Ini tempatnya yg deket sama Hero yg di pondok bambu bukan..?? yg 
didalemnya ada beberapa sangkar burung perkutut..??
lupa seh namanya yg biasa aku mampirin jugak...apa beda lagi yah neh 
satenya..??

"el"


--- In [email protected], "Priyadi Santoso" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Betul tuch apalagi tongsengnya wuuiiiiichhhhh enak bgt. Cuma klo 
lagi main ke rumah kaka di pondik bamboo aja suka makan disana
> 
>  
> 
> Best Regard
> 
> Priyadi S  a.k.a  Adhie/ T. 0051 / 0813.1418.5371 / 021 99069048
> 
> http://www.inter-metrofund.com/?id=adhie / www.k-link.co.id / 
www.klikvnet.com
> 
>  
> 
> From: [email protected] [mailto:bango-
[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of mediacare
> Sent: 14 Nopember 2008 16:27
> To: bango-mania
> Subject: [bango-mania] Sate Pak Budi
> 
>  
> 
> Lembut irisan dagingnya, meresap betul bumbunya 
> 
>  
> 
> Sate dan Sop Kambing bikinan Pak Budi, empuk dan segar
> 
>  
> 
> Tak jauh dari angkringan berkepala kambing, alat pemanggang 
berukuran jumbo mengepulkan asap tebal. Karyawan Sate Pak Budi ini 
tidak berhenti membakar hingga ribuan sate pesanan pelanggan saban 
harinya.
> 
>  
> 
> >Tunggul Joko Pamungkas
> 
>  
> 
> Bila Anda kerap melewati Jalan Pahlawan Revolusi, Jakarta Timur, 
tentulah tak asing dengan kepulan asap yang terus-terusan menguar 
dari kedai ini. Tepat berada di seberang Kantor Pos Pondok Bambu, 
aroma sate langsung menyudut seluruh indra perasa. Tak terasa 
perutpun langsung meronta.
> 
>  
> 
> Untungnya beduk sebagai tanda berbuka puasa sayup-sayup sudah 
terdengar. Saya pun buru-buru mengambil tempat. Hup...untunglah masih 
ada satu tempat yang tersisa untuk saya. Kini, total ada 70 
pengunjung yang siap melahap sate di Sate Kambing Pak Budi. Di luar 
itu, masih ada banyak pengunjung yang terpaksa menunggu antrean 
pengunjung lain.
> 
>  
> 
> Tak berapa lama, sate pesanan saya pun datang. Barisan daging dalam 
ukuran jumbo yang tertusuk oleh sebilah bambu tampil cantik di atas 
sebuah piring. Seperti tampilan sate di kedai ini juga punya aksesori 
yang lengkap. Yakni, potongan tomat, irisan bawang merah serta 
mentimun.
> 
>  
> 
> Tak lupa, sate berlumuran dengan kecap yang terbilang royal serta 
potongan cabe rawit. Hm....tak sabar untuk segera menandaskannya. 
Apalagi, sepiring nasi putih sedari tadi juga mengepulkan asap 
menggoda.
> 
>  
> 
> Benar juga! Sate Kambing racikan Pak Budi benar-benar top markotop! 
Sate dibakar dengan tingkat kematangan yang benar-benar pas. Tidak 
alot lantaran tak matang, juga tak terlalu gosong.
> 
>  
> 
> Dagingnya terasa lembut kala bersentuhan dengan lidah. Cuilan 
daging-daging empuk itu mencuatkan pula rasa manis dan gurih 
sekaligus. Tak ada bau perengus yang merebak dari potong demi potong 
daging itu.
> 
>  
> 
> Dua ratus pengunjung setiap hari
> Lidah saya pun semakin tak berdaya kala sate berbaur dengan lumuran 
sambal kecap yang melimpah. "Selain membakar dengan margarin, saya 
juga menggunakan kecap spesial. Jadi, saat masih dalam pembakaran 
pun, aromanya sudah nikmat," ujar Pak Budi berbagi rahasia.
> 
>  
> 
> Berjualan sate sejak 30 tahun lalu, Pak Budi tampaknya benar-benar 
tahu selera pengunjung kedainya. Seperti kedai sate lainnya, Pak Budi 
juga menjajakan penganan lain yang berbahan dasar daging embek, 
seperti tongseng dan sop kambing.
> 
>  
> 
> Jadi, kalau emoh makan sate sama nasi doang, cobalah merasai Sop 
Kambingnya! Rasanya segar banget, persis seperti aromanya. Sop ini 
berisi jeroan kambing, tulang kambing yang masih berdaging, serta 
sayuran seperti wortel dan kol. Kuahnya gurih banget. Sama sekali tak 
membikin eneg. Tambahkan kecap manis dan acar yang selalu tersedia di 
tiap meja yang ada di kedai.
> 
>  
> 
> Biarpun kuah sopnya berwarna keruh dan tidak bening, Pak Budi 
rupanya tidak menambahkan santan atau susu ke dalam Sop Kambing 
ini. "Cuma kemirinya memang harus banyak," ucap dia.
> 
>  
> 
> Namanya juga sop, Pak Budi selalu menyajikan Sop Kambing buatannya 
dalam kondisi panas terus-menerus. Walhasil, jika pengunjung datang 
di malam hari, kuah sop dan daging kambing sudah pasti bisa mengusir 
dinginnya malam. Greng, deh.
> 
>  
> 
> Selain menu serba embek, Pak Budi juga tak lupa menyisipkan menu 
lain, seperti Sate Sapi. Jadi, jangan khawatir bila Anda atau 
keluarga tidak doyan santapan kambing disini. "Saban hari, ada saja 
orang yang minta Sate Sapi atau Sate Ayam," ujar wong Wonogiri ini.
> 
>  
> 
> Pak Budi bilang, semua resep sate dan sop adalah hasil kreasinya 
sendiri. Maka, semua olahan yang tersaji di empat cabang yang kini 
tersebar di seantero Jakarta, yakni Tugu Revolusi, Taman Proklamasi, 
Bintaro, serta Bekasi, berasal dari satu dapur hasil racikan Pak Budi.
> 
>  
> 
> Buka tiap hari dari jam 11 siang sampai jam 11 malam, kedai Pak 
Budi dikunjungi oleh ratusan pengunjung. Khusus pada bulan Ramadhan, 
Pak Budi membuka kedai dari jam 15.00 sampai 22.30.
> 
>  
> 
> Selain sudah pasti karena rasa, Pak Budi juga tidak terlalu mahal 
membanderol menu-menu di kedai ini. Untuk sepiring Sate Kambing 
sepuluh tusuk, misalnya, Pak Budi memberi harga cuma Rp 14.000. 
Adapun Sate Sapi sebesar Rp 15.000 serta Sate Ayam berbanderol harga 
Rp 11.000 per porsi. Sedangkan harga sepiring nasi dalam ukuran 
kenyang Rp 3.000.
> 
>  
> 
> Pak Budi bilang, saban hari, kedainya di Jalan Pahlawan Revolusi 
ini mampu meludeskan 2 kg daging sapi dan 5 kg daging ayam tanpa 
tulang. Sementara itu, untuk Sate Kambing, Pak Budi mengaku 
menghabiskan 15 kg sampai 20 kg daging kambing.
> 
>  
> 
> Nah, bila 1 kg daging kambing menjadi 60 tusuk sate, "Setiap hari, 
saya menjual rata-rata 20 kg atau lebih 1.200 tusuk sate," ujar Pak 
Budi sumringah.
> 
>  
> 
> Dalam hitungan Pak Budi, jumlah pengunjung kedai ini rata-rata 
mencapai 200 orang per hari. Bila satu orang menandaskan duit Rp 
17.500 hingga Rp 20.000 tiap makan, "Omzet saya sekitar Rp 3,5 juta 
sampai Rp 4 juta per hari," ujar pria asal Wonogiri yang punya nama 
asli Senen Riyanto ini.
> 
>  
> 
> Jumlah ini tentu saja belum termasuk cabang lain yang juga punya 
pelanggan mengular.
> 
>  
> 
> Enak benar, kan?
> 
>  
> 
> Sate Pak Budi
> Jalan Pahlawan Revolusi (Depan Kantor Pos Pondok Bambu) Jakarta 
Timur
> Telp 021-86602157
> 
>  
> 
> Kontan
> Minggu, 14 September 2008
> _____________________________________________________
> 
>  
> 
> Langganan Istana Negara
> 
>  
> 
> Bagi para petualang kuliner, Sate Kambing Pak Budi bukanlah nama 
yang asing. Maklum saja, pria kelahiran Wonogiri 63 tahun yang lalu 
ini sudah sejak 1978 bergulat dalam bisnis sate.
> 
>  
> 
> Warungnya di Taman Proklamasi, misalnya, kerap dipanggil untuk 
menjami para tamu negara di Istana Presiden. "Itu dari 1990 sampai 
1998 ketika Pak Harto masih menjabat presiden, saya kerap dipanggil," 
ujar Pak Budi. Tak hanya saat peringatan Ulangtahun Kemerdekaan 
Republik Indonesia, tapi juga saat acara buka puasa.
> 
>  
> 
> Pak Budi mengaku tak tahu asal muasal satenya menjadi santapan 
kegemaran di Istana. Pria bernama asli Senen Riyanto ini menduga 
kalau dirinya bisa menjamu para tetamu Istana karena tak banyak kedai 
yang menjual Sate Kambing, Tongseng dan Sop Kambing kala 
itu. "Otomatis warung saya banyak pengunjungnya," ujar Pak Budi, 
merendah.
> 
>  
> 
> Alasan lain adalah banyak pegawai Istana Kepresidenan yang kerap 
mampir ke warungnya. "Mungkin mereka yang merekomendasikan," ujar dia.
> 
>  
> 
> Nah, jika kudu menjamu para tamu Istana, Pak Budi bisa menghabiskan 
dua ekor kambing dalam hitungan jam. "Biar dagingnya tetap segar, 
saya memotong kambingnya langsung di Istana, lo," kenang Pak Budi.
> 
>  
> 
> Jika Pak Budi tak tahu alasan Istana mengundangya ke Istana, ia 
tahu persis soal pilihan nama untuk kedainya. Soalnya, nama Budi 
diambilnya dari nama anak sulungnya, Eko Setyo Budi. "Lagi pula, 
ketimbang Senen, nama bUdi lebih menjual dan gampang diingat, kan?" 
ujar dia.
> 
>  
> 
> Meski sudah punya banyak cabang, Pak Budi mengaku belum berhasrat 
untuk mengembangkan warung dengan sistem waralaba atau bermitra 
dengan orang lain. "Saya lebih suka mengelola sendiri. dengan modal 
sendiri lebih bebas," ujar Pak Senen, eh, Pak Budi, disusul tawa yang 
lebar. 
> 
>  
> 
> Kontan
> Minggu, 14 September 2008
> __________________________________________________
> 
>  
> 
> ________________________________
> 
> ** 
> 
> 
> 
> “This e-mail (including any attachments) is intended solely for 
the addressee and could contain information that is confidential; If 
you are not the intended recipient, you are hereby notified that any 
use, disclosure, copying or dissemination of this e-mail and any 
attachment is strictly prohibited and you should immediately delete 
it. This message does not necessarily reflect the views of Bank 
Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer 
viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by 
any virus and any malicious code transmitted by this e-mail. 
Therefore, the recipient should check again for the risk of viruses, 
malicious codes, etc as a result of e-mail transmission through 
Internet”
>


Kirim email ke