Indonesia memang negeri yang kaya. Di samping kekayaan alam, warisan budaya 
tradisisionalnya juga sangat beragam. Salah satunya adalah ragam kuliner yang 
telah diwariskan turun-temurun dan tiap-tiap daerah di seluruh Nusantara 
memiliki kekhasannya masing-masing. Hanya saja, banyak yang mulai terlupakan di 
tengah gempuran makanan siap saji dari mancanegara. 

Untuk melestarikan makanan tradisional khas Nusantara, Bango, produk kecap 
andalan PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun ini kembali menggelar Festival 
Jajanan Bango (FJB). "Melalui FJB diharapkan kecintaan masyarakat terhadap 
warisan kuliner Nusantara dapat semakin tumbuh dan berkembang secara meluas," 
ujar Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango.

FJB tahun ini merupakan yang keempat kalinya sejak pertama digelar tahun 2005 
dan bertepatan dengan ulang tahun Bango ke-80, serta untuk mendukung Tahun 
Kunjungan Wisata 2008 (Visit Indonesia Year 2008). Oleh karena itu, tema yang 
diangkat adalah "80 Tahun Bango, Kualitas Sepanjang Masa". Seperti dijelaskan 
Memor, sejak berdiri pada tahun 1928, Bango merupakan kecap bermutu yang 
menggunakan kedelai hitam berkualitas, gula kelapa, garam dan air yang pas di 
lidah orang Indonesia serta tidak menggunakan bahan pengawet, MSG, dan lain 
sebagainya.

Tiga kota yakni Surabaya, Bandung dan Jakarta terpilih sebagai tempat 
penyelenggaraan FJB 2008. Di tiap tempat ditampilkan 80 ragam kuliner khas 
daerah tersebut serta 8 Duta Bango Indonesia, yaitu ragam kuliner nusantara 
pilihan yang didatangkan dari berbagai kota di Nusantara di luar kota 
penyelenggaraan FJB.

Surabaya

Kota Pahlawan Surabaya mendapat kehormatan menjadi kota pertama ajang FJB 2008, 
dalam rangka turut memeriahkan ulang tahun kota Surabaya yang ke-715. Bertempat 
di Stadion Brawijaya, Sabtu (10/5), acara dibuka tepat pukul 11.00 di tengah 
cuaca yang cukup bersahabat. Beberapa kuliner khas Surabaya yang tampil 
diantaranya Lontong Balap Pak Gendut, Tahu Tek Tek Pak Ali, Rawon Setan Ibu 
Sup, Nasi Udang Ibu Rudy, Bebek Goreng Papin, Kambing Depot Madinah, Sate 
Buntel Karmen, dan Sate Kelopo Ondomohen. Sementara itu, 8 Duta Bango yang 
turut memeriahkan FJB di Surabaya yaitu Ketoprak Ciragil (Jakarta), Sangu Tutug 
Oncom Saung Kiray (Bogor), Kupat Tahu Gempol (Bandung, Nasi Jamblang Mang Doel 
(Cirebon), Gudeg RM Adem Ayem (Yogyakarta), Nasi Bug Trunojoyo (Malang), 
Tengkleng Ibu Edi (Solo), Soto Udang RM Rinaldy (Medan).

Event akbar ini tak hanya menarik perhatian warga Surabaya, tetapi juga 
pengunjung dari berbagai kota, seperti Malang, Mojokerto, Sidoarjo-bahkan ada 
juga yang datang dari Yogyakarta. Tak heran, arena kegiatan tak henti dipenuhi 
pengunjung dari sejak dibuka pukul 11.00 siang hingga ditutup pukul 22.00 malam.

Bandung

Beralih ke Bandung Lapangan Gasibu di depan Gedung Sate menjadi tempat 
penyelenggaraan FJB 2008 berikutnya. Meski sempat diguyur hujan, penyelenggraan 
FJB pada Sabtu (28/6) lalu juga terbilang sukses. Tampak dari padatnya 
pengunjung yang berbondong-bondong ingin mencicipi kelezatan kuliner khas 
Indonesia.

Di sini ada Batagor Riri, Sop Buntut Warung Lela, Mie Bakso Si Boy, Soto 
Bandung Ojolali, Es Durian Sakinah, Seafood (malam) HDL 293, Ikan Gurame Goreng 
Ma Uneh, Bubur Ayam Mang Oyo, Sop Buntut Pak Ewok, Es Cendol Elizabeth dan 
masih banyak lagi. Masing-masing memiliki cita rasa yang tak sebanding dan 
jelas berbeda dengan penjaja hidangan serupa. Sementara itu, 8 Duta Bango yang 
hadir di Bandung, yaitu Kambing Guling Pondok Sate Pejompongan (Jakarta), Pecel 
Murni Madiun (Madiun), Tahu Campur Cak Har (Surabaya), Mie Titi RM Pelangi 
(Makasar), Soto Udang racikan RM Rinaldy (Medan), Sangu Tutug Oncom olahan 
Saung Kiray (Bogor), Nasi Jamblang Mang Doel (Cirebon) dan Tengkleng Bu Edi 
(Solo).

Batagor alias "baso-tahu-goreng", salah satu hidangan khas Bumi Parahyangan 
terasa semakin nikmat jika disantap dengan kecap Bango. Seperti diutarakan 
Devi, yang empunya Batagor Riri. "Manisnya pas, kentalnya pas." Meski batagor 
racikannya sudah gurih, ternyata semakin mantap dan pas rasanya jika ditambah 
kecap Bango. 

Penganan lain yang kian sedap menggunakan kecap Bango adalah Soto Bandung 
Ojolali. Kekhasan soto berkuah bening ini adalah kuah yang dimasak bersama 
lobak. Citarasa hidangan yang anti bahan pengawet ini semakin menggoda jika 
ditambahkan kecap Bango. 

Jakarta

Ibukota Jakarta menjadi tempat penyelenggaraan yang pamungkas sekaligus puncak 
dari rangkaian penyelenggaraan FJB 2008. Bertempat di Plaza Selatan Senayan, 
FJB di Jakarta digelar dua hari, yakni Jumat (8/8) dan Sabtu (9/8). Pada 
kesempatan tersebut, dilakukan soft launching buku 80 Warisan Kuliner Nusantara 
kerja sama Bango dengan Tabloid Saji.

Yang menarik, sehubungan dengan perayaan ulang tahun Bango ke-80 dilakukan 
pencetakan Rekor MURI untuk kategori "Penyajian Kambing Guling Terbanyak". 
Bango membagikan 80 ekor kambing guling buatan Pondok Sate Pejompongan secara 
cuma-cuma kepada 800 karyawan pabrik Bango dari Subang, 8 panti asuhan di 
Jakarta dan para pengunjung.

Makanan dan jajanan khas ibukota yang tampil di FJB Jakarta di antaranya Gabus 
Pucung Bapak Misan, Ketoprak Ciragil, Gado-Gado BonBin, Sate Kambing Pondok 
Sate Pejompongan, Nasi Uduk Babe Saman, Soto Tangkar Aneka Sari H Diding, 
Asinan Spesial Ny Isye-Kamboja, Ketupat Sayur H Mahmud, dan Nasi Goreng Kambing 
Kebon Sirih. Sementara itu, 8 Duta Bango yang hadir di Jakarta yaitu Kikil Sapi 
Pak Said (Surabaya), Tengkleng Ibu Edi (Solo), Bubur Bu Jenah (Pontianak), Nasi 
Jamblang Mang Doel (Cirebon), Mie Titi RM Pelangi (Makassar), Sangu Tutug Oncom 
Saung Kiray (Bogor), Es Durian Kantin Sakinah (Bandung), dan Soto Udang RM 
Rinaldy (Medan).

Hidangan khas Jakarta seperti Kerak Telor ternyata masih banyak dicari. Seperti 
dituturkan penjaga stan Kerak Telor Babe Kite, kesempatan kali ini merupakan 
keikutsertaan yang kedua kalinya. "Tahun lalu kami sampai kekurangan. Makanya, 
untuk tahun ini kami menyiapkan seribu telor," ujarnya.

Secara keselurihan penyelenggaraan FJB di tiga kota ini sukses besar. Hal itu 
dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang mengalami peningkatan dari tahun ke 
tahun. Jika tahun lalu FJB mampu menarik sekitar 200 ribu pengunjung, tahun ini 
mampu menarik lebih dari 650 ribu pengunjung.

Misi Bango untuk melestarikan kuliner Nusantara dengan jalan mengenalkan 
langsung makanan tradisional tanah air kepada masyarakat melalui FJB patut 
didukung. Karena dengan turut mempromosikan makanan tradisional tersebut secara 
tidak langsung Bango turut mendongkrak kesejahteraan para penjaja makanan 
tradisional peserta FJB tersebut. Hal ini terbukti dengan meningkatnya total 
penjualan dari sekitar Rp 2 milyar di tahun 2007 menjadi sekitar Rp 5 milyar 
lebih.

Bersama Bango, mari kita lestarikan warisan kuliner nusantara. 

LWP/ADT/ACA

Kompas - Sabtu, 16 Agustus 2008 

Advertorial

Kirim email ke