Era Food Gathering dan 4 Kuadran Kuliner.

Beberapa puluh abad yang lalu, manusia berburu makanan; atau sering kita kenal 
dengan era 'food gathering'. Ternyata era ini berulang lagi dalam kehidupan 
kita di abad 21 ini.

Seberapa sering anda makan dirumah? Apakah anda lebih sering makan diluar 
daripada memasak sendiri?

Sebagian besar dari kita telah kembali ke era food gathering, seperti nenek 
moyang kita dulu. Kita jarang lagi menanam jagung di kebun kita, atau menyemai 
kentang di ladang kita. Kalaupun kita berkebun atau bercocok tanam, itu 
pastilah hobi, atau bagian dari bisnis kita. Kita jarang sekali bisa memasak 
apa yang kita tanam. Manusia kembali berburu untuk makanan.

Bedanya, dulu pilihan berburu sangat terbatas, jadi manusia cenderung tidak 
pilih-pilih ketika berburu. Mana ada, mana sikat!

Di era food gathering abad 21, manusia dijejali dengan begitu banyak pilihan 
makanan. Dari kaki lima sampai restoran mewah, dari makanan lokal tradisional 
sampai gerai modern franchise dari negara lain, dan masih banyak lagi 
pengkategorian makanan yang ada di sekitar kita.

Saya mencoba membagi bagaimana manusia sebagai makhluk konsumsi memutuskan apa 
yang akan menjadi "buruannya" berupa apa yang dia makan dan minum menjadi empat 
kuadran yaitu:

1. The Common (C)
2. Price Comparative (P)
3. Sense Seduction (S)
4. As Destination (D)


Mari kita bahas satu persatu.

Kuadran pertama : The Common (C)

Kuadran pertama yaitu The Common (C), adalah ketika kita pergi ke sebuah 
restoran-yang-entah-dimana dan memiliki daftar menu panjang, lalu memilih menu 
NASI GORENG dan ES TEH (berlaku apabila anda orang Indonesia pada umumnya, 
tentunya). Atau misal ketika kita berada di Paris, lalu masuk ke McD, karena 
bingung menentukan pilihan makanan, sedangkan kita sudah sangat lapar.

Yang dimaksud di kuadran C adalah kondisi pemilihan menu yang sudah umum anda 
konsumsi, yang anda sudah tahu persis atau 'kira-kira' rasanya seperti apa. 
Kita main aman, tidak mau ambil resiko akan rasa makanan baru, ataupun untuk 
harus membayar harga yang (mungkin) terlalu mahal.

Kuadran kedua : Price Comparative (P) 

Price comparative (P) adalah kuadran dimana ketika kita berada di sebuah tempat 
dan dengan berbagai macam makanan dan harga, atau ketika di restoran disodori 
daftar menu, dengan harga yang bervariasi. Kita kemudian membandingkan 
harga-harga tersebut dan menghitung dengan asas ekonomi, apa yang sekiranya 
murah dan membuat kenyang, itulah yang kita pilih. 

Kuadran ketiga : Sense Seduction (S)

Kuadran berikutnya adalah Sense Seduction (S) dimana terletak kondisi ketika 
kita membaui aroma terasi yang ditumis, atau sate yang dibakar disebuah jalan, 
lalu tiba-tiba kita merasa lapar ingin makan sate. Putar balik, sampailah kita 
ke warung sate tersebut.

Iklan makanan dijalan, melihat orang lain sedang makan makanan tertentu, atau 
mendengarkan cerita yang berhubungan dengan makanan sehingga membuat kita lapar 
dan ingin makan, melihat gambar sebuah makanan di buku menu dan memilihnya, 
adalah kondisi-kondisi yang bisa menyebabkan kita berada di kuadran S ini.

Kuadran keempat : As Destination (D)

Kuadran terakhir adalah As Destination (D). Kondisi semisal; ketika kita sejak 
bangun tidur dirumah, sudah membayangkan ingin makan bakmi jawa Mbah Mo nanti 
malam. Bakmi Mbah Mo sebagai tujuan spesifik apa yang kita makan. 

Kondisi D ini sebenarnya adalah efek dari ketiga kuadran yang lain. Kita sudah 
tahu persis seperti apakah bakmi jawa tersebut (C), kita sudah tahu kira-kira 
berapa harganya (P), dan kita sudah bisa membayangkan rasa, warna, bentuk dan 
aromanya (S).

Artikel oleh Fajar Handika.
Juga dipublikasikan di http://andylicate.wordpress.com


      

Kirim email ke