Cokelat, Buatan Rumah Menerobos Pasar Timur Tengah
Cokelat, jika dikemas apik dengan merek beraroma asing, menjadi daya
tarik di pasaran. Seperti cokelat berbagai rasa buatan kaum perempuan
di dua tempat, yakni di Gresik dan Sidoarjo. Cokelat tersebut hadir di
pasaran dengan merek Vanesa. Cokelat dengan bahan baku 80 persen
cokelat lokal dari PT Perkebunan Nusantara XI Jember tersebut kini
merambah ke pasar Timur Tengah.
Menurut Eli Yanawati (25),
bagian pemasaran cokelat Vanesa, awalnya produk cokelat berbentuk
payung atau bola. Namun dalam perjalanan, model terus berubah sesuai
selera pasar, terutama anak muda. "Ukuran dan kemasan cokelat dibuat
pas untuk sekali makan," katanya.
Setiap hari paling tidak 50
kilogram cokelat diolah dengan berbagai rasa, antara lain rasa
buah-buahan, kacang dan crispy. Khusus untuk pasaran Timur Tengah yang
diproduksi pada menjelang musim haji dan umroh, dibuat dengan rasa
kurma. "Buah kurma dibalut dengan cokelat. Kemasannya pun khusus karena
seluruh tulisan dibuat berbahasa Arab," kata Ulpa (24), bagian produksi.
Kini
dua maskapai penerbangan terbesar di Indonesia sudah memesan secara
rutin. Cokelat diberikan secara gratis kepada penumpang untuk jalur
penerbangan tertentu. Order lain, hotel berbintang di Surabaya untuk
pelayanan bagi tamu. Sebagai ucapan selamat datang, ada hotel berencana
menabur cokelat di atas tempat tidur, pada kamar yang benar- benar
ekslusif.
Menurut Murni (23), cokelat dengan campuran bahan baku
impor sekitar 20 persen, benar-benar bebas dari lemak. "Bahan bakunya
sangat bagus dan sudah melalui proses maksimal sehingga rasanya enak,"
katanya.
Saat ini cokelat pun tak sekadar disajikan kepada tamu,
tetapi juga sudah banyak pesanan untuk acara ulang tahun atau
pernikahan. Cokelat dijadikan cendera mata pun dengan kemasan sesuai
selera pengantin.
Pemasaran cokelat Vanesa yang terus berubah
bentuk karena memenuhi selera pasar, melalui puluhan swalayan dan toko
makanan di Surabaya. Beberapa pemilik toko di Banjarmasin dan Pontianak
sudah memesan secara rutin.
Jika permintaan meningkat, terutama
mulai bulan suci Ramadhan hingga Februari tahun berikutnya, kapasitas
produksi bisa mencapai 100 kilogram per hari.
Khusus pekerjaan
pengemasan cokelat melibatkan sedikitnya 4 orang. Sedangkan tenaga
produksi bisa mencapai 20 orang, yang seluruhnya kaum perempuan. Meraka
rata-rata putus sekolah atau ibu rumah tangga. Usaha cokelat dikerjakan
secara tradisional sehingga membutuhkan tenaga kerja banyak.
Rasa
cokelat buatan industri kecil di rumah itu pun semakin diterima pasar.
Apalagi promosi tidak pernah kendur, baik melalui brosur, radio, maupun
media cetak. Ajang promosi paling bagus melalui pameran sehingga
cokelat Vanesa hampir dapat ditemukan pada setiap pameran di Surabaya
maupun Jakarta.
Bahan baku boleh lokal, tetapi rasa dan
penampilan sudah berkelas internasional. Kemasan cokelat benar-benar
menarik untuk dicicipi dalam setiap kesempatan.
Usaha cokelat
memang tidak sepanjang tahun karena produksi meningkat pada musim
tertentu. Kendati demikian, pelaku usaha yang mendapatkan hak paten
merek Vanesa secara gratis berkat campur tangan Badan Pengembangan
Ekspor Nasional (BPEN) itu kini sudah menerobos pasar Timur Tengah.
Artinya, produk lokal yang berbahan baku lokal tak selalu untuk pasar
lokal. (*)
Farida Ariyanti
Tak Pernah Kehabisan Ide
Terjun
ke usaha sektor makanan berupa cokelat sudah dilakoni Farida Ariyanti
(41) sejak tahun 2000. Meneruskan serta mengembangkan usaha rumah
tangga yang dirintis oleh sang nenek sejak tahun 1980-an bukanlah
pekerjaan mudah.
Menurut pengusaha yang mengembangkan usaha di
Gresik dan Sidoarjo itu, dari kemasannya sering kali konsumen menyangka
cokelat ukuran mini itu buatan pabrik besar. Padahal, cokelat Vanesa
yang dikemas dengan kertas warna warni, diproses secara padat karya.
Mantan
guru Sekolah Menengah Kejuruan Dharma Wanita Gresik itu kini terus
mengali ide menyangkut produk cokelat. Tidak hanya rasa cokelat yang
bergulir, tetapi juga kemasannnya agar konsumen selalu ingat cokelat
Vanesa.
Awalnya cokelat ukuran kecil berbagai bentuk itu hanya
dimasukkan dalam toples plastik. Namun, berdasarkan penelitian di
lapangan, pasar cenderung mencari produk makanan dengan kemasan
menggiurkan. Jadi kemasan perlu terus diganti agar pasar tidak jenuh.
"Nilai
jual produk makanan pertama terletak pada kemasan, lalu rasa serta
kualitasnya," kata Farida yang minimal lima kali setahun mengikuti
pameran di berbagai kota.
Kendati modal kerja cenderung seret
karena pemesanan meningkat, Farida tidak menyerah. Promosi pun tak
pernah berhenti, meski permintaan cenderung meningkat, termasuk untuk
mengisi puluhan swalayan dan toko makanan.
"Berapapun banyak
pesanan tetap bisa dikerjakan karena proses produksi melibatkan ibu
rumah tangga serta perempuan putus sekolah," kata istri Rudi
Rachmansyah (46) itu.
Kendati kapasitas produksi terus
meningkat, Farida tetap menggarap secara padat karya. Dengan
mempertahankan proses produksi secara tradisional dan menyerap banyak
pekerja, secara otomatis bisa menekan penganggguran. Justru kerisauan
Farida pada minimnya modal kerja, terutama ketika order melonjak.
Misalnya menjelang awal Februari, pesanan cokelat bukan hanya dengan
kemasan yang beragam, tetapi model cokelat juga harus selalu tampil
beda.
Bergerak di sektor makanan menuntut pengusaha untuk terus
berinovasi soal rasa dan model, termasuk kemasan. Jangan pernah
berhenti menuangkan ide jika ingin produk tetap diterima pasar. (Agnes Swetta
Pandia/ETA)
Sumber: KOMPAS
Baca juga info seputar kuliner lainnya di BLOG BANGOMANIA
Makin semarak dengan gabung di FACEBOOK BANGOMANIA