Bejo : "Pesan 1 coto makassar, ngga pakai kupat ya mas.. Sama
satu bir dingin."
Waiter 1: "Ok pak."
"Satu coto makassar ga pake kupat, sama bir!" Teriak waiter
tersebut ke dapur.
........................................(selang beberapa waktu)
Waiter 2: "Ini pak, pesanannya. Oh ya, ini billnya."
Bejo : "Hah! Kok coto makassarnya garing gini? Trus kok belum
juga makan udah dikasih bill?"
Waiter 2: "Lho, kata kokinya bapak pesen coto makassar ngga
pakai kuah, trus sekalian minta billnya.."
Bejo : "Grrrrr..."
Familiar dengan kejadian (yang mirip-mirip) diatas? Ini bisa saja
terjadi ketika restoran tempat bejo makan ini ngga pake sistem
pencatatan yang baik.
Ketika anda bersantap diluar, pastilah pernah berhubungan dengan
captain order (CO), walaupun mungkin asing dengan namanya. Ini adalah
benda yang selalu dibawa oleh waiter di warung atau restoran yang
sudah agak modern. Kadang hanya disebut sebagai nota, atau 'kertas
catatan'. Biasanya berbentuk blocknote, dan rangkap dua.
Ada banyak fungsi dan bentuk dari CO ini. Fungsi utamanya adalah
untuk mencatat pesanan, dan meneruskan pesanan dari pelanggan ke
dapur dan ke kasir. Di dapur, koki akan melihat pesanan dan membuat
masakan berdasarkan captain order tersebut, sedangkan kasir bertugas
untuk menghitung harga yang harus dibayar oleh pelanggan. Kadang CO
berfungsi juga sebagai nota, atau bill yang berisi rincian harga yang
kemudian diberikan ke pelanggan sebagai tanda terima.
Sebagian restoran memilih untuk menyerahkan CO ke pelanggan untuk
menuliskan langsung pesanan. Sebagian mengharuskan pelayan yang
mencatat pesanan dari pelanggan. Lain lagi dengan Rumah Makan Padang.
Mereka menggunakannya untuk mencatat pesanan setelah kita selesai
makan, baru dihitung di kasir.
Nah, apa yang terjadi kalau misalnya sebuah restoran mempunyai dapur,
bar, dan kasir yang terpisah?
Yup, CO nya menjadi rangkap tiga. Rangkap pertama diberikan ke dapur,
untuk ngasih tau chef makanan apa yang dipesan, rangkap kedua
diberikan ke bar untuk minumannya, dan satunya ke kasir untuk
pencatatan. Masalah selesai.
Oh ya?
Bagaimana kalau sebuah restoran punya dapur untuk pastry atau
dessert, dapur untuk makanan maincourse, bar khusus untuk liqueur,
dan bar untuk minuman biasa? Atau jika restoran ini punya bar di
lantai dua, dan dapur di lantai satu? Waiternya naik turun tangga
dong? Kalo restoran sangat ramai gimana?
Yak.. Saatnya pemilik restoran sudah harus memikirkan implementasi
teknologi digital ketika menghadapi skenario diatas. Cash register
saja tentunya tidak cukup, karena keterbatasan hardware dan software
didalamnya.
"Bukankah teknologi digital mahal? Berapa ribu dollar yang harus
saya bayar ketika mengimplementasikan di restoran saya?"
Mahal tidaknya tentu relatif. Pikirkanlah tentang biaya SDM yang bisa
membengkak ketika restoran ramai, dan banyak waktu serta tenaga
karyawan terbuang hanya untuk mondar-mandir dan naik-turun tangga,
menyerahkan CO ke dapur/bar/kasir. Belum lagi ditambah kasus-kasus
yang terjadi ketika masih menggunakan sistem manual. Bisakah
dipastikan tulisan tangan waiter A dapat dibaca oleh koki B,
bartender C, dan kasir D tanpa kesalahan? Dan berapa banyak kita
harus membayar percetakan untuk CO yang berangkap-rangkap tadi?
Ketika kita pemilik restoran mengimplementasikan teknologi
digital dalam sistemnya, maka benefit yang didapat adalah:
1. Efisiensi SDM.
2. Cost cutting pembuatan CO.
3. Minimalisasi human error.
Itu saja?
Tentu tidak. Akan ada data penjualan yang detil, berdasarkan waktu
dan jenis makanan yang terjual. Pemilik/manager bisa menganalisa
berapa jumlah tamu yang datang dalam kurun waktu tertentu. Berapa
persenkah penjualan es teh dibanding es jeruk? Restoran paling ramai
di jam berapa dan hari apa?
Mungkin saja pemilik berencana memberi reward pelanggan tertentu,
bisa saja menganalisa data akan makanan apa yang disukai/paling
sering dipesan oleh pelanggan tersebut, dan kemudian memberikan
surprise gift berupa delivery makanan tersebut. Atau waiter bisa
langsung menyebutkan makanan yang paling disukai oleh pelanggan
berdasarkan database. The possibilities are endless.
Andy.
http://andylicate.wordpress.com
"Kuliner : Bisnis dan Teknologi dibaliknya."
http://www.jogjafoodfest.com
"Mau Makan Apa Hari Ini?"