Sate Kelet di Pekalongan
  Sesek di Kudus

Mungkin ceritanya hampir2 mirip. Waktu saya masih SD (sekitar th 1977),  
beberapa tetangga orangtua saya (diantaranya ibu-ibu) yang bertamu pernah 
membawakan oleh-oleh sebungkus oseng-oseng yang dibungkus daun pisang. Cara 
bungkusnya "ditum" (bukan pincuk yg mirip piring). Saat ibu saya tengah bicara 
ngalor ngidul dengan tetangga itu, saya dipanggil oleh ibu untuk membawa masuk 
bungkusan daun pisang yang terasa hangat ditangan. Saya iseng membukanya,  
siapa tahu makanan enak didalamnya.Pikir saya.
Setelah saya buka isinya berupa potongan-potongan daging kecil seperti kikil 
tapi lebih tipis, dengan aroma gurih-pedas khas oseng-oseng. Masih ngepul 
panasnya. Cuma saya agak jijik, karena di potongan-potongan itu masih ada 
bulu-bulu tipis khas binatang berkaki empat.

Saya nggak selera dan kembali menutup bungkusan daun pisang itu.
Setelah tetangga pulang, saya pun menanyakan ke ibu, makanan apa itu.
Ibu saya menjelaskan bahwa tamu tadi membawakan oleh-oleh hasil masakan sendiri 
berupa Oseng-oseng sesek. Apa itu Sesek? Sesek adalah kulit antara kikil dan 
kulit luar yang dikelet lalu dicincang. Biasanya daging kerbau (karena di Kudus 
daging sapi pantang untung dimakan).  ( atau agak susah juga ya menjelaskannya, 
soalnya saya belum pernah kerja di rumah pemotongan hewan sih. . ). 

Kata ibu saya sih enak aja, apalagi makannya dengan nasi putih hangat dan 
kerupuk.
Ujud riilnya sih mirip oseng-oseng buncis dengan sedikit kuah dan pedas. Tapi 
ini pakai sesek (kulit yang ada sedikit daging dan kikil tadi). 

Setelah saya beranjak besar baru sadar, makanan Sesek adalah alternatif 
masyarakat kelas bawah untuk menikmati daging. Daging kerbau yang mahal, yang 
harganya tak terjangkau, menjadikan masyarakat kelas bawah harus kreatif. 
Termasuk menikmati oseng2 sesek. 
Juga belakangan saya juga baru tahu, kalau membeli sesek di pasar tradisional 
di Kudus. Tongkrongin aja pedagang2 daging di pasar, umumnya mereka punya 
sesek. Harganya sangat murah. Menurut saya menikmati sesek di Kudus "lebih 
aman" ketimbang menyantap daging sampah bekas hotel dan RS yang dijual lagi di 
kota Jakarta.

Daniel Supriyono

http://warungbarangantik.blogspot.com



On Fri, 9/12/08, wisnu ismawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: wisnu ismawan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [bango-mania] sate kelet pekalongan
To: [email protected]
Date: Friday, September 12, 2008, 4:49 AM










    
            saya pernah berkunjung di pekalongan jateng. pada suatu malam, ada 
bpk2 tua jual sate ( ini cerita bener lho, bukan cerita horor ). satenya kok 
bentuknya aneh. saya tanya, itu sate apa. namanya ternyata sate kelet. dibuat 
dari kulit kepala sapi atau kebo. rasanya aneh, kenyil2 gitu. kenyil2 itu apa 
ya ? kenyil2 itu rasa seperti kalo kita gigit karet ban dalem sepeda motor ( 
hehhehehehe berarti saya sudah pernah, bodoh ya  si wisnu, pake ngaku segala ). 
tapi enak juga. porsinya mini, jadi saya hrs makan lbh dari 3 porsi. sate tsb 
katanya udah langka bgt. mungkin udah kaya cauk rambak di solo yg sudah sgt 
langka. sate kelet.. klo bahasa jawa biasanya sih, kelet itu lengket. tapi 
bahasa jawanya pekalongan lain dgn bahasa jawa tengah yg lain, dan saya lupa 
nanya, kelet itu artinya apa. besok
 paginya saya makan sego megono. nasi dan urap dari daun kecombrang. rasanya ? 
aneh... tapi ttp kudu dicoba. habis 2 piring. laper bough ! enak juga. trus 
iseng nyoba tauto pekalongan.. . ga terlalu doyan, tapi saya yakin ini 
sebenarnya enak, tapi si abang yg jual aja kali baru mulai dagang jadi rasanya 
kok ga pas bgt. btw, pekalongan itu makanan khas nya apa ya ? 

        Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru  
 Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
br>
Cepat sebelum diambil orang lain!
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke