Sebuah pencapaian besar bagi kemitraan antara PT Unilever Indonesia Tbk., 
Universitas Gadjah Mada (UGM) dan para petani kedelai hitam yang telah berjalan 
sejak 2001


PT Unilever Indonesia Tbk, melalui Yayasan Unilever Peduli hari Senin (28/7) 
meluncurkan buku berjudul "Mallika, Jejak Sinergi pada Sebutir Kedele". 
Lahirnya varietas Mallika sebagai bibit unggul nasional menjadi sebuah 
pencapaian besar bagi kemitraan antara Unilever, Universitas Gadjah Mada (UGM) 
dan para petani kedelai hitam. 

Josef Bataona, Human Resources & Corporate Relations Director PT Unilever 
Indonesia, Tbk., menjelaskan buku ini adalah upaya Unilever guna 
mendokumentasikan berbagai kisah menarik di balik kelahiran Mallika, varietas 
kedelai hitam unggulan ke-5 di Indonesia. "Banyak aspek menarik yang bisa 
digali dari Mallika. Mulai dari keunggulan varietasnya, teknik budidaya, hingga 
kemitraan antara sektor bisnis, akademisi, dan petani yang memprakarsai 
kelahirannya," ungkap Josef. Kelahiran Mallika juga memperkaya plasma nutfah 
Indonesia yang selama 15 tahun tidak memiliki varietas unggulan kedelai hitam 
baru.

Josef menambahkan, tujuan dibuatnya buku ini adalah untuk memberikan wacana 
praktis bagi berbagai pihak mengenai bagaimana mengelola sebuah komoditas 
pertanian, sehingga tidak hanya bermanfaat bagi industri namun juga bagi 
petani. "Mallika diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi 
permasalahan yang dihadapi petani dan dunia bisnis. Semoga model ini bisa 
diterapkan juga bagi komoditas pertanian lainnya," tambahnya.

Unilever menggandeng tim penulis dari Yayasan Kehati dan UGM, karena ingin 
semua aspek dapat tercatat dengan baik langsung dari mata para ahlinya. 
Pencapaian luar biasa ini merupakan salah satu bukti keseriusan Unilever dalam 
menjalankan program Pembinaan Petani Kedelai Hitam. "Selama 75 tahun Unilever 
beroperasi di Indonesia, sudah sepantasnyalah perusahaan ini tumbuh dan 
berkembang bersama masyarakat," kata Josef. Unilever berharap buku ini mampu 
menjadi inspirasi bagi kalangan korporasi, pelaku agrobisnis (pertanian), 
berbagai institusi pemerintahan, akademisi, dan para petani. 

Sinta Kaniawati, General Manager Yayasan Unilever Peduli menuturkan ada begitu 
banyak dinamika yang terjadi di balik kelahiran Mallika. UGM sebagai sebuah 
institusi pendidikan, mendedikasikan waktu dan pikiran guna melakukan 
penelitian dan pengujian berkaitan dengan kandungan gizi dan budidaya kedelai 
hitam sehingga akhirnya mendapat pengakuan dari pemerintah. Di sisi lain, Sinta 
menambahkan, Unilever sebagai entitas bisnis berperan sebagai pengguna dan 
penyerap hasil panen, sementara petani berperan sebagai pihak yang 
membudidayakan kedelai hitam di lahan-lahan mereka. "Sinergi ketiga pihak 
inilah yang menjamin kelestarian Mallika sebagai sebuah varietas unggulan. 
Begitu banyak penemuan varietas baru, namun karena tidak didukung oleh 
penggunaan yang tepat lama-kelamaan akhirnya punah," ujar Sinta. 

Buku ini tidak hanya sekadar berbagi informasi tentang penemuan varietas baru 
saja. Butir-butir Mallika bukan hanya merangkum dinamika alam dan pengujian DNA 
dalam proses menemukan varietas baru, namun dalam lingkup yang lebih luas lagi, 
yakni mencakup bisnis dan realita kehidupan petani.

Maka, disinilah hakikat sebuah benih, kekuatan bertahan dan kekuatan bertumbuh, 
representasi dari kerjasama kampus, bisnis dan komunitas petani untuk tumbuh 
bersama dalam kerjasama yang kokoh. "Buku ini bermaksud ikut dalam kekuatan 
bertumbuh dan bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar berbagai pihak dengan 
menggunakan metode kasus dari dinamika Mallika ini", tutup Sinta. 

Mallika telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah, melalui Surat Keputusan 
Menteri Pertanian nomor SK78/Kpts/SR.120/2/2007 pada 7 Februari 2007, sebagai 
bibit kedelai hitam varietas unggul nasional. 

Program pembinaan petani kedelai hitam mulai dilaksanakan Yayasan Unilever 
Peduli bekerjasama dengan UGM sejak 2001. Dalam program ini, Unilever 
mendampingi petani untuk membudidayakan kedelai hitam guna mencapai kualitas 
kedelai hitam yang optimal, menyediakan akses pasar, jaminan harga, dan akses 
finansial, serta memberdayakan kelompok perempuan dalam proses sortasi (pada 
proses pasca panen). Kegiatan ini bermanfaat bagi para ibu untuk menambah 
pendapatan dan mempererat komunitas perempuan di lingkungan mereka. Hingga 
2007, program ini telah melibatkan 6,600 petani di 1,100 hektar lahan. 

Peluncuran dan diskusi buku ini berlangsung di Gudang Gambar, Jl. Antasari, 
Jakarta Selatan, dihadiri oleh Josef Bataona, Human Resources & Corporate 
Relations Director PT Unilever Indonesia Tbk.; Sinta Kaniawati, General Manager 
Yayasan Unilever Peduli; Sjamsoe'oed Sadjad, Ahli Perbenihan IPB; Bustanul 
Arifin, Ahli Ekonomi Pertanian; Sabar Subekti, Penulis; dan Damayanti Buchori, 
Direktur Eksekutif Yayasan Kehati.


Kirim email ke