*Nasi Kebuli Bakar (dan Jebakan Batman)
<http://gudeg.net/news/2008/08/3769/Nasi-Kebuli-Bakar-%28dan-Jebakan-Batman%29.html>*
/GudegNet - Kamis, 21 Agustus 2008 /
Di Jogja ini, semuanya bisa dibakar. Ngga cuman ikan dan iga sapi, tapi
ada nasi bakar, burger bakar, eh ada juga pempek dibakar. Kemarin lewat
Jalan Gejayan, sampai-sampai ada nasi goreng bakar. /Piye meneh kuwi/?
Wah /bener/, bakar-bakaran lagi /happening/ rupanya.
Nah, karena saya sedang bertekad mengecilkan ukuran perut, maka niat
hati untuk mampir makan siang *Sate Jamur* di *FoodFezt*
<http://www.foodfezt.com/>, resto berkonsep /foodcourt/ yang ada di
*Jalan Kaliurang Km 5,5 Yogyakarta*. Kan rasanya mirip-mirip sate ayam
/sak/ bumbu-bumbunya, padahal isinya jamur yang non-kolesterol.
/Eh lha/, /jebul/ sampai disana kok ada /marking/ yang lumayan gede di
depan *Menu Baru: Nasi Kebuli Bakar*.
Waduh, ikutan trend bakar-bakaran rupanya. Kalau nasi kebuli kambingnya
disini sih udah biasa makan, tapi kalau nasi kebuli bakar kira-kira
bedanya apa ya?
Setelah duduk, saya /pantengin/ halaman buku menunya. Di halaman /stall/
yang jualan nasi kebuli tersebut adan nasi kebuli yang standar (bisa
milih ayam atau kambing), lalu juga *Soto Betawi* dan *Roti Jala*.
Kata temen-temen sih enak, tapi untuk saat ini demi memenuhi rasa
penasaran, saya memilih menu *Nasi Kebuli Bakar* dan *Kambing Wijen*.
Hai diet, /dadah bubye/...
Akhirnya datang juga pesanan saya, Nasi Kebuli Bakar dibungkus daun
pisang yang agak-agak gosong, dan di seputarnya ada semacam acar dari
timun, wortel dan nanas. Belum keliatan ada istimewanya sih. Kalau
Kambing Wijennya berwarna coklat, dengan taburan wijen yang cukup
generous sebagai topping diatasnya.
Agak susah untuk membuka daun pembungkus makanan ini, terutama karena
masih panas. Begitu terbuka, langsung /kemebul/ dan tercium aroma
kambing dan rempah-rempah yang kuat. Warnanya agak kehitaman seperti
nasi goreng yang kebanyakan kecap, walaupun saya curiga pasti bukan
hanya kecap yang membuat warnanya menjadi seperti ini.
Saya kemudian memulai suapan pertama, dengan sendok yang setengah penuh.
Wah.. /There's something/... /What a pleasant surprise/! Ada /klethus/
kacang mede didalam suapan saya! Setahu saya, beberapa masakan Timur
Tengah menggunakan kismis untuk campuran hidangannya. Tapi, kacang
mede.. Ini benar-benar kejutan. Sebuah perpaduan yang brilian!
Suapan kedua, tanpa ragu-ragu lagi sendokan yang penuh /munjung-munjung/
tak masukkan ke mulut. Hmm.. kacang medenya..
.....
Eits.. Apa nih?
.....
Ada sebentuk rempah yang nyangkut dimulut, berwarna coklat muda dan
bentuknya bulat dengan diameter kira-kira 1cm, tapi massanya tidak
solid, jadi hanya seperti kulit kacang tapi lebih tipis. Rasanya
agak-agak pedas, mungkin seperti perpaduan daun mint dengan laos. Waduh,
aku kena jebakan Batman!
Sejurus kemudian, analisa terhadap nasi kebuli dipiring mulai saya
lakukan. Harus hati-hati nih, jangan sampai kena ranjau lagi..
Nah, bener kan.. Ada lagi tuh ranjaunya. Pokoknya rempah-rempah
pendukung aroma, tapi ngga mungkin terkunyah tanpa bikin dahi mengernyit
saya pinggir-pinggirkan dulu ke pojokan piring (eh, piring ngga punya
pojok ya?).
Setelah itu baru saya makan dengan lahap dan tenang, sambil
menebak-nebak rempah apa saja yang dipakai untuk membuat Nasi Kebuli
yang lezat ini.
Tebakan saya; kecap, kapulaga, serai, cengkeh, dan kambing. Hehehe..
Kalau cengkeh dan kambing mah tebakan yang pasti benar, soalnya udah
keliatan wujudnya. Yang lain-lain sih /lucky guess/ aja..
"Gimana pak, hidangannya sudah semua diantarkan?" tanya waiter yang
mendatangi meja saya. Saya lirik /nametag/-nya, namanya RIO.
Saya : "Sudah kok mas. Eh mas, mas, ini nasi kebuli bahan-bahannya apa
aja ya?"
Rio : "Maaf pak, kalau itu saya tidak begitu tahu detilnya, tapi bisa
saya tanyakan ke pemilik stallnya, kebetulan sedang ada disini.."
S : "Lho di PDA ngga ada ya?"
R : "Oh ngga ada pak, kebetulan kalau untuk makanan informasi di
database kami hanya dibatasi sampai ke ketersediaan stok saja, karena
itu bisa jadi resep rahasia dari para tenant"
S : "Maksudnya tenant itu yang jualan di tiap-tiap counter ya mas?"
R : "Iya pak. Bagaimana, mungkin mau bicara langsung dengan Pak Dedi
Kebuli?"
Singkat cerita, tenan-tenan pengisi FoodFezt ini rupanya dipanggil
sesuai dengan jenis makanan yang dijualnya. Ada Mas Dedi Kebuli, Mas
Joko Jamur, Pak Bagyo Bakmi dan lain-lain. Hehehe.. lucu juga.
Eh, rupanya saya baru sadar kalau masih ada Kambing Wijen yang belum
saya nikmati. Secara visual terlihat ada cabe merah, cabe hijau, daun
bawang, irisan bawang bombay, dan yang terakhir dan paling utama adalah
kambing (dan wijen).
Rasanya gurih dan tidak terlalu manis. Sangat pas, bumbunya tidak
terlalu tajam dan karakter kambingnya sendiri masih kuat terasa. Ada
melt sensation ketika potongan kambingnya ini dikunyah. Sama sekali
tidak alot. Pas dan hmmm.. uenak.
Dari percakapan kemudian dengan Mas Dedi Kebuli, terungkap bahwa Nasi
Kebuli yang dia sajikan sudah disesuaikan dengan lidah sini.
"Rasa aslinya ngga begitu cocok dengan lidah sini mas.." begitu katanya.
Ada beberapa belas bumbu rempah untuk membuat Nasi Kebuli, dan beberapa
harus diimpor langsung dari Timur Tengah, ujarnya.
Lalu menurutnya, Nasi Kebuli Bakar ini murni kreasi dia. Tidak asal
hanya dibakar, tapi ada modifikasi yang cukup signifikan dalam hal rasa,
yaitu tadi, ada penambahan kacang mede yang menyatu dengan aroma daun
pisang yang harum -- karena layu dibakar.
Yah, kalau pempek aja bisa dibakar, kenapa Nasi Kebuli tidak?
Oh ya, ternyata setelah melakukan /observasi/ di supermarket terdekat,
rempah yang tidak sengaja ter-/klethus/ itu bernama *kapulaga*, salah
satu dari beberapa belas rempah bumbu Nasi Kebuli.
*Catatan penulis*:
/kemebul/ : berasap karena panas
/munjung-munjung/ : penuh sampai pol mentok.
/jebakan Batman/ : istilah metaforis untuk kondisi-kondisi konyol yang
tidak terduga.