Rabu, 04/03/2009 11:25 WIB
Slruup! Asam Pedas Pindang Baung
Odilia
Winneke - detikFood

Jakarta - Ikan air tawar
ini dagingnya sangat tebal, lembut dengan lapisan lemak tebal. Kuahnya
yang kuning kemerahan mengumbar aroma wangi daun kemangi. Irisan nanas,
tomat muda dan cabai rawit merah mempercantik penampilannya. Hirupan
pertama kuahnya terasa asam segar sedikit manis! Slruup... benar-benar
dahsyat segarnya!
Udara yang panas menyengat dan berangin dingin membuat saya tiba-tiba
kangen menyantap pindang. Ya, pindang, hidangan berkuah khas Palembang
yang asam-asam segar. Karena itu saat kesasar di kawasan Rawa Buntu,
dan melihat papan nama rumah makan Palembang 'Wong Kito' saya pun
langsung memutuskan untuk mampir. Rumah makan dengan nama sama pernah
saya cari dikawasan Bintaro tetapi tak berjejak lagi!
Belum melihat daftar menu, saya langsung memesan pindang baung yang
ditulis di sepotong kertas dan ditempel di dinding kayu ukiran rumah
makan ini. Untuk memuaskan rasa lapar seporsi pindang tulang iga plus
empek-empek kapal selam pun saya pesan. Sayang sekali ikan seluang yang
renyah gurih khas Palembang tak tersedia hari itu.
Warung makan berdinding bata tanpa polesan ini memiliki 2 gazebo
beratap sirap untuk lesehan dan beberapa kursi dan meja di bagian
tengah. Dari luar tidak terlihat jelas bangunan ini sebuah rumah makan,
apalagi papan namanya diletakkan di sisi kanan atas.
Sengaja saya tak memesan pindang ikan patin karena ikan patin lebih
mudah didapat. Justru yang agak sulit adalah ikan baung. Ikan air tawar
ini merupakan kerabat ikan lele. Di Jawa Barat disebut senggal atau
singah dan di Jakarta disebut bawon. Ikan ini memang mirip lele, tidak
bersisik dan kulitnya licin, memiliki sirip dan sungut seperti lele.
Besarnya bisa sebesar ikan patin atau bahkan lebih besar lagi. Ikan ini
sering juga diasap dan diberi bumbu cabai. Memang jenis ikan ini
populer di kawasan Sumatra dan Kalimantan.
Irisan bagian perut ikan baung yang cukup besar memadati permukaan
mangkuk sup ukuran sedang. Taburan daun kemangi, cabai rawit merah utuh
dan irisan tomat hijau dan merah mempercantik peampilan pindang baung
ini. Uap yang mengepul menebarkan aroma asam segar!
Slruup!!! Hirupan pertama langsung terasa asam, manis
sedikit pedas menguasai lidah. Daging ikan yang lembut gurihpun
bercampur dengan kuah yang asam segar ini. Sungguh menyegarkan. Belum
lagi lapisan lemak yang tebal di bagian perut lembut kenyal langsung
meluncur ke tenggorokan. Tak ada jejak aroma tanah juga aroma anyir
ikan. Teknik memasak yang perlahan dan lama membuat bumbu meresap
sempurna ke daging ikan yang tebal ini. Ada tekstur renyah dari irisan
tomat muda dan nanas yang dimasak bersama kuahnya.
Pindang tulang iga yang hadir dalam 3 potongan tulang berlapis daging
tebal, berkuah bening agak kekuningan. Irisan kunyit, jahe, dan batang
serai terselip di antara irisan tomat dan nanas. Daging iga inipun
sangat empuk diselingi lapisan lemak dan otot yang juga lembut. Kuah
yang gurih, sedikit asam dengan semburat manis dan segar menjadi makin
enak setelah diaduk dengan sambal cabai merah yang diuleg kasar. Tak
terasa butiran keringatpun mulai berlelehan di dahi dan leher.
Setelah puas menikmati kesegaran pindang khas Palembang ini sayapun
beralih ke mpek-mpek kapal selam yang disajikan di mangkuk dengan
taburan mentimun cincang. Meskipun empuk, mpek-mpek ini jauh dari
harapan saya. Rasa bawang putih, cabai dan daging ikannya kurang nonjok
dan kuat sehingga cenderung hambar. Wah, untung saya sudah puas
menghabiskan pindang!
Soal harga, rumah makan yang berlokasi di kawasan yang tergolong
pinggiran ini tidak terlalu mahal. Seporsi pindang tulang iga Rp
20.000,00, pindang baung (perut) Rp 25.000,00 dan mpek-mpek kapal selam
Rp 10.000,00. Sedangkan untuk minuman berkisar Rp 7.000,00 - Rp
10.000,00.