Menikmati Surga Makanan di Senayan Angelina/Kompas.com Soto Kaki Mencos, salah satu gerai populer di Festival Jajanan Bango /
Senin, 11 Agustus 2008 | 06:50 WIB Salah satu acara yang ditunggu-tunggu masyarakat Jakata, akhirnya datang juga. Ini adalah kesempatan untuk mengajak lidah menjelajahi aneka masakan khas Indonesia. Bertempat di Plasa Selatan Senayan, Festival Jajanan Bango kembali menyajikan beragam makanan yang mampu menyedot animo masyarakat ibukota selama dua hari, 8-9 Agustus. Urusan 'perut' memang selalu menarik, apalagi bagi para pecinta makanan seperti saya. Kesempatan yang tak bisa dilewatkan, meski tahun lalu saya pernah datang ke pesta kuliner ini. Tepat seperti perkiraan, surga kecil makanan di salah satu sudut Jakarta dipadati dipenuhi pengunjung. Padahal acara baru satu jam saja dibuka. Sebelum memilih makanan apa yang akan disantap, saya bersama beberapa teman mengelilingi gerai-gerai makanan satu persatu, untuk membandingkan dengan tahun lalu. Ternyata, tidak banyak yang berubah. Masakan-masakan Jakarta seperti Asinan Ny.Isye dan Gabus Pucung Pak Misan kembali hadir memeriahkan pesta ini. Satu yang berbeda adalah, Bango menyelenggarakan acara khusus, yakni penyajian 80 ekor kambing guling dan dibagikan secara gratis pada pengunjung. Selain bertepatan dengan ulang tahun Bango ke 80, acara ini sekaligus memecahkan rekor MURI. Setelah berkeliling, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Soto Kaki Mencos yang sudah terkenal dikalangan pecinta kaki sapi. Saya sudah lama memasukkan sop kaki ini dalam daftar buruan, tetapi belum sempat mencobanya. Potongan-potongan kaki sapinya sungguh menggoda. Setelah mengantri, akhirnya saya mendapatkan semangkuk soto dengan potongan-potongan kaki di dalamnya. Tak salah pilihan saya. Kaki-kaki ini sungguh empuk dan terasa kenyal di lidah. Kuahnya juga segar di mulut. Setelah itu, saya menutup soto kaki dengan es krim Ragusa yang juga segar, tidak terlalu creamy. Sayang, perut saya sedang tidak bersahabat sore itu, jadi saya tidak berburu makanan yang lain lagi, hanya mencicipi sedikit dari teman-teman saya. Salah satunya adalah bubur Pontianak. Berbeda dengan bubur Jakarta, bubur ini disiram dengan kuah daging lengkap dengan potongan-potongan daging diatasnya. Selain itu, diatas bubur juga ditaburi dengan ikan asin kecil-kecil dan emping. Perpaduan dari ragam aksesoris bubur mampu menghasilkan kolaborasi yang sedap. Teman saya yang lain memilih Sop Buntut Cut Meutia. Sayang, kuahnya tidak terlalu panas sehingga mengurangi kelezatan salah satu sop buntut yang terkenal di Jakarta Pusat itu. Semakin malam, pengunjung semakin ramai memadati seluruh area makanan dari ujung yang satu hingga ujung lainnya.Beberapa gerai yang tidak pernah sepi adalah Es Duren Sakinah, Bandung, Nasi Jamblang Cirebon dan Pondok Sate Pejompongan. Butuh kesabaran bagi mereka yang ingin menyantapnya. Tujuan terakhir kami adalah Es Duren. Meski antrean tak surut juga, tetapi sudah berkurang dibandingkan dengan panjangnya antrean di sore hari tadi. Setelah berdesak-desakan, kami pun mendapatkan seporsi Es Duren untuk disantap rame-rame. Hmm.aroma duren yang harum membuat kami tak sabar untuk menyantapnya, meski perut sudah terasa penuh. Wow, ternyata durennya banyak juga, sekitar 9 potong buah duren di dalam mangkuk mungil. Sungguh penutup yang pas. Rasanya mantap, mengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu di Bandung, saat 'nongkrong' di Warung Sakinah ... Angelina Maria Donna http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/11/06501641/menikmati.surga.makanan.di.senayan
<<064650p.jpg>>
<<064650t.jpg>>
<<064940t.jpg>>
