Isi Pesan Asli --------

Dari: Teuku Reiza Yuanda <[EMAIL PROTECTED] com>

Balas-Ke: [EMAIL PROTECTED]
r.net

Untuk: Indonesia Next Better <[EMAIL PROTECTED]
r.net>

Cc: iaitbjakarta@
yahoogroups. com

Judul: [indonesia] Ndeso !

Tanggal: Wed, 23 Apr 2008 08:27:29 -0700 (PDT)





"NDESO" 

oleh : Ika S. Creech *) 



Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang 

yang norak, kampungan, udik, shock culture, 

countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami 

atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat 

mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat 

senang, sehingga ingin terus menikmati dan 

tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih 

dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia 

atau hanya segelintir orang yang baru merasakan 

dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, 

memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain 

untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan 

harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum 

sama seperti dia. 



Lebih dari itu ia berharap agar orang lain 

juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk 

menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, 

seperti saya juga sering mengalami hal demikian, 

tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar 

dari sejarah, pengalaman orang lain, serta 

belajar bagaimana caranya tidak jadi orang

norak, kampungan alias ndeso. 



Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, 

tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun 

ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara 

pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah 

apartemen yang sederhana. Ketika beberapa 

pengusaha ingin memberi pinjaman kepada 

pemerintah Indonesia
mereka menjemput pejabat 

Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut 

bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan 

umum, sementara pejabat Indonesia
yang akan 

dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan 

yaitu Mercedes Benz. 



Ketika saya di Australia berkesempatan melihat 

sebuah acara dari jarak yang sangat dekat, 

yang dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, 

saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka 

pakai yaitu merek Holden baru yang paling murah 

untuk ukuran Australia. Yang menarik, para 

pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda 

penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak 

jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya. 

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan 

restoran Thailand.
Dia seorang warga negara 

Malaysia keturunan China, sudah
menyelesaikan 

Docktor, sekarang sedang mengikuti program 

Post-Doc, Dia anak serorang pengusaha yang 

kaya raya di negaranya. Tidak ingin menggunakan 

fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. 

Dia juga sebenarnya memperoleh beasiswa dari 

perguruan tingginya. 



Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat 

orang menggunakan HP Nokia Communicator, 

mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah 

saya baca koran, ternyata konsumen terbesar 

HP Nokia Communicator adalah Indonesia.


Sempat berkenalan juga dengan seorang yang 

berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata 

dia anak seorang pejabat tinggi negara, 

juga naik kereta. Yang tak kalah serunya 

saya juga jadi pengamat berbagai jenis 

sepatu yang di pakai masyarakat Jepang 

ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso 

siapa ya? 



Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang 

baik di jepang atau di Australia,
baik dari 

penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau 

rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan 

seseorang kalau sudah mengetahui riwayat 

pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. 

Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak 

ke Pondok Indah bisa pingsan melihat 

rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata 

rumah di Jepang memiliki tinggi plafon 

yang bisa digapai dengan tangan hanya 

dengan melompat. Sehingga untuk dudukpun 

banyak yang lesehan.



Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak 

membuat istana negara dan benteng pertahanan 

(khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk 

perang ahzab saja), padahal Rasulullah 

sudah sangat mengenal kemewahan istana 

raja-raja negara sekelilingnya, karena 

beliau punya pengalaman berdagang. Lalu 

dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? 

Jawabannya di Masjid. 



Beliau punya banyak jalan yang legal untuk 

bisa membangun istana. Di Mekkah menikah 

engan janda kaya, di Madinah menjadi kepala 

negara, mempunyai hak prerogatif dalam 

mengatur harta rampasan perang dan ada 

jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak 

beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi 

mengapa beliau sering kelaparan, mengganjal 

perut dengan batu, puasa sunnah niatnya 

siang hari, shalat sambil duduk menahan 

perih perut dan seterusnya. 



Ketika Indonesia
sedang terpuruk, Hutang 

sedang menumpuk, rakyat banyak yang mulai 

ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak 

yang antri beras, minyak tanah, minyak 

goreng dll. Maka harga diri kita tidak 

bisa diangkat dengan medali emas turnamen 

olah raga, sewa pemain asing, banyak 

perayaan yang gonta-ganti baju seragam, 

baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, 

dll, dsb, dst..... 



Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo 

hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada 

lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, 

tidak ada lagi WTS, angka kriminal rendah, 

korupsi berkurang, pendidikan terjangkau, 

sarana kesehatan memadai, punya posisi tawar 

terhadap kekuatan global, serta geopolitik 

dan geostrategi yang disegani. Maka orang 

Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi 

krisis karena tidak bisa menjadikan krisis 

sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan 

APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang 

norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai 

adalah negara normal atau bahkan mengikut 

negara maju. Bayangkan ada daerah yang 

menganggarkan dana untuk sepak bola 17 

milyar Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan 

rakyatnya hanya 100 juta Rupiah, wiiieh!!! 



Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah 

yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah : 

- Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP 

- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok 

- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai 

untuk beli TV dan kulkas 

- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, 

Orang kampung mabuk beli minuman patungan 

- Pengemis bisa mendengarkan MP3 player sambil 

goyang kepala 

- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya 

- Orang-orang dapat membeli gelar akademis di 

ruko-ruko tanpa kuliah 

- Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah 

rumah petakan gang sempit di Cibubur 

- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering 

keluar masuk McDonald 

- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat 

tahu detail dunia persepakbolaan

- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu 

untuk mencetin HP 

- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan 

kerupuk saja 

- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya 

dansa-dansi di acara tembang kenangan. 

- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong 

bahenol ngebor 

- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang 

dombret dan wakuncar 

- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa 

buka-bukaan 

- Agar kelihatan inklusif maka harus bisa 

menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang 

juga digandeng 

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita 

tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren.



Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere. 



*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini 

bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja 

sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.




      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke