Memancing Selera dengan Masakan Lokal




  
Kompas/Benny Dwi Koestanto 
Suasana Rumah Makan Kembang Goela Bali di Petitenget, Kerobokan, Bali.  

Minggu, 22 Februari 2009 | 01:40 WIB 
BENNY D KOESTANTO

Membuka
restoran dengan sajian aneka hidangan khas Nusantara di tengah
perkampungan warga asing ibarat membuka restoran Indonesia di
mancanegara.

Itulah yang terjadi dengan Restaurant Kembang Goela Bali. Pengelola restoran 
itu memancing selera ekspatriat dengan aneka pilihan masakan lokal.

Satu dasawarsa belakangan kawasan selatan Bali, mulai dari Petitenget dan Uma 
Alas
di Kerobokan dan Canggu, hingga kawasan mendekati Pantai Tanah Lot
berkembang menjadi kawasan vila yang ditinggali ekspatriat yang bekerja
maupun membuka bisnis di Bali. Aktivitas keseharian mereka mau tidak mau sangat 
erat dengan aktivitas warga asli.

Perilaku wisatawan mancanegara, khususnya pascapeledakan bom Bali
tahun 2002 dan 2005, pun sedikit banyak berubah. Sebagian dari mereka
mulai mengubah minat dari wisata ramai-ramai ke wisata eksklusif,
tetapi sekaligus intens karena hidup atau merasakan tinggal menyatu
dengan warga sekitar.

Maka, pilihan untuk tinggal adalah vila
seperti di Petitenget dan sekitarnya maupun ke sejumlah hotel butik.
Mereka jalan-jalan, pergi ke warung, berbelanja di sekitar tempat
mereka tinggal.

Seiring dengan kondisi itu, sejumlah fasilitas
pendukung kehidupan mereka pun bermunculan. Ada taman bermain hingga
taman kanak-kanak, balai kesehatan dan toko swalayan yang buka 24 jam,
dan tak ketinggalan aneka restoran dan kafe.

Di antara aneka restoran dengan menu internasional, dengan desain bangunan 
modern minimalis, Restaurant Kembang Goela Bali di bagian depan kompleks Silq 
Villa di Jl Petitenget berusaha menampilkan sesuatu yang berbeda.

Tampil dengan konsep, gaya penampilan, hingga jenis makanan dan minuman yang 
sama dengan Kembang Goela Jakarta, Kembang Goela Bali
pun menghidupi filosofi dan semangat pendirian Kembang Goela:
melestarikan, mengangkat citra dan kualitas makanan asli dari seluruh
wilayah Nusantara, terutama makanan langka. Khusus di Bali, filosofi itu meluas 
ke ”dunia kecil”, yakni kehidupan keseharian para ekspatriat dan wisatawan.

Oom Yance

Dengan moto The Isles of Colourful Spice Kembang Goela menyajikan masakan 
dengan bumbu khas Nusantara. Resep makanan yang telah dikenal sejak zaman nenek 
moyang kita bisa dinikmati di sini seraya bernostalgia ke masa lalu.

Mulai dari umpan tekak Sosis Oom Yance, sup asem-asem iga, dendeng balado, ikan 
gurame kremes, Ayam Mevrow Lientje, Kopyor Duren, Es Jangan Ditanya, dan bila 
diinginkan juga aneka minuman anggur siap disajikan.

Seluruh menu disajikan menarik, segar, higienis, tanpa MSG, halal, dan ditata 
khas Kembang Goela, dengan harga Rp 10.000-Rp 200.000 plus pajak 15 persen.

Sosis Ayam Oom Yance merupakan salah satu menu unik. Panjangnya 75 sentimeter 
(di Kembang Goela Jakarta panjangnya 1 meter, di Bali
disesuaikan dengan lebar dan panjang meja), yang diberi saus berbasis
mustard. Sosis diolah dengan rempah-rempah sehingga menghasilkan rasa
yang lembut di mulut. Ketika dicocol dengan saus mustard, rasanya
menjadi semakin lezat.

Jangan lupa mencoba dendeng balado.
Dengan irisan daging tipis dan lebar, nyaris seukuran kerupuk udang
besar, makanan ini sangat renyah dan gurih. Rasanya semakin pas ketika
dipadukan dengan nasi kuning maupun putih yang pulen dan hangat.

”Pada
beberapa jenis makanan, bumbu rempahnya akan kami perkuat agar terasa
kebaliannya dengan tetap mempertahankan kekhasan Kembang Goela.
Pelanggan kami, misalnya, tidak pernah lupa menikmati sup asem-asem
iga,” kata PR Manager Kembang Goela Bali J William,
di sela-sela peluncuran rumah makan itu, Jumat (13/2). Rasa sup itu
mantap, campuran antara gurih dan asam, plus irisan iga yang empuk.

Dibuka sejak awal Desember 2008, setelah didahului survei pemilihan tempat, 
Kembang Goela Bali langsung mendapat tempat di hati sejumlah pelanggan, 
termasuk pelanggan warga asing.

Kembang Goela Bali
terdiri dari dua lantai, berkapasitas 80 tempat duduk dan bisa
menampung 120 orang untuk acara yang tidak memerlukan duduk di area
makan. Restoran yang buka pukul 11.00-23.00 ini juga dilengkapi bar
yang terpisah dari restoran dengan berbagai macam pilihan bir dan
anggur.

Iwan Tirta,
desainer kondang yang juga konseptor interior Kembang Goela,
menyatakan, banyak restoran yang sekadar menjual makanan enak, tempat
mewah, tetapi tanpa nilai tambah terpenting, yakni kesan mendalam
perihal keseluruhan yang tersaji di dalamnya, saat pelanggan makan,
duduk, bahkan memesan makanan-minuman.

Dengan mengetengahkan
desain interior dan penataan mebel bernuansa semikolonial dengan
perpaduan arsitektur gaya Betawi, Belanda, dan China, pelanggan Kembang
Goela suasana nostalgia memang terasa kuat.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/22/01403258/memancing.selera.dengan.masakan.lokal
Sphere: Related Content




di
6:18 PM






 












Label:
bango mania





      

Kirim email ke