Thank infonya yah...kebetulan kantor saya dekat disana...


________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of elmyrha
Sent: Friday, September 19, 2008 3:38 PM
To: [email protected]
Subject: [bango-mania] Makan Siang Gaya Semarangan




Jakarta - Rumah makan yang satu ini memang pas untuk mereka yang
sedang kangen berat akan makanan khas Semarang. Dari tahu petis, nasi
langgi, semur koyor, hingga lumpia Semarang dapat Anda temui di sini.
Pokoknya... uenak tenan!

Jika ditanya tentang makanan khas Semarang, terus terang yang saya
tahu hanyalah lumpia Semarang yang terkenal itu. Eits, itu sebelum
saya diajak berkunjung ke rumah makan yang ada di bilangan Jakarta
Barat ini tentunya. Disini bukan hanya lumpia Semarang, saya pun
diperkenalkan dengan aneka penganan Semarang lainnya yang menggoyang
lidah.

Menurut teman yang mengajak saya ke sini, 'Waroeng Eddi' ini cukup
terkenal sebagai penjual makanan khas Semarang. Tak hanya rasanya
yang orisinil namun menu yang ditawarkan pun cukup lengkap, sebut
saja tahu petis, nasi langgi, nasi liwet Semarang, mangut atau semur
koyor semua komplet.

Waroeng Eddi sendiri sebenarnya memiliki dua cabang yaitu pusatnya
yang berada di Jalan Panjang dan satu lagi di bilangan Puri Indah
yang sedang kami sambangi ini.

Memasuki area rumah makan ini sebenarnya tidak ada yang istimewa,
karena tempatnya kecil, seperti layaknya ruko, sangat sederhana
dengan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Sedangkan di dinding
restoran terdapat beberapa testimonial dari artis yang pernah
mengunjungi rumah makan ini. Termsuk foto bareng pak Eddie sang
pemilik warung dengan Mr. Maknyuus, Bondan Winarno!

Daftar menu yang disodorkan masih diperjelas dengan aneka foto
berwarna dalam ukuran besar yang ditempel di dinding. Karena sangat
ingin tahu rasa makanan Semarangan maka kami memilih beberapa
signature dish khas Semarang; bistik galantin dan tahu gimbal udang.
Sebagai pembuka tahu petis dan lumpia, serta wedang kacang.

Tak perlu lama menunggu satu demi satu hidangan tersaji di meja. Tahu
petis disajikan dalam piring putih panas mengepul. Berisi tahu goreng
(sebesar tahu Sumedang) yang dibelah dua dengan isi petis berwarna
hitam pekat, berlelehan.

Rasa petis begitu 'nendang' beradu serasi dengan tahu yang lembut dan
agak sedikit garing. Menurut teman saya, petis ini bukanlah petis
asli tetapi adonan kanji yang diberi tinta cumi plus bawang putih.
Karena itu rasanya manis dan lebih encer dari petis asli. Rasa manis
gurih tahu petis makin enak saat dikunyah dengan cabai rawit segar.
Huahhh... huahh belum apa-apa kami sudah terengah-engah kepedasan.

Lumpia Semarang yang disajikan agak langsing dibandingkan lumpia
Semarang yang asli, kurang gendut dan padat. Disajikan panas lengkap
dengan acar mentimun plus sasu kecokelatan yang mirip lendir. Rasa
rebungnya lumayan segar, hanya saja kulitnya kurang 'crispy'.
Meskipun tanpa jejak ebi dan telur orak-arik yang berlimpah lumpia
inipun tandas. Dengan Rp 5000,00/buah rasanya cukup sesuai dengan
ukuran dan isinya. Apalagi menurut sang pelayan rebungnya langsung
didatangkan dari Semarang.

Sajian lain yang menarik dari warung ini adalah Bistik galantin.
Bistik ini sebenarnya merupakan pengaruh kuliner Belanda. Adonan ayam
dihaluskan bersama bumbu dan roti tawar lalu dibentuk seperti
lontong, dikukus dan digoreng.

Di Semarang sendiri galantin cukup terkenal dan banyak dinikmati kaum
menengah ke atas. Bistik yang tidak berupa daging utuh ini disajikan
dalam ebntuk potongan bundar setebal 0,75 cm dan disajikan berupa dua
potong bistik, kentang, irisan wortel, buncis, timun dan daun selada.

Sausnya berupa saus yang agak kecokelatan dengan rasa asam manis.
Bistiknya terasa lembut meskipun kurang 'nendang' rasa ayamnya.
Sausnya pun terasa kurang sedikit pekat dan sayurannya agak
minimalis. Maklum saja harganya dipatok Rp.12.000/porsi.

Setelah sampai di warung Semarang tentu saya tak melewatkan makan
tahu gimbal udang. Sajian ini berupa tahu pong (yang tengahnya
kosong) goreng dengan gimbal udang, plus telur rebus goreng.
Pelengkapnya berupa saus kecap dicampur petis yang encer, sementara
bumbu kacangnya ditaburkan di atas tahu gimbal.

Cara makannya, tahu, gimbal udang dan saus harus diaduk jadi satu
supaya bumbunya meresap. Setelah itu barulah dinikmati.
Wuah...rasanya manis, sedikit gurih plus pedas karena sambal cabai
rawit hijau. "Benar-benar 'nendang' dan uenaak," demikian komentar
teman saya. Rasa pedas di mulut akhirnya saya padamkan dengan
menghirup kuah wedang kacang yang manis. Kacang tanahnya empuk,
langsung lumer di lidah saat masuk ke mulut.. Sluururp! Sedap nian!

Meskipun tak bisa dibilang 100% tulen dan enak tetapi warung Eddie
bisa jadi alternatif obat kangen Semarang. Apalagi harga yang
dipasang tidak terlalu mahal. Bistik gelatin seharga Rp 12.000,- dan
tahu petis seharga Rp 2500,-/buah, serta Rp 12.500,- untuk seporsi
tahu gimbal udang.

Kapan-kapan kalau lewat daerah Kebon Jeruk mungkin saya mau mampir
lagi buat mencicipi nasi goreng babat, babat gongso dan semur koyor
yang katanya juga jadi andalan warung ini!

Waroeng Eddi
Jl. Raya Panjang No.64, Arteri Kelapa 2
Jakarta Barat
Telp 021-70385908

Jl. Pesanggrahan Raya No.8A, Puri Kembangan
Jakarta Barat
Telp: 70096248 ( dev / Odi )






PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia:
The contents of this e-mail and its attachments, if any, are for the intended 
recipient(s) only and may contain proprietary, confidential or otherwise 
private information. If you are not the intended recipient or if you have 
inadvertently received this email, please note that any use, disclosure, 
copying, distribution or any action taken or omitted to be taken in reliance on 
this e-mail or any attachments hereto is prohibited and may be unlawful, and 
that you should delete this e-mail and its attachments, if any, and duly notify 
us of the miss delivery by e-mailing the sender.

Kirim email ke