Sedikit info. Dalam bahasa Polandia, "pempek" artinya  "pusar".

  ----- Original Message ----- 
  From: Abdur Rohman 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, April 04, 2009 7:18 AM
  Subject: [bango-mania] Pengembaraan Pempek


        Pengembaraan Pempek 
         Siapa tak kenal pempek asal tepian Sungai Musi di Palembang, Sumatera 
Selatan? Seluruh pelosok Ibu Kota akrab benar dengan pempek. Pengembaraan 
makanan yang semula berbahan dasar ikan belida itu sungguh sukses. Pempek 
dijual dari kelas gerobak dorong dari kampung ke kampung sampai resto sekelas 
Cawan Putih di Jalan Sabang, Jakarta. M Clara Wresti dan Soelastri Soekirno

        Secara umum pempek memiliki rasa gurih bercampur segar karena siraman 
kuah dari cuka atau asam plus taburan ebi tumbuk di atas adonan. Paduan rasa 
asin, gurih, manis, asam, dan segar dengan takaran pas membuat lidah bergoyang 
saat menyantap pempek dalam kondisi hangat.

        Rasa ini tampaknya cocok dengan selera warga Jakarta yang membutuhkan 
makanan dengan rasa unik serba cocok untuk segala cuaca.

        Maka jangan heran bila di seantero Jakarta semakin banyak warung dan 
rumah makan menyajikan pempek. Bahkan, kini sudah banyak pedagang keliling 
menjajakan pempek dengan gerobak maupun boks dipanggul. Rasa antara pedagang 
keliling, di warung, dan di rumah makan tentu berbeda.

        Untuk menentukan kualitas rasa, penikmat pempek harus mencicipinya 
dulu, baru memutuskan rasa pempek itu enak atau tidak. Masalahnya kualitas rasa 
pempek itu bukan bagaimana cara dia berdagang, tetapi dari tangan pembuatnya. 
”Semua orang Palembang bisa bikin pempek. Mudah kok membuatnya, tetapi kalau 
rasa, tentu berbeda buatan yang satu dengan yang lain,” kata Eddy (51), 
pedagang pempek di halaman parkir sekolah St Theresia, Menteng, Jakarta Pusat.

        Johan, penjual pempek di Jalan Raya Ciledug, Petukangan Selatan, 
Jakarta Selatan, menyatakan hal senada. Johan dan istrinya, Merry, yang hanya 
menggantungkan hidup dari berjualan pempek menjaga cita rasa pempek buatannya.

        ”Perbandingan antara daging ikan tenggiri dan sagu harus pas agar 
daging pempek lembut di lidah dan rasanya nikmat,” ungkap Johan yang asal 
Palembang. Bisa jadi karena teguh pada komitmen, sekalipun ia berpindah tempat 
jualan, pelanggan tetap mencarinya.

        Adapun Eddy, selain punya warung di Karawaci, Tangerang, juga memilih 
berdagang di mobilnya dengan menggantungkan papan putih bertuliskan ”Pempek 
Palembang” yang diparkir di halaman parkir St Theresia. Eddy memilih berjualan 
dengan cara ini agar mudah dicari pelanggan. Semula dia berjualan di dekat 
bioskop Rivoli di kawasan Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

        Rasa dagangan Eddy boleh disandingkan dengan warung atau rumah makan 
pempek terkenal. Pempek pastel yang terbuat dari parutan pepaya muda dibungkus 
pempek sangat kental dengan rasa ikan. Pembeli biasanya memilih pempek tanpa 
digoreng, tetapi langsung disiram kuah dan ditaburi ebi dalam jumlah banyak. 
Rasanya... hmm nikmat.

        Tak salah kalau dagangan Eddy selalu diserbu pembeli. Ada pelanggan 
yang secara rutin memesan 800 butir pempek per tiga minggu. Pempek itu bukan 
untuk dijual lagi, tetapi untuk disantap sendiri.

        ”Buat orang Palembang, makan pempek itu keharusan. Dalam seminggu 
minimal sekali kami menyantap pempek,” kata Janny Ganny (39), salah seorang 
pelanggan pempek Eddy.

        Adalah Jalan Garuda Kemayoran, Jakarta Pusat, yang merupakan tempat 
pempek pertama kali hadir di Jakarta. Awalnya, tahun 1980, Sutomo berjualan 
pempek di warungnya yang bernama Pempek Garuda dan sangat terkenal. Tahun 1990, 
setelah Sutomo meninggal, warung ini pun pecah menjadi tiga. Putra Sutomo, 
Hartono (38), memiliki salah satu warung ini yang bernama Pempek Garuda Putera 
Asli. Lalu ada dua orang lain membuka warung pempek di jalan yang sama.

        Kini di jalan itu ada lima warung pempek yang cukup besar. Kekhasan 
pempek Jalan Garuda, macam pempek sangat beragam. Selama ini pempek yang 
terkenal di masyarakat hanya pempek kapal selam, lenjeran, ada’an, kulit, dan 
keriting. Namun, di Jalan Garuda terdapat pula pempek panggang, pempek berisi 
sosis, pastel (pempek yang diisi daging pepaya muda), tahu, dan sebagainya.

        ”Setidaknya ada 18 macam pempek di sini,” kata Hartono. Selain beragam 
jenis pempek, kuah yang disediakan Hartono lebih terasa masam karena berasal 
dari buah asem.

        Selain kelas warung, pempek Palembang sejak lama dijual di restoran. 
Salah satu restoran pempek cukup tua dan berkelas adalah Cawan Putih di Jalan 
Sabang. Namun, sejak tahun 2000, hadir warung pempek Pak Raden yang cukup 
fenomenal.

        Warung dengan 12 cabang di Jakarta, Depok, dan Bandung itu milik Iwan 
Rifai (33) dan keluarga besarnya. Menurut Iwan, warung pempek Pak Raden berdiri 
pertama kali di Palembang. ”Nama Raden diambil dari nama kakek, tetapi ditambah 
’Pak’ biar lebih mudah disebut,” kata Iwan.

        Grup Pak Raden memakai ikan gabus sebagai bahan baku pempek karena ikan 
gabus yang merupakan jenis ikan sungai tak berbau amis. Sementara ada penjual 
pempek memilih memakai ikan tenggiri sebagai ganti ikan belida (ikan khas 
Sungai Musi) yang makin sulit dicari.

        Mau pilih pempek dari tenggiri atau gabus, kembali ke selera 
masing-masing.

        Sumber: KOMPAS
        Foto: http://4.bp.blogspot.com
        Baca juga BLOG BANGOMANIA
        Gabung juga di FACEBOOK BANGOMANIA
       


  

Kirim email ke