Pak Andi, apakah beliau sekarang masih sehat? great inspiration story...
On Sun, Jul 20, 2008 at 4:55 PM, andi lubis <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kisah teladan yang asik. Ini saya attach foto Mak Paenah. Beliau adalah > sahabat saya. > > salam, > *andi lubis* > www.andilubis.multiply.com > > > --- On *Sun, 7/20/08, mediacare <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [bango-mania] Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel > To: "media sumut" <[EMAIL PROTECTED]>, > [email protected], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "wartawan indonesia" > <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Sunday, July 20, 2008, 2:34 AM > > > *Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel > > Untuk apakah kita hidup?* > > Tanyakanlah ini kepada Mak Paenah yang tiap hari berjualan pecel di depan > Gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut) di Medan. Dalam usianya yang–menurut > pengakuannya– 86 tahun, Mak Paenah masih setia mendorong-dorong kereta > pecelnya demi mengumpulkan rupiah selembar demi selembar dari Rp 1.500 per > pincuk (piring dari daun pisang) pecel jualannya itu. > > Gerobaknya cukup berat dengan dua roda becak yang sering kempis anginnya. > Sebuah topi bambu lebar > menemani tubuh ringkihnya menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumah > cucunya di kawasan Glugur ke Gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol melewati > jalanan aspal yang terik dan ramai. > > Pernah suatu hari Mak Paenah tidak kunjung muncul pada jam makan siang, dan > baru datang berjualan saat matahari sudah sangat condong ke Barat. > > "*Aku diserempet mobil. Iki lho awakku babak bundas (lihat tubuhku babak > belur)*," katanya dalam ujaran yang selalu tercampur dengan bahasa Jawa > kasar. > > Setiap hari, biasanya sekitar pukul 11.00, ia sudah tiba menggelar > dagangannya. Dan, beberapa jam > kemuadian, ia pulang lagi dengan kereta dorongnya yang sudah kosong dan > segepok uang di dalam tas pinggang yang terbuat dari kain batik lusuh. > > Soal berapa banyak uang dalam tas pinggangnya itu, Mak Paenah sering tidak > tahu.Ia memang tidak peduli dapat uang berapa hari itu. Bahkan, sering ada > beberapa lembar ribuan tercecer di bawah kakinya, yang selalu diambilkan > orang lain. Yang ia tahu pasti, ia tidaklah pernah rugi. > > "*Bathi kuwi ora usah okeh-okeh, Serakah jenenge…(kalau untung itu jangan > besar-besar. Serakah namanya..)*," katanya pelan. Tidak serakah ini pula > yang membuat Mak Paenah cenderung royal dalam memberi nasi pecel saat > dagangannya hampir habis. Kata orang, kalau beli di Mak Paenah, sebaiknya > menjelang ia mau pulang. Pasti dapat pecel lebih banyak. > > Dengan keyakinan pasti tidak rugi itu pula, sering Mak Paenah membelikan > rokok untuk orang lain yang tampak memerlukannya. Andi Lubis, fotografer > harian Analisa, Medan, yang perokok berat, beberapa kali diberi rokok oleh > Mak Paenah kalau tampak sedang bengong dan tidak merokok. > > "*Nyoh rokok. Kowe lagi ra nduwe duwit tho? (ini rokok kamu sedang tidak > punya uang yaa?)*" kata Mak Paenah tanpa basa-basi. > > Bagi Mak Paenah, apa salahnya menyisihkan uang untuk menyenangkan orang > lain. Tidak jarang ia berikan pecelnya secara gratis kalau ada yang lapar, > tapi tak punya uang. > > Jadi, untuk apa Mak Paenah berjualan dalam usianya yang sudah sangat senja > itu? Di kota-kota besar, orang-orang yang jauh lebih muda darinya sudah > santai-santai di rumah menikmati uang pensiun bersama cucu-cucu. > > "*Aku bekerja karena memang manusia itu harus bekerja. Aku sakit kalau > nganggur. Menganggur adalah bersahabat dengan setan. Kerja selalu ada kalau > kita mau mencarinya. Jangan mau menganggur, sampai kita mati,*" katanya > seakan ahli filsafat. > > Banyak yang meragukan apakah benar Mak Paenah telah berusia 86 tahun. Tapi, > mendengar beberapa cerita yang sering diuangkapkannya sambil meracik pecel, > apalagi mengamati wajahnya yang selalu teduh itu, kita yakin bahwa > setidaknya ia sudah berusia di atas 80 tahun. Ia pernah bercerita bagaimana > suaminya yang tentara terbunuh dalam perang kemerdekaan, sementara saat itu > anak sulungnya berusia kira-kira belasan tahun. > > Begitu suami meninggal, rasa tanggungjawab untuk menghidupi ketiga anaknya > memaksa Mak Paenah yang lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur, ini berjualan > pecel. Baginya, tidak ada cerita untuk meminta belas kasihan dari orang > lain. > > "*Aku hanya bisa bikin pecel. Jadi, aku mencari makan dengan pecel > ini.Sudah puluhan tahun tanganku bikin sambel pecel. Sampai kapalan mengulek > he..he..*," kata Mak Paenah sambil memamerkan mulutnya yang sudah ompong. > > Mengapa tidak menikah lagi setelah menjanda waktu itu? > > "*Sopo sing gelem karo rondo bakul pecel…lethek. .he..he.. he..(siapa yang > mau dengan janda penjual pecel yang lusuh dan bau)*," katanya terkekeh. > > Tapi, setelah anak-anaknya bisa mandiri, untuk apa uangnya? > > "*Keuntungan penjualan, tiap hari saya simpan di bawah bantal. Uang itu > saya pakai untuk menolong orang kalau ada yang membutuhkannya. Siapa tahun, > kan?*" katanya dengan arif. > > Mak Paenah menceritakan, ia pernah menolong tetangganya yang mendadak > membutuhkan uang. Tetangganya itu tidak menyangka ketika tiba-tiba Mak > Paenah yang hanya berjualan pecel itu mampu meminjaminya uang dalam jumlah > cukup besar, tanpa bunga pula. > > Setiap pagi, Mak Paenah mengambil Rp 15.000 dari simpanannya untuk > berbelanja di Pasar Glugur. Pukul 04.00, ia sudah bangun dan pada pukul > 06.00 ia sudah mulai memasak bumbu-bumbu pecel dan juga sayurannya. > > "*Bangun pagi membuat saya sehat. Tiap hari berbelanja dan menawar juga > membuat saya tidak pikun*," paparnya. > > Dalam usianya itu, Mak Paenah sering membuat kagum orang dengan > kemampuannya mengitung dengan cepat. > > "*Meja ini habis sembilan pincuk. Jadi, tiga belas ribu lima ratus*," > katanya suatu kali saat menagih kepada para wartawan yang makan. > > Pada bulan Juni dan Juli 2002, para wartawan Medan yang biasa mangkal di > depan Gedung DPRD kehilangan Mak Paenah. Dua bulan lebih waita tua itu > menghilang. Banyak yang kuatir kalau-kalau Mak Paenah sakit, atau bahkan > sudah meninggal dunia. Dan, Mak Paenah baru muncul lagi pada akhir Juli. > > Ternyata, Mak Paenah pulang ke Blitar menengok sanak saudaranya. Menurut > dia, semua yang dikenalinya sudah meninggal. > > "*Uangku habis Rp 3,5 juta untuk beli oleh-oleh. Tapi, aku senang bisa > melihat Blitar lagi. Sudah sangat berubah. Aku sama sekali sudah tidak bisa > mengenali tempat mana pun di sana*," katanya dengan mata berbinar-binar > saat membicarakan kota yang ditinggalkannya pada awal tahun 1940-an ini. > > Ketika diingatkan bahwa para wartawan kuatir dengan kepergiannya selama dua > bulan itu, Mak Paenah justru marah. > > "*Kamu yang muda-muda kok tidak punya perasaan. Kan, semua tahu di mana > rumahku. Kalau kuatir, ya mbok menengok ke rumah. Coba, bagaimana kalau saya > sakit betulan? Ya, kan?*" kata Mak Paenah. > > Namun, sejak awal Agustus ini, Mak Paenah menghilang kembali. Setelah > ditengok ke rumahnya, ternyata ia tidak kurang suatu apa. > > "*Aku pindah tempat jualan. Aku ngalah pada yang muda yang lebih perlu > uang*," katanya yang kemudian menimbulkan tanda tanya. > > Ternyata, Mak Paenah kini memilih berjualan di Lapangan Merdeka. Menurut > dia, di depan Gedung DPRD itu sudah muncul seorang saingan. Seorang penjual > pecel yang masih muda dilihatnya selalu berusaha menyainginya dalam merebut > hati pembeli. > > "*Aku tidak ingin bersaing. Rezeki sudah ada yang mengatur. Biarlah aku > yang sudah tua ini pindah*," katanya tanpa emosi. > > *Kompas - Jumat, 16 Agustus 2002* > > > > > -- "A true friend is someone who knows you're a good egg even if you're a little cracked."
