South To South Film Festival (PARADE FILM LINGKUNGAN)
Komunitas Darmint mengundang Anda untuk hadir dalam acara South To South Film
Festival (PARADE FILM LINGKUNGAN) yang diadakan pada :
Tanggal : 24 dan 25 Juli 2008
Pukul : 20.00 hingga selesai
Tempat : Rumah Darmint Jl. Tebet Utara I No. 8 Jakarta Selatan
GRATIS
Hari pertama : 24 Juli 2008
Sipakapa is Not For Sale
Laut yang Tenggelam
The Lasy Boy Ridding
Hari Kedua : 25 juli 2008
Bye bye Buyat
Hari Esok yang Menghilang
Choropampa, The Price of Gold
Sipakapa is Not For Sale
Director : Álvaro Revenga
Production : Caracol Producciones, Guatemala, November 2005
Durasi 56 menit
Resensi :
Apa saja sih yang sebenarnya terjadi di ujung sana ketika kita disini memakai
emas?
Film ini mengisahkan keresahan masyarakat yang berada di ladang emas dan
perlawanan mereka melawan Montana, sebuah perusahaan tambang emas berskala
besar. Sejak tahun 2005, Montana datang ke Sipakapa, sebuah kota di Guatemala
yang kaya akan kandungan emas. Montana tidak hanya datang untuk mengambil emas
di Sipakapa, tapi juga mencabut hak masyarakat Sipakapa untuk mendapatkan
penghidupan yang layak. Setiap satu jam, kegiatan operasional Montana
menghabiskan air yang bisa dipakai warga Sipakapa selama 22 tahun.
Melihat masa depan kehidupan mereka terancam, warga Sipakapa tidak tinggal diam
dan terus bergerak mempertahankan wilayah mereka dari invasi Montana. Banyak
pengorbanan sepanjang perjuangan mereka. Namun itu semua sepadan dengan apa
yang akan mereka dapatkan kelak.
Laut yang Tenggelam
Sutradara Yuslam Fikri Ansari (Yufik)
Produser Moh Syafari Firdaus
Co-produserHapsari Puspitaningsih
Produser Pelaksana Moh Syafari Firdaus, Hapsari Puspitaningnih
Produksi 2006, Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) bekerja sama dengan
Kantor Bantuan Hukum (KBH) Purwokerto dan Masyarakat Ujung Alang, Kampung Laut,
Sagara Anakan.
Durasi : 94 menit
Resensi :
Laguna Segara Anakan mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang terus
menerus. Akibatnya, penduduk kampung sekitar yang sebelumnya berprofesi sebagai
nelayan harus mencari pekerjaan lain, yang terkadang mereka lakukan sambil
bernyanyi untuk melupakan masalah mereka
The Last Boy Riding
Dir/script/music: Jobin Ballestreros
Camera: Chris Manjares
Cast: Archie R. Adamos, Mario Magallona, Joshua Tecson
Production : Wild Coyote Pictures,Phillipines 2007
Durasi : 17 menit
Resensi :
Apa sih yang akan terjadi dimasa depan?
Sebuah gambaran fiksi tentang kehidupan sehari-hari beberapa warga di Filipina
tertuang dengan menarik pada film ini. Cerita film ini berkisah tentang pilihan
sebuah keluarga mengenai jenis kendaraan mereka. Pada mulanya, hal yang berbeda
ini tentu menjadi masalah besar. Namun kemudian, seiring dengan meningkatnya
suhu udara dan kelangkaan bahan bakar minyak, orang-orang akan tahu siapa yang
masih bisa berkendara sampai terakhir.
By By Buyat
Kang E, Director
Emil Heradi, Videographer
Erwin S, Kang E, Cameraman
Kusen Dony Hermansyah, Taufik Arifianto, Editor
Kelvin Nugroho, Soundman
Mukti-Mukti, Composer
Durasi : 25 menit
Sebuah gambaran perjuangan masyarakat Buyat Pante lepas dari penderitaan,
penyakit aneh dan konflik, yang diakibatkan oleh pembuangan limbah sebuah
perusahaan tambang skala besar. Setelah berjuang dengan berbagai cara ditempuh,
keadilan dan kebenaran tidak datang juga, akhirnya mereka memilih pindah dari
kampung halaman mereka untuk menyelamatkan diri, meninggalkan tempat yang tidak
layak dihuni tersebut.
Film ini adalah hanya salah satu potret kerusakan lingkungan dan sosial di
dunia yang diakibatkan oleh perusahaan pertambangan berskala besar.
Hari Esok yang Menghilang
Production : WALHI
Durasi : 52 menit
Resensi :
Sebuah film puitis tentang ruang hidup orang hutan dan pandangan jauh kedalam
industri penebangan kayu di Indonesia.
Choropampa, The Price of Gold
Ernesto Cabellos, Stephanie Boyd, Director/Producer
Stephanie Boyd, Researcher
Ernesto Cabellos, Cameraman
Francisco Adrianzen, Stephanie Boyd, Sound-engineer
Ernesto Cabellos, Stephanie Boyd, Editor
Ergardo Castaneda,Additional editing
Durasi : 25 menit
Ini adalah cerita tentang surga Andean yang menawan— yang berubah bencana
setelah terjadinya tumpahan merkuri oleh perusahaan tambang emas terkaya di
dunia. Tambang asal AS tersebut menyatakan situasi terkendali, namun
kenyataannya jauh berbeda. Sedikitnya 900 penduduk mengalami keracunan dan
tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai.
Namun harapan belumlah sirna. Kota itu memilih seorang walikota muda yang
menjanjikan perawatan kesehatan dan kompensasi yang adil bagi para korban
bencana tersebut. Sayangnya, anak petani yang sederhana ini justru mempercayai
para politisi korup, pejabat licik, dan ahli medis tak jujur. Bulan-bulan
ketegangan memuncak pada sebuah pemblokiran jalan yang dramatis, sementara
perpecahan dalam masyarakat mulai muncul. Menggunakan teknik cinema verite dan
arsip materi yang mengejutkan, epik cerita 2 tahun ini mengekspos harga
sesungguhnya dari sebongkah emas.
Produksi : CLIP on Studio (www.cliponstudio.com)