jika dia disuguhi Udang dan Lobster. Ada apa  
gerangan?

 �Soal yang tidak suka, ini bukan masalah selera. Tapi saya  punya alergi 
sama yang namanya udang dan lobster,� jawabnya memberi  alasan.

 �Wueh..kalau ada acara food taster, teman wartawan  suka ngerjain saya 
dengan memesan menu ini. Dan mereka tertawa puas,  ketika saya cuman bisa 
ngiler ngeliatin,� tambahnya.

 Manda adalah seorang jurnalis, spesialis menulis masalah  kuliner. Ia bekerja 
untuk Majalah East Java  Traveler dan Majalah Surabaya City Guide, dua unit 
usaha dari Mossaik Communications yang berada  di bawah manajemen Suara 
Surabaya Media.  

 Jelas saja pengalaman dan pengetahuannya soal dunia kuliner  ini sudah tak 
diragukan lagi. Bagaimana tidak, selain memang sebagai jurnalis  kuliner, sudah 
jauh hari, atau istilah arek Surabaya, �sudah dari sono�-nya ia punya  
kegemaran mencicipi makanan-makanan enak.

 �Blog ini sebenarnya merupakan behind the scene, dari  liputan saya. Di sini 
bisa dilihat perjuangan saya bangun pagi-pagi untuk  nongkrongin penjual sate 
kelapa. Atau cerita,di mana saya terpaksa menelan bulat-bulat makanan yang  
pedas, sekedar membahagiakan si pemiliknya. Atau sekedar berbagi informasi  
bagaimana nasib akhir sebuah  donat yang sudah tidak laku. Semuanya adalah 
cerita-cerita yang tidak  mungkin saya ungkap di majalah karena lebih ke 
pengalaman personal,� jelasnya  tentang ihwal pembuatan blognya yang rame 
dikunjungi para blogger  itu.

Sejak awal Manda memfokuskan blognya hanya menceritakan masalah  kuliner. Dia 
mengangankan blognya ini kelak bisa menjadi rujukan bagi siapa saja  yang ingin 
sharing atau mencari informasi tentang pusaka kuliner di  nusantara dan 
sekaligus untuk turut melestarikan makanan khas  daerah.

Usahanya mengasuh blog kuliner itu telah membuahkan  hasil. Bulan Mei lalu, 
Manda dinobatkan sebagai maskot Partai Komunitas Bango Mania (KoBaMa),  yang 
simpatisannya direkrut dari kalangan yang doyan jajan. Selamat ya, siapa  tahu 
jika kelak partai ini bisa maju dalam pemilu mendatang, Manda bisa  diusulkan 
menjadi Menteri Urusan Pangan!

 Berkah lainnya, Manda pernah diundang oleh salah seorang  pemilik resto yang 
membaca blognya. Ia diundang untuk mencicipi dan makan  gratis, sebagai 
imbalannya, ia punya kewajiban moral untuk menulis laporannya di  blog.

 �Itulah kenapa saya menulis di profile saya. Kuli tinta yang  menemukan 
surga dunia di dalam pekerjaannya sebagai jurmalis kuliner. Hampir  setiap 
datang liputan, saya selalu disuguhi makanan yang ujung-ujungnya gratis  bahkan 
dibawakan oleh-oleh. Yang exciting, saya pernah makan steak  yang harganya 
setengah juta� Gratisss. Pernah  dibungkusin 12 bungkus pecel, karena 
penjualnya suka sekali diliput.  Satu besek besar  jenang dodol, bahkan sampai 
pernah keracunan cokelat  gara-gara saya habisin sendiri dua kotak besar 
cokelat. Tapi nggak  bakal kapok kok....hehehe�.

 Jika banyak orang yang menjalani profesi karena tuntutan  kebutuhan, lain 
halnya dengan Manda. Ia mendapatkan profesi yang klop dengan  hobi. Makanya ia 
kerap memesan menu tambahan di luar jatahnya sebagai  taster. Manda masih 
berbaik hati, oleh-olehnya hasil perburuannya  sebagian ia bagi-bagikan ke 
rekan-rekan kerjanya di kantor.

 Namun karena kegemaran makan bukan hanya berlaku ketika dia  menjalankan 
tugasnya sebagai jurnalis kuliner, tapi juga dalam kehidupannya  sehari-hari, 
diakuinya sebagian gaji habis untuk urusan yang satu ini. Kalau  sudah begini, 
apakah ini layak disebut berkah atau musibah. Entahlah, toh  suaminya tak 
terganggu akan porsi makan istrinya yang berlebih, bahkan sebagian  gajinya 
yang dihabiskannya untuk kesenangannya itu.

 Di luar kesibukannya sebagai jurnalis kuliner dan mengurus  keluarga, tak 
disangka ia masih sempat menjadi pengajar di sebuah sekolah  modeling. Haaa? 
Bagaimana ceritanya, apa dia pernah menjadi  model?

 �Iya, Model Galian Kendor, puass!!!,� jawabnya seperti meniru  Tukul yang 
tengah membalas olok-olok dari audiens. Bukan ia membela, tapi malah  
mempertegas olokan itu.

 �Ngajar dan kuliner memang punya persamaan. Sama-sama urusan  perut.,� 
jawabnya penuh canda.

 Ternyata ujung-ujungnya perut juga. Dasar si Jago Makan!  
 

  Posted by  udin at 12:57 PM     
 Friday, May 09, 2008  
 Labels:  Resensi 
 


  0 comments:   Post a Comment 
   Links to this post Create a  Link 




 Newer Post Older Post Home 
 
  Subscribe to: Post Comments (Atom)  
  
 Blog: UDIN
  
 





 
 
     
                                       

       

Kirim email ke