Thanks atas infonya.  Tetapi perlu dicatat bahwa hemat dan pelit sebenarnya 
sangat berbeda.
Hemat artinya membeli atau membelanjakan segala sesuatu sesuai kebutuhan . 
Pelit artinya tidak membeli atau membelanjakan sesuatu yang memang seharusnya 
dibutuhkan . Memang kadar kebutuhan akan berbeda beda , akan tetapi pernah 
dijumpai seorang nenek ( entah di AS atau Inggris saya agak lupa lokasinya ) 
kalo gak salah bernama Madam Mary , ia sering dikenal seperti gelandangan , 
ternyata saat ia mati , di apartemennya di jumpai sejumlah uang dan saham yang 
sangat besar , ternyata Madam Mary ini adalah seorang miliarder namun menjalani 
hidup bagai orang papa .
Dalam hidup ini banyak orang hemat belum tentu pelit dan orang pelit dan belum 
tentu hemat.

Salam.

Hend


 


----- Original Message ----
From: Hartati Nurwijaya <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 23, 2008 9:24:51 AM
Subject: [bango-mania] (OOT) Kiat Menjadi Kaya


Kiat Menjadi Kaya 
  
  
He who is not contented with what he has, would not be contented with what he 
would like to have 
 
  --  Socrates (469 BC – 399 BC) 
  
  
  
  
Seperti biasa setiap akhir pekan datang TKI dari Athena yang bekerja di rumah 
orang Yunani kaya. Saya sebut kaya sebab hanya mereka yang mampu untuk membayar 
gaji pembantu sebesar 750 Euro hingga 800 Euro per bulan. TKI  datang membantu 
dengan balas jasa 5 Euro per jam membersihkan rumah. Sejak saya kembali dari 
rumah sakit beberapa bulan lalu terasa agak beda. Saya cepat lelah apalagi  
mengurus tiga anak dan rumah dua lantai. 
  
Sambil membersihkan Mar berkisah. Bahwa di rumah majikannya tidak akan pernah 
ditemukan ada uang terselip di bawah kolong tempat tidur atau di bagian lain 
rumah. Sedangkan di rumah saya dia menemukan banyak logam sen euro. Terlepas 
majikannya tidak punya anak kecil. Lalu saya tanya padanya,”Mar, majikanmu itu 
kaya makannya apa?” 
“Di rumah majikan kalau masak ya cuma satu macam saja. Kalau spaghetti ya hanya 
itu saja menunya. Tidak seperti kita ya Bu orang Indonesia senang memasak 
macem-macem. Majikan saya pelit Bu! Walau rumahnay lima lantai dan luas 3000 
meter mirip istana Bu.” 
  
“Lah piyee toh Kamu ini. Orang Yunani lainnya malah lebih banyak jenis 
hidangannya,” saya menepis pendapatnya tentang orang Indonesia boros kalau 
punya uang. 
“Ya pantes saja majikanmu itu kaya. Sebab dia berhati-hati menggunakan uangnya, 
tidak boros.” 
  
Contoh perilaku majikan si Mar yang kaya. Bukan kasus pertama yang saya 
ketahui. Sejak kecil pun saya sudah mengerti mengapa Pak Tuo lebih aman 
hidupnya. Walau pun Pak Tuo hanya seorang pedagang dengan toko yang sederhana. 
Sebab istrinya yang saya panggil dengan sebutan Mak Tuo selalu berhemat dan 
hati-hati menggunakan uang. Bahkan hingga rendang jamuran berbulan-bulan 
disimpan di bawah tempat tidurnya. Alasannya agar tamu yang datang tidak 
meminta rendangnya. 
  
Dalam agama kita dilarang bersifat bakhil atau pelit. Bahkan dalam pergaulan 
pun orang pelit tidak disenangi. Perbedaannya tipis  antara pelit dan hemat. 
  
Pagi ini saya membaca email dari motivator Mike Brescia. Menurutnya ada tiga 
cara agar menjadi kaya. Pertam,  menerima penghasilan besar. Kedua, investasi 
uang dalam bentuk asset yang berguna. Contohnya Donald Trump yang kaya melalui 
investasi di bidang real estate dan gedung pencakar langit. Ketiga, tidak 
menghabiskan uang secara bodoh untuk hal-hal yang tidak berguna. 
  
Kasus yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita adalah cara ketiga. 
Banyak diantara kita yang terutama para ibu-ibu rumah tangga. Ketika saya masih 
bujangan dan sudah bekerja di BUMN. Setiap bulan gajian langsung belanja. Entah 
itu membeli baju atau buku-buku. Namun kebanyakan baju yang saya beli tidak 
saya pakai. Karena setelah dibeli dan dicoba di rumah merasa tidak suka. Saya 
tetap memakai baju kesayangan yang itu-itu saja. Akhirnya baju-baju yang dibeli 
saya berikan ke teman. 
  
Ada lagi teman seorang ibu dengan dua anak. Setiap dia belanja sering tergiur 
untuk membeli barang lain yang bukan dalam daftar belanjaan. Akibatnya dia 
terpaksa memakai kartu kredit dan tagihan datang tiap bulan beserta bunga yang 
besar. 
  
Sebaliknya ada seorang ibu yang selalu berhati-hati ketika berbelanja. Mertua 
saya misalnya. Ketika berbelanja dia memilih tempat belanja yang harganya lebih 
murah. Dengan barang yang sama  bisa didapatkan di tempat lain yang lebih 
murah. Contohnya barang-barang kebutuhan sehari-hari yang dijual di 
supermarket. Ada supermarket A menjual lebih mahal disbanding supermarket B 
dengan kualitas barang yang sama. 
  
Sehubungan dengan H-7 ummat Islam akan merayakan Idul Fitri. Semoga artikel ini 
bisa mengingatkan kembali masalah keuangan kita. 
  
Megara, 23 Ramadhan 1429 H 

Hartati Nurwijaya in Megara - Greece
ÌÒÇß Çááåõ ÎíÑÇð)

Ramadhan Karim

http://sumatra- bali-hartatinurw ijaya.blogspot. com/ 
 


      

Kirim email ke