Oleh Kafi Kurnia

Menurut Mpu Peniti, mentor saya, barangkali inovasi terhebat
yang pernah ditemukan oleh manusia, percaya atau tidak adalah
SATE ! Mulanya saya ketawa terpingkal-pingkal mendengar
komentar ini. Karena menurut saya, masih banyak inovasi yang
spektakuler. Seperti misalnya roda!

Namun Mpu Peniti langsung menyanggahnya. Menurut beliau, jangan
dilihat dari sepelenya sate. Tapi dari konsepnya. Yaitu memasak
sesuatu di bara api dengan menggunakan satu tangkai penusuk.
Tanpa harus menggunakan wadah atau wajan, dan juga tidak perlu
minyak goring. Sederhana, tapi efektif. Mungkin Mpu Peniti
benar juga. Karena, kalau dipikir-pikir, secara intuitif,
barangkali hanya ada satu penemuan yang ditemukan manusia
secara beramai-ramai, diseluruh dunia. Secara bersamaan dan
satu ide yang seragam. Yaitu barbeque ala sate itulah !

Jadi bila kita menelusuri sejarah sate, kemungkinan besar sate
bukanlah masakan asli dari Indonesia. Walaupun dari
populeritasnya, tak dapat dipungkiri, bahwa sate adalah salah
satu masakan Indonesia yang terpopuler. Cara memanggang daging
dengan ditusuk dan dibakar diatas bara api, boleh jadi
ditemukan oleh manusia secara bersamaan sejak jaman batu dulu.
Karena memang inilah cara memasak yang paling praktis. Itu
sebabnya hidangan barbeque yang mirip sate ada dalam setiap
budaya kuliner di seluruh penjuru dunia.

Di Rusia ada Shashlik. Bangsa Perancis mengenal Brochette. Lalu
di Italia ada Spiedino. Pinchitos adalah sate ala Spanyol, dan
Espetada adalah versi bangsa Portugis. Negara Amerika Latin
juga punya versi khusus. Brazil menyebutnya dengan Espetinho,
dan Banderilla di Mexico. Sate juga merambah hingga Afrika,
misalnya Suya di Nigeria dan Sosatie di Afrika Selatan. Di Asia
sate meraja rela dimana-mana. Mulai dari Vietnam, Korea dan
Jepang. Yakitori begitu sebutan sate di Jepang. Walaupun
namanya berbeda-beda, di ASEAN umumnya dikenal dengan satu nama
SATE.

Diantara sekian banyak cerita dan dongeng, sejarah sate yang
paling menarik adalah Kebab. Yang berasal dari bahasa Arab,
yang artinya daging goreng, dan bukan daging bakar. Konon, di
Eropa dan Turki, ketika bangsa Yunani mulai berkelana dan
menjadi penakluk daerah sekitar Eropa dan Afrika, serdadu dan
prajurit saat itu memanggang daging hewan buruan, diatas bara
api dengan menusuknya dengan pedang atau belati. Dari sinilah
konon beredarnya tradisi sate jaman modern. Setelah itu tradisi
ini terbawa oleh serdadu dan prajurit lain lewat konflik dan
perang dari satu abad keabad berikutnya. Lewat jalan sutra atau
SILK ROAD kemungkinan tradisi ini dibawa pedagang dan
beradaptasi dengan budaya sekelilingnya. Menjadi resep-resep
baru dengan menggunakan rempah-rempah local. Ibn Battuta,
pengelana dan explorer beken dari Maroko di abad ke 13 menulis
dalam satu jurnalnya bahwa sate sudah disajikan di Istana
Sultan di India pada abad itu.
Kata Sate sendiri, konon popular dan menjadi istilah
internasional yang dilafalkan dalam bahasa Inggris menjadi
SATAY. Sejarahwan menebak bahwa kata SATE kemungkinan berasal
dari sebuah dialek Cina, tepatnya Amoy yang artinya susun tiga.
(三疊). Saya ingat cerita dari kakek, bahwa secara
tradisi, sate itu memang terdiri dari 3 susun daring. Umumnya
dengan konfigurasi, daging-lemak-daging. Kemungkinan besar,
dijaman dahulu kaum imigran dari Cina dengan uang terbatas,
memasak lauk untuk makan sehari-hari dengan cara sederhana ini.
Amoy sendiri sebenarnya adalah nama pelabuhan industry, di
pulau Xiamen, di provinsi Fujian, yang sejak dahulu kala sudah
dikenal gara-gara perdagangan teh. Sejak tahun 1540, pelabuhan
ini sudah ramai dikunjungi bangsa-bangsa Eropa. Dan kemungkinan
besar dijaman yang sama kaum imigran dari Cina ikut menyebrang
ke Asia Tenggara. Mungkin saja diantara kaum imigran itu juga
banyak gadis-gadis yang ikut mengadu nasib ke Asia Tenggara,
sehingga gadis dari wilayah itu, dikenal menjadi sebutan
generic AMOY (gadis Cina).
Di Indonesia sate berkembang menjadi seni kuliner tersendiri.
Mulai dari racikan rempah-rempah hingga cara makannya yang
khas, serta bumbu kacang dan sambelnya. Dari sekian bumbu itu,
satu yang tak boleh tertinggal barangkali adalah kecap manis.
Kecap barangkali adalah perasa natural yang paling banyak
digunakan di berbagai Negara Asia. Sejarahnya cukup tua, lebih
dari 3.000 tahun berasal dari Cina. Kata "kecap", diduga
diambil dari bahasa Amoy kôechiap atau kê-tsiap. Di Cina
sendiri dikenal kecap yang lebih kental dan sedikit manis,
tetapi tidak semanis kecap manis di Indonesia.
Jadi melihat berbagai peleburan sejarah dan budaya yang
mempengaruhi kreasi kuliner yang satu ini, sate di Indonesia
memang merupakan hasil ciptaan gado-gado yang unik. Saat ini
hidangan sate di Indonesia, tersebar disegala penjuru dan
menggunakan hamper semua daging yang kita kenal. Mulai dari
ayam hingga ikan,penyu, dan juga kuda. Beberapa yang terkenal
dan menjadi legendaris adalah sate Madura, sate Blora, sate
Ponorogo, dan sate Ikan dari Bali. Cara makan dan menyajikannya
juga berbeda-beda. Beberapa diantaranya yang paling popular
adalah dimakan dengan ketupat, lontong dan irisan mentimun
segar.
Restoran OASIS, di Jalan Raden Saleh 47, Cikini-Jakarta Pusat,
pada malam tahun baru ini (31 DESEMBER 2008) akan menampilkan
sebuah kreasi lama yang diambil dari sebuah resep pusaka. Yaitu
SATE REMES. Membuat sate yang enak dan empuk tidaklah mudah.
Tapi menjadi sebuah seni tersendiri. Karena pemilihan daging
merupakan kejelian yang sangat rinci. Hanya daging berkualitas
tinggi yang akan menghasilkan sate yang empuk dan lezat. Lalu
cara memotongnya juga merupakan seni tersendiri. Harus menuruti
arah dan jaringan urat yang pas, untuk menghindari daging sate
menjadi kenyal dan keras setelah dibakar nanti.
Setelah dipotong, maka daging sate harus di rendam dan bumbu
racikan yang khusus. Sate Remes ala OASIS, dipersiapkan dengan
ritual pemijatan daging yang merata dengan bumbu rahasia,
sehingga daging menjadi gurih dan empuk ketika dibakar. Itu
sebabnya sate ini diberi nama sate remes. Karena dibuatnya
memang sambil diremes-remes, alias dipijat secara merata dan
menyeluruh.Ketika dibakar sate Remes, ditusuk dengan batang tebu, untuk
mendapatkan aroma caramel yang wangi dan khas. Sate Remes
setelah matang disajikan dengan sambal dan irisan cabe serta
bawang mentah. Rasanya selangit ! Seperti diawang-awang. Gurih
dan empuk sekali. Barangkali inilah sate terbaik di Indonesia.

Bilamana anda ingin mencoba SATE REMES ala OASIS, silahkan
membuat reservasi di telpon +62213150646. Sate Remes dihadirkan
khusus dalam Rijsttafel menyambut Old & New 2009.

Kirim email ke