Eat & Eat Food Market Menghadirkan 

Atmosfir Nostalgia Peranakan di Mal Kelapa Gading



Kelapa Gading sudah lama dikenal sebagai kota sejuta makanan. Popularitas 
kawasan ini sebagai gudang makanan berhasil menembus batas geografis, sehingga 
tidak mengherankan, jika kawasan ini diburu masyarakat sebagai tujuan wisata 
kuliner, terbukti dengan tersedianya berbagai jenis sajian kuliner dan jajanan 
yang berhasil memikat selera wisatawan domestik maupun manca negara. Salah satu 
titik surga kuliner yang banyak mendatangkan pengunjung adalah Sentra Kelapa 
Gading, sebuah area yang menghimpun Mal Kelapa Gading, La Piazza, Gading Food 
City dan The Summit Apartment. Walaupun beragam makanan unik banyak ditemukan, 
namun Sentra Kelapa Gading selalu penuh dengan ide segar untuk menghadirkan 
suasana menarik ataupun santapan-santapan menggiurkan, yang jarang dijumpai di 
tempat-tempat lain. Seperti kali ini yang hadir mulai tanggal 15 September 2008 
bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, sebuah tempat makan baru yang unik dan 
berbeda, yaitu Eat & Eat Food Market hadir di Mal Kelapa Gading (MKG) 5 , 
lantai 3. 

Eat & Eat Food Market dengan penampilan khas etnis peranakan sangat kontras 
keberadaannya berdampingan dengan Food Temptation, area food court di MKG 3 
yang tampil dengan suasana modern.  Area seluas 2350 m2 ini yang disebut dengan 
food market, bukan food court sebagaimana umumnya. Sebutan food market ini, 
adalah sesuai dengan konsepnya yang menghadirkan konsep pasar tempo dulu, 
dengan dekorasi dan pernak-pernik yang sangat unik. Sementara itu, sekitar 34 
counter makanan di sini hadir menawarkan beragam makanan khas dari berbagai 
daerah dan berbagai pilihan masakan khas peranakan. Aneka menu yang disajikan 
terbilang unik dan lengkap. Dari mulai makanan Indonesia, Cina peranakan 
Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Menariknya, di sini counter-counter makanannya menampilkan nama masakan utama 
yang menjadi unggulannya, bukan nama/ brand dari counternya. Sebut saja 
diantaranya ada counter nasi guling, gado-gado Aa, warung keroepoek, babat 
gongso, pepes goreng, krawu,  bebek goreng, raja gurame, tongseng kambing dan 
masih banyak lagi. "Beragam pilihan makanan ini diolah secara modern dan 
hygenis, namun tetap mempertahankan keotentikan rasa warisan keluarga leluhur, 
dan semua itu ditawarkan dengan harga yang terjangkau", demikian diungkapkan 
oleh Iwan Tjandra, yang disebut sebagai 'juragan' dari Eat & Eat Food Market. 

Selain makanan, beragam minuman pelepas dahaga juga disediakan dan disesuaikan 
dengan konsep uniknya. Di sini tidak akan ditemukan minuman bersoda yang 
identik dengan minuman modern. Namun aneka minuman dingin hingga hangatnya 
secangkir kopi di Warung Kopi Lay, dapat menjadi pilihan yang tak kalah 
menariknya. Jika dirasa belum cukup, pengunjung bisa memuaskan seleranya dengan 
camilan-camilan lawas, dari mulai kembang gula, bermacam-macam kerupuk kampung, 
sampai menikimati lezatnya aneka Jenis Durian yang dapat di makan ditempat atau 
dibawa pulang. Sebagai buah tangan, Eat & Eat juga menyediakan Toko P&D yang 
khusus menjual produk-produk khas peranakan tempo dulu.

Untuk melakukan transaksi pembelian, pengunjung sebelumnya membeli kartu isi 
ulang yang diisi dengan sejumlah rupiah dengan nominal tertentu. Melalui kartu 
ini, pengunjung bebas melakukan transaksi di counter manapun di dalam Eat & Eat 
Food Market. Bahkan jika selesai bersantap masih ada nilai rupiah yang tersisa 
di dalam kartu, pengunjung dapat menukarkannya kembali dengan uang. 

Konsep food market yang diusung Eat & Eat ini, memiliki atmosfir nostalgia yang 
sangat kental. Bahkan di pintu masuk, pengunjung sudah mulai disambut dengan 
dekorasi lawas yang hommy, lengkap dengan gantungan sangkar burung. Rasanya 
seperti berada di sebuah sudut kota jaman baheula yang hangat dan bersahaja. 
Interior di dalam ruangan lebih banyak didominasi oleh material kayu yang 
dilengkapi dengan tempelan-tempelan potongan pintu kayu yang sudah dimakan 
usia. Beragam pernak-pernik perlengkapan jaman dahulu, dari mulai ceret antik, 
kaleng krupuk, termos jadul, foto-foto usang, lukisan dan potongan iklan kuno 
bisa ditemukan di berbagai sudut dan menjadi eleman dekoratif di setiap counter 
makanan. Salah satu sudut Eat & Eat Food Market ini menampilkan desain tampilan 
tampak muka rumah tempo dulu , lengkap dengan pintu dan balkon serta pajangan 
sepeda ontel, yang mengundang rasa penasaran setiap pengunjung untuk mengintip 
apakah ada penghuni di balik pintu dan balkon tersebut.

Kursi dan meja untuk pengunjung bersantap, jauh dari kesan modern seperti di 
food court pada umumnya, Beragam meja dan kursi terbuat dari kayu yang dihiasi 
ukiran-ukiran, membuat pengunjung betah santai berlama-lama ketika menikmati 
hidangan pilihannya. Untuk mengantisipasi animo pengunjung Mal Kelapa Gading 
yang cukup besar, kapasitas Eat & Eat Food Market dibuat  cukup luas, hingga  
mampu menampung sekitar 650 pengunjung, bahkan dalam perkembangannya akan 
ditingkatkan. Eat & Eat Food Market mampu menjadi alternatif yang menyegarkan  
ditengah atmosfir modern sebuah pusat belanja, serta menjadi penyejuk bagi 
masyarakat, disela hiruk pikuk gaya hidup metropolitan yang kian jenuh. 

Meski Eat & Eat Food Market tampil dengan nuansa tempo dulu, namun dikelola 
dengan manajemen yang modern dan professional. Kehadiran Eat & Eat Food Market 
semakin memperkaya dan menggenapi kekayaan pilihan kuliner  di Mal Kelapa 
Gading yang telah ada sebelumnya. "Keunikan konsepnya pun semakin memperkuat  
dan melengkapi keunggulan konsep Mal Kelapa Gading yang selalu inovatif , unik 
dan kreatif, untuk menjawab kebutuhan gaya hidup masyarakat, " demikian 
dituturkan Anwar Arifin Salim, Executive Director Sentra Kelapa Gading.




















Kirim email ke