Pakai "presure cooker",  panci yang khusus untuk memasak daging  keras menjadi 
lembut, waktunya pun jauh lebih singkat dari biasa, menghemat gas.

Kalau tak ada dijual di Indonesia minta kenalan beli dari Dubai, harganya murah.



  ----- Original Message ----- 
  From: Abdur Rohman 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, April 04, 2009 6:29 AM
  Subject: [bango-mania] Butuh Dua Kali Perebusan, Agar Daging Buntut Lunak


        Agar Daging Buntut Lunak, Butuh Dua Kali Perebusan 

        BAGIAN paling buncit dari sapi dulu hanya "sampah". Oleh para peternak 
kuno Italia, buntut dibuang bersama organ-organ seperti jeroan atau tanduk. 
Tapi sekarang, buntut naik kelas. Dari meja makan para buruh miskin Eropa, kini 
menu-menu buntut tercantum dalam daftar menu restoran mewah hingga hotel 
berbintang. Olahan menu itu tersebar ke seantero dunia.

        Letak buntut atau ekor memang paling buntut. Bagian belakang itu 
umumnya mempunyai berat 1-1,8 kg dengan panjang 1-1,4 m. Di pasaran, buntut 
dijajakan dalam bentuk potongan berdiameter antara 2-5 cm. Mengapa buntut 
digemari? Itu tak lepas dari rasanya yang cukup mengena di lidah. Meski, 
berdasar komposisi, buntut memiliki lebih banyak tulang daripada daging. 
"Persentase antara tulang dan daging sekitar 60 persen banding 40 persen," 
terang Budi Tri Utomo, head chef Bali Box.

        Tulang buntut berongga-rongga dengan isi gumpalan lemak. Untuk yang 
tidak tahu, lapisan lemak itu kerap dianggap sumsum karena warnanya hampir 
sama. Daging buntut lebih liat. Karena liat itulah, buntut sapi harus direbus 
terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut.

        Bila langsung dimasak, daging akan sulit digigit. Merebusnya tidak bisa 
sebentar. Minimal sejam di atas api kecil. Perebusan bermanfaat menghilangkan 
kotoran-kotoran yang mengendap di rongga-rongga tulang. Termasuk mengenyahkan 
lapisan lemak-lemak kotor yang bercampur darah dalam rongga tulang. Juga 
mengeliminasi bau amis buntut sapi.

        Idealnya, merebus buntut tak cukup sekali. Perebusan pertama 
dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran. Baru pada perebusan kedua, airnya bisa 
dimanfaatkan sebagai kaldu. "Perebusan kedua tidak perlu terlalu lama. Waktunya 
bisa 30 menit hingga sejam," terang pria 34 tahun tersebut.

        Pada perebusan kedua, bisa ditambahkan rempah-rempah, seperti jahe, 
anistar serai, atau daun jeruk untuk menghilangkan sama sekali bau anyir. Tapi, 
kalau mau dimanfaatkan sebagai kaldu, air rebusan tidak perlu dicampur dengan 
apa pun.

        Setelah direbus dan lunak, buntut siap diolah. Mengolahnya bisa 
dipanggang khas Irlandia, dijadikan olahan aneka sup, ditumis, atau cukup 
digoreng dan disajikan bersama sambal. Di Bali Box, salah satu menu spesial 
adalah olahan buntut bakar yang disajikan dengan saus jintan.

        Jintan hitam disangrai, dihaluskan bersama bawang merah, bawang putih, 
dan madu. Tumbukan halus bumbu-bumbu itu lantas dioleskan di atas permukaan 
buntut yang dipanggang. Hasilnya, bau harum jintan membuat rongga penciuman 
mabuk kepayang. Rasa gurih buntut bercampur sempurna dengan manisnya madu.

        Olahan buntut sapi tak hanya tenar di sini. Setidaknya, beberapa negara 
punya olahan kreatif buntut sapi. Misalnya, Italia punya Coda Alla Vaccinara, 
buntut sapi yang diolah menjadi sup kental. Di Korea ada Kkori Gomtang, yakni 
olahan sup yang dimakan dengan nasi, sama dengan Tiongkok dan Amerika bagian 
selatan. Sedangkan di Jamaika dan Trinidad, buntut ditumis bersama mentega dan 
kacang-kacangan. 

        Segar, Lihat Warna
        Kesegaran bahan adalah kunci utama setiap masakan. Termasuk, menu 
berbahan buntut. Pastikan bahwa yang ada di tangan merupakan buntut fresh. 
Ketidaksegaran berpengaruh terhadap citarasa. Apalagi buntut yang 
rongga-rongganya dipenuhi bercak darah. ''Kalau tidak segar, baunya lebih 
amis,'' ujar Budi Tri Utomo dari Bali Box.

        Kesegaran buntut, menurut Budi, bisa dilihat dari guratan serat. Untuk 
buntut segar, guratan seratnya jelas. Bagian tulang warnanya juga belum 
memudar. Terlihat putih, bukan kekuningan atau malah kecokelatan. Warna 
kecokelatan atau hitam merupakan pertanda buntut telah terkontaminasi bakteri. 
Pada daging juga begitu, warnanya merah segar atau pink. Tidak menghitam atau 
kecokelatan. ''Kalau sudah cokelat, buntut sudah kehilangan kesegarannya,'' 
jelasnya. (ign/tia)

        Sumber: Jawa Pos [Jum'at, 03 April 2009]
        Foto: http://jalanjajanjakarta.blogspot.com/2008/09/dapur-buntut.html
        Baca juga BLOG BANGOMANIA
        Gabung pula di FACEBOOK BANGOMANIA
       


  

Kirim email ke