hmmmm mengoda sekali...kapan-kapan mampir ah ke cikini. 

utari ninghadiyati
 my blog www.utarininghadiyati.multiply.com

--- On Fri, 9/19/08, elmyrha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: elmyrha <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [bango-mania] 'Sopo Ngiro' Oishii Desu!
To: [email protected]
Date: Friday, September 19, 2008, 4:25 AM


 Beef Wafuyaki
 Jakarta - Ingin mencoba makanan Jepang kaki lima seperti yang ada di 
 film 'Tokyo Love Story'? Hmm..tempat yang satu ini mungkin bisa 
 mengingatkan Anda dengan kisah cinta Kanji dan Rika yang pernah top 
 di tahun 90an. Mau Yakimeshi, Wafuyaki, atau Yakiniku? Semuanya ada 
 di sini!

 Kemarin malam gara-gara mendengar lagu soundtrack 'Tokyo Love Story' 
 saya jadi ingin menikmati makanan Jepang untuk berbuka. Hmm.. tiba-
 tiba saya teringat adegan Kanji dan Rika yang selalu kompak saat 
 bersama termasuk menikmati makan malam di warung kaki lima. 

 Saya dan beberapa teman memutuskan untuk mencari jejak makanan Jepang 
 yang ada di seputaran Cikini. Pada masa booming makanan Jepang 
 sekitar tahun 90 an banyak warung tenda yang menyajikan makanan khas 
 Jepang tetapi satu per satu tutup. Kami yakin warung Jepang yang kami 
 tuju masih buka hingga hari ini.

 Benar juga, tak lama menyusuri Jalan Cikini, tepat di depan gedung 
 pertemuan King, kami menemukan warung Jepang 'Sopo Ngiro'. Warung 
 tenda ini ada persis di sebelah bakmi Roxy, di depan kantor pos. 
 Tampilan 'Sopo Ngiro' tak terlalu mencolok dan tak beda jauh dengan 
 warung tenda biasa. 

 `Sopo Ngiro' merupakan warung tenda dengan menu Jepang yang cukup 
 bertahan lama. Namanya juga memakai nama plesetan bahasa Jawa yang 
 terdengar mirip dengan bahasa Jepang seperti banyak dilakukan orang 
 pada masa 90 an. Sopo Ngiro bahasa Jawa yang artinya `siapa sangka'.

 Karena waktu berbuka sudah lewat, warung tidak terlalu penuh. 
 Pelayannya langsung menyambut kami dengan daftar menu. Wah, lumayan 
 lengkap juga. Ada Wafuyaki, Yakimeshi, Tempura, Steamed Rice, Chicken 
 Katsu, Chicken Wafuyaki, Beef Yakiniku, dan Chicken Yakiniku. Hampir 
 semua makanan Jepang populer, ada di menu!

 Kamipun memutuskan untuk menikmati Beef Wafuyaki yang menjadi andalan 
 warung ini, seporsi Yakimeshi dan Tempura. Karena tak ada ocha (teh 
 hijau Jepang) maka kami memilih es teh biasa sebagai pelengkap. 

 Seperti layaknya resto Jepang, ternyata sang pemilik sekaligus koki 
 baru meracik makanan saat dipesan. Dapurnya ada di bagian ujung 
 warung tenda, hanya disekat dengan sepotong papan saja. Tentu saja 
 aroma wangi bawang putih, berbaur dengan aroma gurih daging yang 
 sedang dimasak makin membuat perut kami tergelitik. 

 Sayapun mencoba mengintip kesibukan `dapur' saat mereka menumis 
 daging Wafuyaki. "Untuk menu daging sapi, kita sih pakai daging has 
 dalam sapi supaya empuk dan enak," demikian ujar si penjual sambil 
 mengiris daging sapi.

 Saat menumis daging, sang koki bagai koki resto Jepang, berakrobat 
 dengan gerakan gesit. Daging yang ada di dalam wajan diputar dan 
 dilempar ke udara. Suara mendesis menebarkan aroma wangi…Api pun 
 menyambar sampai keluar dari wajannya. Walah..saya sampai kaget 
 dibuatnya. Untung saja saya tak tersambar jilatan api!

 Dalam hitungan menit, Beef Wafuyaki pesanan kami pun sudah tersaji. 
 Tampilannya sangat sederhana, tumisan tauge, wortel, ditaruh dibagian 
 tengah, daging yang telah ditumis tadi ditaruh di pinggir, bersamaan 
 dengan salad yang berupa irisan timun, kol , tomat dan sedikit 
 mayones. Isinya tak jauh beda dengan Wafuyaki restoran.

 Suapan pertama yang masuk ke mulut adalah tauge tumis. Wah, sangat 
 mengejutkan! Taugenya tetap `krenyes-krenyes' , saus shoyunya tak 
 terlalu berlimpah. Pas banget rasa gurih dan sedikit manis. Ditumis 
 dengan timing dan suhu yang pas! Irisan daging sapinya memang 
 terlihat lebih sedikit (ini gara-gara harga daging sapi yang terus 
 naik) tetapi rasanya empuk, mudah dikunyah dengan bumbu yang menebar 
 aroma bawang putih, bawang Bombay dan shoyu yang wangi menusuk 
 hidung. Racikan salad dengan sedikit mayones memberi aksen gurih yang 
 enak dan cocok dengan gurih daging sapi. 

 Setelah menuntaskan Wafuyaki, Yakimeshi alias nasi goreng ala 
 Jepangpun yang mengepul panas langsung kami lahap. Nasi Goreng Jepang 
 ini pun hadir dengan tampilan sederhana. Warnanya sedikit kecoklatan 
 menandakan tidak terlalu banyak menggunakan kecap. Isinya pun cukup 
 komplet, mulai dari daging ayam, telur, dan juga sayuran seperti 
 wortel dan kol yang diiris halus. Pelengkapnya di diberikan irisan 
 timun dan tomat.

 Rasa Yakimeshi sangat pas di lidah,tidak terlalu gurih tapi juga 
 tidak manis dan dimasak sampai hampir kering. Yakimeshi ini juga 
 tidak meninggalkan jejak berminyak seperti kebanyakan nasi goreng 
 pinggir Yang membedakan dengan Yakimeshi buatan resto hanya kualitas 
 nasinya saja. Meskipun agak melambat, akhirnya nasi goreng yang gurih 
 enak inipun tak bersisa.

 Tempura, tepatnya Ebi Tempura disajikan terakhir, di taruh di piring 
 kecil plus saus shoyu dalam mangkuk aluminium kecil. Tampilan tempura 
 ini memang beda jauh dengan tempura buatan resto. Tak ada gumpalan 
 adonan yang keriting mengeliling udang tetapi tampilan adonannya 
 pipih melebar. Wah, jadi mirip rempeyek udang!

 Saat saya gigit ternyata adonan tepung tempuranya renyah dan gurih. 
 Hanya saja udangnya terlalu kecil. Jadi setelah hampir sampai di 
 ujung barulah tergigit daging udang yang kenyal gurih. Sausnya juga 
 tak terlalu mengecewakan meskipun tanpa lobak dan jahe parut. Kriuk-
 kriuk..tempura pun berpindah ke perut kami!

 Harga yang harus kami bayarpun tak terlalu mahal. Cocok buat kantong 
 kami yang sudah mulai menipis. Untuk seporsi Yakimeshi harga yang 
 kami bayar adalah Rp 9.000,00 , untuk seporsi Beef Wafuyaki Rp 
 15.500,00 dan untuk Tempura Rp 13.500,00. Hmmm.. benar-benar sopo 
 ngiro oishii desu! 

 Sopo Ngiro Japanese Food
 Cak Ruslan
 Jl.Cikini Raya 55
 Telp 021-7290004
 Buka Jam 18.00 - 24.00 WIB

              


      

Kirim email ke