INPIRASI Tahu Petis Semarang Merangsek Ibu Kota
KONTAN/APRILLIA IKA / Artikel Terkait: a.. Raih Laba dari Tempat Arak si "Drunken Master" b.. Raup Untung dari Perhiasan Lelaki c.. Harumnya Laba dari Sabun Susu Kambing d.. Menggeliat di Tengah CD Bajakan e.. Sepatu Cari Kaki, Raup Omset Milliaran Jumat, 9 Januari 2009 | 08:33 WIB Siapa sangka jika jajanan khas kaki lima Semarang dapat tampil menjadi camilan favorit masyarakat Jakarta? Nah, menyusul kesuksesan lumpia dan bandeng presto, kini giliran tahu petis Semarang yang unjuk gigi. Tahu petis merupakan makanan dari tahu yang dibumbui dengan petis yang berwarna hitam kental di dalamnya. Petis sendiri merupakan pasta udang dan terigu yang rasanya manis. Warna hitam petis merupakan warna olahan makanan udang jika dimasak lama-lama. Lantaran belum banyak pengusaha makanan yang melirik tahu petis, Wieke Anggraini pun berani meninggalkan dunia kantor demi terjun menggeluti usaha tahu petis tahun 2006 silam. Nama gerainya, Tahu Petis Yudhistira. Kini, Wieke sudah punya lima outlet di beberapa pusat perbelanjaan Jakarta, misalnya di lantai 4 Jembatan Penghubung ITC Kuningan, di Food Court Plaza Indonesia, serta di Jalan Boulevard Kelapa Gading. Dari kerja kerasnya tersebut, ibu satu putra ini meraup omzet rata-rata Rp 1,5 juta saban harinya. Awalnya, dengan bermodal Rp 3 juta Wieke nekat membuka usaha tahu petis di depan pasar Tebet. Waktu itu modalnya habis untuk membeli gerobak dan peralatannya. Sebelumnya, Wieke sudah meriset penerimaan pasar atas bumbu petisnya. Petisnya tidak dibuat semanis aslinya sehingga bisa diterima lidah masyarakat Jakarta atau bahkan lidah orang luar Jawa. Tampilannya memang membuat orang penasaran. Akan tetapi, setelah mencoba, rasa tahu pong yang lembut dengan petis terasa gurih di mulut. Tak heran jika penggemar petis Yudhistira makin banyak saban harinya. Dengan ukuran tahu sekitar 3 x 3 sentimeter dan tebal 2 sentimeter, diiris bagian tengahnya untuk diisi bumbu petis. Harga jualnya Rp 2.000 per potong. Dari petis yang dijualnya tersebut, Wieke mendapat margin sekitar 30 persen. Tak hanya itu, untuk mengangkat citra kaki lima tahu petis, Wieke lantas mengepaknya dengan kardus converpak yang sudah aman buat makanan. Warnanya pun dibuat semenarik mungkin. "Satu kardus muat 20 tahu, hanya untuk pembelian diatas 10 dan delivery order," ujarnya. Menurut Wieke, bahan baku tahu pong putih dibelinya dari penyuplai di Jakarta. Tak seperti tahu Sumedang yang alot, tahu pong putih ini sangat empuk. Tiap dua hari sekali, Wieke bisa mengedrop sekitar 200 buah tahu tiap outlet-nya. "Kalau akhir pekan bisa lebih," ujarnya. Sementara itu, untuk bahan baku bumbu petisnya, Wieke harus mengimpornya langsung dari Semarang, kota asalnya. Bumbu petis olahan Wieke merupakan bumbu resep keluarga. "Tahun depan saya ingin memasukkan bumbu petis buatan saya ke pasar modern," ujarnya bersemangat. (Kontan) Aprillia Ika Share on Facebook Nilai 4.4 - Beri Rating Artikel - ---------- Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang A A A Ada 9 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda Djatmiko Kurniawan @ Sabtu, 21 Maret 2009 | 12:33 WIB Sudah di waralaba belum? Mau ikutan Lannoel @ Senin, 16 Maret 2009 | 11:29 WIB Wah, boleh jg nih. Jd pingin ikutan bisnis tahu petis. Tp aku bingung cari tahu n petisnya yg enak. Tlg info donk. Ajeng @ Jumat, 9 Januari 2009 | 14:50 WIB Giman kalo coba diekspor? Ke negara tetangga aja dulu, lumayan buat nambah devisa rafee @ Jumat, 9 Januari 2009 | 10:46 WIB yuuummmm... indie98 @ Jumat, 9 Januari 2009 | 10:20 WIB Sejak merantau, 13 tahun lebih gak makan makanan ini, duh jadi ngiler liat gambarnya. Kaya'nya saya terinspirasi untuk membuka usaha serupa di kota tinggal saya sekarang ... mumpung belum ada. Please add my Facebook: Radityo Indonesia Mediacare Indonesia
<<083235p.jpg>>
<<logo_kontan.gif>>
<<reg_bis.gif>>
<<star.gif>>
<<starabu.gif>>
<<icon_print.gif>>
<<icon_mail.gif>>
