Dari Pecel, Hasilkan Duit Ratusan Juta
Sebagian
orang mengenal dan menyukai menu pecel. Makanan khas daerah ini berisi
ramuan aneka sayuran yang disiram bumbu kacang. Kenikmatan rasa pecel
sangat tergantung pada bumbu olahannya.
KOMPAS.com
| Bumbu pecel tak hanya disukai di dalam negeri. Bumbu pecel yang sudah
dikemas ternyata juga menyebar ke berbagai negara lain, contohnya
Hongkong, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Belanda.
Salah satu
produsen bumbu pecel kemasan adalah Himawati. Wanita 35 tahun ini sudah
menggeluti pembuatan bumbu pecel sejak dua tahun lalu di bawah bendera
UD TYM. Walau baru seumur jagung, kelezatan bumbu pecel Himawati ini
sudah terkenal sampai ke luar negeri, khususnya para pelanggannya di
Hongkong. Tak heran jika dalam sebulan, mantan pedagang pakaian anak
ini mampu meraup omzet Rp 21 juta.
Awalnya, Himawati mengaku
iseng menjual bumbu pecel di sekitar rumahnya. "Resepnya warisan
keluarga," ujarnya. Tak disangka, banyak yang menyukai bumbu pecel ini.
"Itu sebabnya, saya pakai nama merek Cap Jempol sebab rasanya memang
jempolan," ujarnya.
Dari hari ke hari, permintaan bumbu pecel
buatan Himawati terus naik. Bahkan, produksi bumbu pecelnya pernah
mencapai 35 kilogram per hari. Sayang, belakangan ini, produksi bumbu
pecel Cap Jempol terus turun hingga tinggal sekitar 20 kilogram per
hari.
"Untuk menjaga citarasa, saya selalu memasarkan hasil
produk dalam keadaan segar, tak seberapa lama setelah dipesan. Makanya,
saya tak mau masuk ke jaringan ritel modern," ujarny, berbagi rahasia.
Himawati
menjual bumbu pecel Cap Jempol Rp 35.000 per kg atau Rp 3.500 per ons.
"Dari tiap ons, saya hanya mendapat untung Rp 400," lanjut pengusaha
asli Surabaya ini. Namun, karena permintaannya banyak, keuntungan kecil
tersebut bisa menjadi besar juga.
Menurut Himawati, produknya
terbilang mahal untuk rata-rata harga bumbu pecel di Surabaya. Sebab,
ia lebih mementingkan kualitas produk yang terbuat dari hampir 100
persen kacang. "Kalau yang lainnya bisa murah karena dicampur singkong.
Sementara, saya benar-benar pakai kacang kualitas nomor satu sehingga
produk saya tahan sampai enam bulan," ujarnya.
Tak hanya produk
bumbu pecel Cap Jempol yang diminati pembeli luar negeri. Bumbu pecel
Karangsari dari Blitar ternyata lebih dahsyat. Sekarang, bumbu pecel
ini menembus pasar Belanda, AS, Australia, Hongkong, Arab Saudi, dan
sebagainya.
Bumbu pecel Karangsari sudah bertahan selama 30
tahun. "Rasa bumbu pecel Karangsari lezat, makanya banyak yang cocok,"
ajar Sutanto, pemilik Gracia Trading, pemasar resmi bumbu pecel
Karangsari di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Dalam sebulan,
Gracia Trading bisa memasok lima ton bumbu pecel Karangsari untuk
wilayah Jabodetabek. Omzet rata-rata Sutanto, yang juga mapan sebagai
pengusaha toko besi ini, sekitar Rp 100 juta per bulan. "Itu baru untuk
pasar tradisional. Kalau sudah masuk pasar modern, ada jalur distribusi
sendiri. Kebetulan, saya tidak memegang pemasarannya," lanjut Sutanto
yang juga masih kerabat dekat pendiri bumbu pecel Karangsari.
Harga
sebungkus bumbu pecel Karangsari ukuran dua ons Rp 4.000. Sementara,
harga perkilogram Rp 20.000. "Khusus eceran, ukuran dua ons harganya Rp
7.000," lanjut Sutanto. Dari harga tersebut sebagai pemasar resmi, ia
menangguk margin laba sampai 20 persen per bungkus. (Aprillia Ika/Kontan)
Sumber: KOMPAS.com
Baca juga: Blog Bango Mania atau Facebook Bango Mania