Perjalanan Promosi Buku Hidangan Favorit ala Mediterania di Surabaya
 
 
 
Berangkat ke Gambir lebih awal di Kamis petang dari Kebun Jeruk saya merasa 
santai saja. Jadwal KA ke Surabaya dari Gambir jam 20.00 WIB. Jam 17.00 WIB 
saya sudah tiba di Gambir. Mendapati Mas Iqbal Santosa sudah tiba di Gambir 
juga.
Gia dari Digibook belum juga nongol. Di sms ternyata sedang dalam perjalanan. 
Akhirnya bertemu Gia dan Mas Iqbal di kantin tempat saya membeli jus mangga.
 
Berbeda dengan KA yang saya naiki ke Yogya. KA ke Surabaya yang saya naiki 
tampak kurang terjaga kebersihannya. Walau pun kami duduk di kelas executive.  
Baru beberapa menit duduk, sudah dihidangkan  nasi goreng dan teh manis.  Saya 
sulit memakannya  dan teh manis tidak dapat saya minum. Karena saya pergi 
menjenguk ke gerbong restoran yang berjarak satu gerbong saja dengan tempat 
duduk kami. Saya duduk bersebelahan dengan Gia. Sedang Mas Iqbal berada di 
gerbong lain.
 
Baru melangkah melewati besi pemisah antar gerbong yang gonjang-ganjing. Saya 
sudah mencium bau tak sedap dari WC. Saya melihat  jejeran jiregen plastik yang 
warnanya sudah buram dan terlihat kotor. Jirigen itu tampaknya bekas diisi air 
teh. Kemudian saya melongok kembali dan melihat tukang masak restoran sedang 
mendengkur di lantai disisinya ada kotak kosong roti dari bakery.  Lantai 
restoran tampak hitam dan kotor. Jajaran alat masak, piring,  panci, gelas dan 
perlatan lainnya di dapur kotor dan berserakan. Saya tidak dapat membayangkan 
bagaimana nasi goreng yang dihidangkan oleh pramugari-ra di KA tadi tampak 
rapi. Tetapi asalnya dari gerbong restoran yang sangat kotor tadi.
 
Sampai di stasiun Pasar Turi hari masih pagi. Sekitar jam 6.00 WIB. Sejak di 
dalam KA,  Pak Andreas Adi manager Toga Mas Surabaya sudah sms-an dengan saya.  
Kereta tiba agak lambat dari jadwal semestinya. Lambat satu jam. Turun di 
stasiun langsung menuju ke pintu keluar bagian belakang. Wajah Pak Andreas 
belum juga tampak. Saya mendapat panggilan telepon genggam, ternyata Pak 
Andreas sudah menunggu sejak tadi di ruang tunggu dekat loket. Kami menuju kea 
rah ruang tunggu dan ternyata Pak Andreas sudah berjalan mencari kami. Akhirnya 
kami memutuskan menunggu hingga beliau datang ke lokasi kami. Agar tidak 
cari-carian lagi.
 
Pak Andreas tinggi, agak gembul,  senyuman pasta giginya  ramah.  Benar-benar 
sangat bersahabat dan kami cepat akrab.  Logat Jawa Timurannya terdengar kental 
walau kami berbahasa Indonesia. Bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Kami 
dibawa menuju ke mobil Kijang tahun 80-an miliknya. Terasa lega setelah duduk 
lama di kereta api yang semak.
 
Kami ditanya hendak sarapan apa Jumat pagi itu. Langsung saya jawab spontan 
“Pak Andreas tolong bawa kami ke tempat soto paling enak di Surabaya.”
“Soto apa Mbak? Soto daging apa soto ayam?”
“Tolong ke soto ayam saja,” jawab saya mengingat saya harus hati-hati 
menkonsumsi daging akibat jantung saya sudah pakai device amplatzar.
Dari penampilan tekstur tubuh Pak Andreas saya sudah mengira bahwa beliau pasti 
senang makan. Dan ternyata dugaan saya benar. Beliau menerangkan bahwa dia suka 
sekali menjelajah ke tempat makanan yang lezat di Surabaya.
 
21 Nopember 2008, Jumat pagi itu adalah saat pertama dalam hidup saya 
menginjakkan kaki di ibukota Jawa Timur. Seumur hidup saya belum pernah ke 
Surabaya. Walau pun zaman saya masih kerja di Litbang Perum Pegadaian sering ke 
daerah untuk meneliti kinerja kantor cabang. Saya pernah ke Ujung Pandang, 
Sumatra dan kota di Jawa Tengah. Jawa Timur belum pernah.
 
Dari stasiun Pasar Turi, kami dibawa menjelajah Surabaya. Saya melihat Surabaya 
hamper mirip Yogyakarta.  Mirip jika dilihat dari jalan rayanya yang sempit dan 
banyak tanaman hijau di setiap sudut kota. Berhenti di sebuah warung (lebih 
tepat warung ya sebab kalau restaurant tempatnya kurang luas). Soto yang 
diminati oleh Pak Andreas saat itu dipilih Soto Gubeng Pojok di Jalan Kusuma 
Bangsa 30. Kuah soto dimasak dalam panci aluminium besar. Disisi panci daging 
dan telur rebus. Dengan senang hati penjualnya bersedia difoto. 
 
Dalam warung soto tersebut ternyata ada Encik yang menjual minuman dan beberapa 
jenis makanan ringan. Saya memilih ketan srikaya dan minuman saya pesan air 
sari kacang hijau. Terasa lezat sekali soto daging dengan irisan jeruk nipis. 
Air sari kacang hijau yang hangat juga terasa sangat sedap ditenggorakan dan 
lidah. Walau pun cita-cita ingin makan soto ayam belum kesampaian. Saya merasa 
nyaman telah menikmati soto gubeng.
 
Cek in di Hotel adalah jam 12.00 WIB keatas, maka untuk menanti waktu itu kami 
sempatkan berkunjung ke MP Book Point (Mizan) di Surabaya. Mas Iqbal bertemu 
manager Mizan di Surabaya. Dan Mas Iqbal memutuskan untuk sholat Jumat bersama 
dengannya. Saya dan Gia diajak Pak Andreas ke gerai Toga Mas di Mal.
 
Jam sudah hampir 12 siang. Saya meminta agar dibawa ke penjual gado-gado yang 
enak. Pak Andreas yang memang senang wisata kuliner. Mengajak kami ke warung 
gado-gado Kupang Jaya Cak Dar.
 
Warungnya hanya memakai tenda dan tempat duduk hanya dua baris saja. Namun 
pembeli yang antri sangat ramai. Tak lama memesan sepiring gado-gado dengan 
ketupat dihidangkan. Hmmm rasanya… benar sangat lezaaat. Saya merasa gado-gado 
ini yang paling lezat yang pernah saya nikmat. Sudah acap saya makan gado-gado 
Padang, Betawi  dsbnya. Cuma gado-gado Cak Dar ini terasa beda di kuah saus 
kacangnya. Entah apa rahasianya, saya tidak sempat tanya. Ingin tambah rasanya. 
Cuma malu juga.. h ehe heee
 
Petang harinya acara book signing diadakan di Toko Buku Diskon Toga Mas 
Diponegoro. Letak gerai Toga Mas yang baru ini dekat dengan lambang kota 
Surabaya. Patung buaya dan ikan. Sayang saya belum sempat berfoto didekat 
lambang kota itu. 
 
Selesai book signing kembali wisata kuliner makan malam. Kali ini tujuan ke 
rawon.  Saya lupa nama tempatnya, yang saya ingat bukan rawon setan. Sebab 
menurut penuturan Pak Andreas rawon ini lebih lezaat daripada rawon setan. 
Warung rawon ini menurut penuturan,  konon tempenya pernah dipesan oleh SBY.  
Karena sudah kecapekan saya hanya semangat memfoto hidangan rawonnya, tahu dan 
tempenya. 
 
Kembali ke Novotel, beribadah dan sempat menonton tv dulu. Tak lama saya sudah 
terlelap akibat keenakan menikmati hidangan dua jenis soto dan  gado-gado yang 
unik.
 
Pagi hari sarapan di hotel. Makanan beraneka ragam. Serba ada. Dari mulai bubur 
kacang hijau, mie ayam, bubur sum-sum, pecal,  sosis, donat, hingga buah zaitun 
pun ada. Sangat banyak minuman dan makanan melimpah ruah disaat breakfast di 
hotel.
 
Siang hari acara demo masak diadakan di gedung perpustakaan kota. Berbagai 
umbul-umbul buku Hidangan  Favorit ala Mediterania dipasang di depan gedung dan 
dalam ruangan. Terasa waah! Bahkan Ibu Walikota juga diundang.
 
Demo masak tiga macam hidangan yang saya tulis di buku. Ada  Frittata,  salad 
Yunani dan spaghetti.  Undangan yang hadir cukup banyak.  Semua bangku dipenuhi 
para Ibu anggota PKK. Ditambah lagi hiburan musik dang-dut yang diringi organ 
milik perpustakaan, membuat acara ini cukup heboh.
 
Buku juga dijual oleh Toga Mas di tempat acara dengan diskon 25% hanya pada 
hari itu saja. Pak Andreas telah sangat berjasa membantu acara di Surabaya ini. 
Bukan hanya mengenalkan saya pada kelezatan hidangan disana, juga memberi 
bantuan akomodasi selama bermalam  di Surabaya.
 
Megara, 5 Januari 2009 
 
 
 
 
 
 
Hartati Nurwijaya in Megara - Greece



http://hartatinurwijaya.blogspot.com/



      

Kirim email ke