Wah... mba hani suka juga ya??
aku doyan banget makan disitu..
tapi klo mau makan bebek yg potong 4 yg enak dan gurrihh banget 
ada di harapan baru, dari kranji naik fly over trus belok kiri..
tapi ga masuk perumahan-nya tapi ke kiri abis.. trus sebelum kolong 
jembatan belok kanan.. susurin aja jalan itu, klo ga salah nama daerahnya 
rawa bebek ya??
tempat makan ada di sebelah kanan, warungnya bercat hijau, dan posisinya 
lebih tinggi dari jalan..
nama warungnya aku lupa, tapi disitu memang deretan rumah orang2 madura..

Bebeknya empuk, sambelnya juga pedes manis..
sepotongnya dulu 7000, ga tau deh setelah BBM naik

Happy hunting


Kindest Regards,
Lini W. Efrico
Marketing Department
PT. Yamaha Motor Electronics Indonesia
Phone : 021-898-1234
Fax  : 021-898-1194



haniatul musliha <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
06/03/2008 08:42 AM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
Re: [bango-mania] Nasi Bebek






klendernya sebelah mana mas Chris?
di bekasi jg ada, namanya nasi bebek Bu ella, tepatnya di Pekayon. Rame 
bener, pdhl tmptnya gitu doang, tp masakannya enak, bebek bgt deh.....


----- Original Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, June 3, 2008 7:51:06 AM
Subject: [bango-mania] Nasi Bebek

Permisi....aku mo ikutan yaaaa
ad yang suka makan nasi bebek gak ya?
kalo ada yang suka makan nasi bebek, didaerah kelender jakarta timur
itu ada penjual nasi bebek yang lumayan enak deh..harga gak mahal seporsi
cuma 7ribuan tapi rasanya hemmmmm puedesssnya maknyussss
yang mo coba dateng aja deh, tempatnya sih gak bagus cuma warung biasa
tapi yang ngantri wehhhh...liat sendiri dehhh
untuk semua selamat mencoba yaaaa
 
----- Original Message ----- 
From: manda prayogo 
To: bango-mania@ yahoogroups. com 
Sent: Monday, June 02, 2008 6:02 PM
Subject: [bango-mania] Model Galian Kendor

aduhhhh...isin aku. Ampun Mas Radit *berlutut

mediacare <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote: 
Catatan si Jago Makan: Tuntutan Profesi atau Perut? 
Hampir tiap hari makan bakso. Ini seperti sudah menjadi ritual wajib. 
Setelah bakso baru bebek. Meski tak separah bakso, menu yang satu ini 
cukup membuatnya tak bisa berpaling. Paling tidak seminggu sekali. Lalu Mi 
Ayam, Soto Madura, Sate Kelapa, Rawon Setan, Pecel, dan mungkin masih 
banyak yang lain.
Dalam sehari bisa makan sampai 6 kali. �Eh, nggak ding, kadang ampe 7
,� ia meralatnya. Belum sempat saya menuntaskan keheranan saya, ia 
menambahkan �Jangan salah, ada ngemil-nya juga. Bakso, Pangsit, Siomay, 
Rujak� Ya ampun�.bener- bener doyan makan ini orang!!!
Namanya Manda Roosa. Tapi lebih dikenal dengan panggilan �Mendol�. 
Lengkapnya La Mendol. Sekilas nama ini seperti diambil dari bahasa Italia. 
Tapi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Penjelasan lebih 
detailnya di sini.
�Nama Mendol adalah nama pemberian Mbah Kakung saya. Ini nama panggilan 
di keluarga dan saudara-saudara. Nama Mendol, merujuk pada makanan khas 
dari olahan tempe bosok, yang bentuknya padat seperti pembawaan saya,� 
jelasnya.
Baiklah, untuk lebih mengakrabkan, saya akan panggil pemilik blog 
jagomakan.blogspot. com ini dengan nama Mendol. Isi blognya apalagi kalau 
bukan soal makan, urusan yang tak jauh dari perut. Ada Puding, Nasi 
Goreng, Donat, Durian, Pecel, Bakso Bakar, Pecel Terong, dan masih banyak 
menu-menu lainnya.
Sepertinya ibu satu anak ini doyan banyak jenis makanan. Setelah saya 
desak, ia membeberkan makanan yang menjadi pantangannya. Ada dua jenis 
makanan yang membuatnya bergidik, yaitu jika dia disuguhi Udang dan 
Lobster. Ada apa gerangan?
�Soal yang tidak suka, ini bukan masalah selera. Tapi saya punya alergi 
sama yang namanya udang dan lobster,� jawabnya memberi alasan.
�Wueh..kalau ada acara food taster, teman wartawan suka ngerjain saya 
dengan memesan menu ini. Dan mereka tertawa puas, ketika saya cuman bisa 
ngiler ngeliatin,� tambahnya.
Manda adalah seorang jurnalis, spesialis menulis masalah kuliner. Ia 
bekerja untuk Majalah East Java Traveler dan Majalah Surabaya City Guide, 
dua unit usaha dari Mossaik Communications yang berada di bawah manajemen 
Suara Surabaya Media. 
Jelas saja pengalaman dan pengetahuannya soal dunia kuliner ini sudah tak 
diragukan lagi. Bagaimana tidak, selain memang sebagai jurnalis kuliner, 
sudah jauh hari, atau istilah arek Surabaya , �sudah dari sono�-nya ia 
punya kegemaran mencicipi makanan-makanan enak.
�Blog ini sebenarnya merupakan behind the scene, dari liputan saya. Di 
sini bisa dilihat perjuangan saya bangun pagi-pagi untuk nongkrongin 
penjual sate kelapa. Atau cerita,di mana saya terpaksa menelan bulat-bulat 
makanan yang pedas, sekedar membahagiakan si pemiliknya. Atau sekedar 
berbagi informasi bagaimana nasib akhir sebuah donat yang sudah tidak 
laku. Semuanya adalah cerita-cerita yang tidak mungkin saya ungkap di 
majalah karena lebih ke pengalaman personal,� jelasnya tentang ihwal 
pembuatan blognya yang rame dikunjungi para blogger itu.

Sejak awal Manda memfokuskan blognya hanya menceritakan masalah kuliner. 
Dia mengangankan blognya ini kelak bisa menjadi rujukan bagi siapa saja 
yang ingin sharing atau mencari informasi tentang pusaka kuliner di 
nusantara dan sekaligus untuk turut melestarikan makanan khas daerah.

Usahanya mengasuh blog kuliner itu telah membuahkan hasil. Bulan Mei lalu, 
Manda dinobatkan sebagai maskot Partai Komunitas Bango Mania (KoBaMa), 
yang simpatisannya direkrut dari kalangan yang doyan jajan. Selamat ya, 
siapa tahu jika kelak partai ini bisa maju dalam pemilu mendatang, Manda 
bisa diusulkan menjadi Menteri Urusan Pangan!
Berkah lainnya, Manda pernah diundang oleh salah seorang pemilik resto 
yang membaca blognya. Ia diundang untuk mencicipi dan makan gratis, 
sebagai imbalannya, ia punya kewajiban moral untuk menulis laporannya di 
blog.
�Itulah kenapa saya menulis di profile saya. Kuli tinta yang menemukan 
surga dunia di dalam pekerjaannya sebagai jurmalis kuliner. Hampir setiap 
datang liputan, saya selalu disuguhi makanan yang ujung-ujungnya gratis 
bahkan dibawakan oleh-oleh. Yang exciting, saya pernah makan steak yang 
harganya setengah juta� Gratisss. Pernah dibungkusin 12 bungkus pecel, 
karena penjualnya suka sekali diliput. Satu besek besar jenang dodol, 
bahkan sampai pernah keracunan cokelat gara-gara saya habisin sendiri dua 
kotak besar cokelat. Tapi nggak bakal kapok kok....hehehe� .
Jika banyak orang yang menjalani profesi karena tuntutan kebutuhan, lain 
halnya dengan Manda. Ia mendapatkan profesi yang klop dengan hobi. Makanya 
ia kerap memesan menu tambahan di luar jatahnya sebagai taster. Manda 
masih berbaik hati, oleh-olehnya hasil perburuannya sebagian ia 
bagi-bagikan ke rekan-rekan kerjanya di kantor.
Namun karena kegemaran makan bukan hanya berlaku ketika dia menjalankan 
tugasnya sebagai jurnalis kuliner, tapi juga dalam kehidupannya 
sehari-hari, diakuinya sebagian gaji habis untuk urusan yang satu ini. 
Kalau sudah begini, apakah ini layak disebut berkah atau musibah. 
Entahlah, toh suaminya tak terganggu akan porsi makan istrinya yang 
berlebih, bahkan sebagian gajinya yang dihabiskannya untuk kesenangannya 
itu.
Di luar kesibukannya sebagai jurnalis kuliner dan mengurus keluarga, tak 
disangka ia masih sempat menjadi pengajar di sebuah sekolah modeling. 
Haaa? Bagaimana ceritanya, apa dia pernah menjadi model?
�Iya, Model Galian endor, puass!!!,� jawabnya seperti meniru Tukul 
yang tengah membalas olok-olok dari audiens. Bukan ia membela, tapi malah 
mempertegas olokan itu.
�Ngajar dan kuliner memang punya persamaan. Sama-sama urusan perut.,� 
jawabnya penuh canda.
Ternyata ujung-ujungnya perut juga. Dasar si Jago Makan! 
Posted by udin at 12:57 PM  
Friday, May 09, 2008
 
Labels: Resensi 
0 comments: 
Post a Comment 
Links to this post
Create a Link 
Newer Post Older Post Home 
Subscribe to: Post Comments (Atom) 
 
Blog: UDIN
 
 


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.24.4/1477 - Release Date: 6/1/2008 
5:28 PM

 

Kirim email ke