Terima kasih Mas Ubai untuk postingannya.
Semoga di FJB tahun depan, Anthony Bourdain dan pakar-pakar kuliner kelas dunia 
dapat hadir dan ikut menikmati kuliner khas Indonesia bersama kita semua, 
sesuai harapan Anda. 
Salam,
Radityo
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Andaikan Anthony Bourdain datang ke "Festival Jajanan Bango"
August 31, 2008 by ubaidillahnugraha 





Food is coming  from heaven
(pepatah Cina)





Baru saja Saya mendarat di Bandara Soekarno Hatta dari sebuah perjalanan dinas 
ke Manado yang merupakan rangkaian beruntutan setelah Surabaya, Bandung dan 
daerah lainnya di Indonesia . Bepergian ke pelosok nusantara dalam konteks 
bekerja sesungguhnya melelahkan, meskipun demikian untungnya ada dimensi lain 
perjalanan yang selalu memaksa kita rindu untuk kembali ke daerah-daerah 
tersebut.



Bepergian di Indonesia  berarti juga perjalanan menikmati kenikmatan kuliner di 
tempat yang kita singgahi, tak kurang di Manado, saya berkesempatan menikmati 
pedas dan nikmatnya "woku belanga", "Cakalang/Nike rica-rica", "tinutuan" dan 
kue "Panada"... e do do e.pe sadap skali jo... Beberapa waktu sebelumnya di 
Surabaya, Bebek Goreng dan makanan tradisional "Bumbu Desa" yang meski 
franchisenya tersebar dimana-mana tetapi percayalah rasanya akan unik di setiap 
tempatnya. Di Bandung, "serabi imut", "yoghurt cisangkuy", "batagor kingsley" 
ataupun "rumah nenek" menjadi selingan di tengah presentasi-presentasi panjang 
pekerjaan. 



Selanjutnya perjalanan kuliner ini akan hinggap di kota saya, Jakarta. 
Kesempatan ini menjadi  istimewa karena  acara yang telah ditunggu-tunggu 
akhirnya datang juga, Festival Jajajanan Bango (FJB) datang kembali tahun ini. 



Karena FJB ini adalah ajang langka, hanya diadakan satu kali setiap tahunnya, 
saya bertekad harus bisa datang  meskipun dengan konsekuensi memperpendek satu 
hari kunjungan kerja tersebut agar dapat memiliki kesempatan untuk hadir di 
hari terakhir dan sengaja mengosongkan perut dengan tidak mencicipi makanan 
pesawat . Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, saya harus bergegas ke Senayan.



                                                            ***



Siang itu sesungguhnya sangat terik untuk ukuran Jakarta sehari-hari, matahari 
rasanya tak lebih dari sejengkal dari ubun-ubun. Tetapi humiditas ini berubah 
menjadi oase bagi sebagian masyarakat Jakarta termasuk saya.. Preposisi 80 
jenis makanan dalam 2 hari sungguh mengundang selera. Beberapa memang sudah 
pernah  saya rasakan di seputar Jakarta, entah dalam kesempatan makan siang 
dengan teman-teman  kantor atau sekedar menuntaskan rasa lapar selesai 
berolahraga.  Kambing pondok sate pejompongan,  Makanan menado Beutika, 
ketoprak ciragil, Ayam Taliwang Blok M, Ice Krim Ragusa sudah bukan penganan 
asing lagi. i'm hungry for more



Sampailah saya sudah di area ratusan meter persegi yang tersebar dalam 3 
kelompok besar, sektor kanan yang menghadap ke Hotel Century Park, sektor kiri 
yang lebih dekat ke JHCC dan sektor tengah yang juga berfungsi sebagai panggung 
utama, semua sudut tersebut fully booked, masyarakat tumpah tuah di sana. Tidak 
ada pembagian jenis makanan khusus di setiap sektornya, justru di sinilah 
asiknya karena bau semerbak datang dari segala penjuru sudut sambil bingung 
memilih, makanan beruntung mana yang pertama yang akan saya terpilih. Yang 
datang pun beragam terlihat di sini mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak 
(dan panitia pun sudah mengantisipasi dengan menyediakan arena bermain 
anak-anak), ibu-ibu menenteng bayi. Saya yang rusuh bergegas datang dari 
bandara, bahkan banyak yang segaja datang dari kondangan perhelatan perkawinan 
untuk mampir seperti beberapa orang berbaju kebaya ini. Tidak peduli panas 
serasa ada di, semua tumpah ruah dihimpit 80 jenis makanan lezat yang ada di 
sekeliling.





Akhirnya dari berpuluh-puluh alternatif pilihan, penulis memutuskan untuk 
membeli Mi aceh Seulawah jalan Benhil, mi ayam pak loso kumis Jl Irian/Ambon 
pangsit basahnya sungguh maknyusss, Nasi Goreng Kambing Kebon sirih, nasi 
goreng merah Makassar dari RM Makassar pelangi, nasi goreng gila gondrong jalan 
besuki, Tongseng jatinegara Warung sederhana, Asinan spesial Ny Isye Kamboja 
sampai pizza-nya orang betawi, kerak telor.



Secara total, walhasil 15 pengenan dengan suksesnya saya angkut ke rumah, 
mudah-mudahan bisa tahan lama di kulkas. Untungnya keluarga kami yang senang 
jajanan ini tidak perlu berlama-lama untuk melahap semua penganan yang ada, 
Emil yang maniak nasi goring tidak menyisakan sedikitpun beberapa jenis nasi 
goring yang sengaja saya bawa untuk menuntaskan hasrat pada nasi gorengnya yang 
overdosis. Makan tongseng plus ikan rica-rica, what a weird combination, buat 
EGP.jangan sampai makanan-makanan ini terlewatkan karena sudah expire besok 
atau lusa.



                                                              * * *



Mungkin benar pepatah konghucu di atas bahwa makanan Indonesia bukan sekedar 
penganan yang mengenyangkan tetapi anugrah yang dikirimkan Tuhan kepada negara 
ini, sebuah pemberian dari Surga yang menyelinap lewat tangan-tangan terampil 
maestro kuliner dan rasanya direguk jutaan penikmatnya



Makanan Indonesia bagi saya pribadi bukan sekedar sesuatu yang masuk di rongga 
mulut . Tetapi jauh melewati batas fungsi mengenyangkannya, sebagai kekayaan 
bahkan salah satu  identitas bangsa. Kekayaan itu akan semakin terasa ketika 
kita melanglangbuana ke negeri orang. Karena itulah, betapa di berbagai 
kesempatan ketika saya tinggal di Singapura sebagai misal, dalam sebuah ajang 
food festival kecil-kecilan betapa mie goreng dan sate ayam buatan orang rumah 
yang dikirim  harus dibuat kembali minggu depannya karena banyaknya permintaan 
untuk dapat mencicipinya kembali. atau Rendang bawaan ibu di Swiss tak 
henti-hentinya dibicarakan teman satu asrama sambil sesekali bertanya kapan 
lagi orang rumah akan mengirimkan . Di saat-saat seperti itulah kuliner 
Indonesia menjadi bagian yang terpisahkan dari identitas saya sebagai seorang 
Indonesia. "Rendang Man" bahkan menjadi panggilan penulis di Swiss.



Oleh karena itu mengapa banyak orang asing yang kerap kembali ke Indonesia. 
Sebagian Chef memutuskan untuk tinggal di Bali atau Bandung karena, kuliner 
Indonesia membuat mereka merasa neagara ini sangat dekat dengan keseharian 
mereka.indonesia bukan sebuah negara asing tetapi  adalah home. Memang surga 
makanan adalah home bagi para Chef.



Jean Gelman dalam bukunya Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and 
Histories. New Haven and London: Yale University Press, pages 8-9, 
menggambarkan Indonesia sebagai  telah dikenal sebagai surga makanan sejak 
ribuan tahun lalu, pada  abad 16, orang Eropa pertama kali menemukan bagaimana 
nasi menjadi makanan yang prestisius bagi kalangan bangsawan di Jawa.



Bisa anda bayangkan betapa puluhan daerah memiliki jenis masakannya bahkan 
konon ribuan pulau yang melingkari pun emiliki kekhasan makanan tersendiri, 
betapa kayanya bangsa ini dengan varian kuliner yang sampai saat ini  
kualifikasinya buat saya prbadi kalau tidak "enak" ya enak sekali"



Anthony Bourdain, chef yang telah melanglang buana dengan mengusung acaranya 
yang telah mengglobal  "No reservations", dalam sebuah perjalanannya menyusuri 
nusantara yang menurut penulis salah satu reportase terlengkap wisata kuliner 
orang asing di Indonesia, telah membawanya merasakan dodol garut, gule otak, 
warung padang,  durian yang digambarkannya "Smelling bad but feeling good", 
nasi goring, Serabi, "pancake of Indonesia"



Dibalut dengan suasana "melankolis" Indonesia entah Bali, Kampung Sampierun 
atau bahkan jakarta yang sungguh sangat berbeda dengan New York, telah sempat 
memaksanya untuk berfikir sekaligus bertanya "could indonesia be my end of the 
road" , jalan ribuan mil yang telah dilakuinya untuk mencicipi kuliner dunia 
apakah sudah perlu dicukupi sampai di sini, karena menurutnya dia teleh 
menemukan paradise yang sesungguhnya. 



Oh..laksana surga memang Senayan sore itu. Tidak sabar untuk menunggu event ini 
datang kembali  tahun depan. Bangsa ini sungguh beruntung memiliki kekayaan 
ribuan varian makanan yang menjadi sebuah "dosa besar" jika tidak dilestarikan.



Ketika penulis bergegas pulang, Budaya China, barongsai pun  ditampilkan. 
Lengkap sudah keyakinan bahwa makanan Indonesia selain tarian adalah 
representasi terbaik Indonesia ke mancanegara sebagai menjadi pelengkap 
kekayaan Indonesia. Barongsai dan Tarian betawi, dua dari ratusan tari yang 
dapat ditemukan disama bagi penulis hampir sama analoginya dengan penganan 80 
jenis yang datang menghampiri masyarakat. Mereka itu sebenarnya hanya sedikit 
dari ribuan jenis makanan lagi yang dapat kita lestarikan terus sebagai 
persembahan bagi anak cucu kita.



Dan saya berandai-andai , Anthonny Bourdain jika berkesempatan untuk mampir ke 
acara ini, niscaya mungkin akhirnya akan semakin menguatkan keinginannya untuk 
mengakhiri perjalanan kuliner keliling dunianya itu, dan akan berakhir di sini 
atau paling tidak dia sudah tahu bahwa " food paradise" tidak jauh-jauh 
letaknya, dia ada di sini, 



absolutely, i would really like to end my travels there and stay there until 
the end.

a friend told me that if you can get past the humidity, everything else is 
perfect!





Yes , you're right sir persis sekaai.kalau kita bisa memahami panasnya cuaca 
Jakarta,  !...Anda juga pasti setuju dengan ungkapannya !





  ----- Original Message ----- 
  From: ubai nugraha 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, August 31, 2008 8:49 PM
  Subject: [bango-mania] Andaikan Anthony Bourdain datang ke FJB


        
http://ubaidillahnugraha.wordpress.com/2008/08/31/andaikan-anthony-bourdain-datang-ke-%e2%80%9cfestival-jajanan-bango%e2%80%9d/
 



   

Kirim email ke