Kuliner Ndeso yang Melegenda Sabtu, 22 November 2008 | 10:22 WIB Oleh Eny Prihtiyani
Jumat (21/11) pagi, Mbah Mo terlihat tergesa-gesa. Hari itu, ia berencana mengunjungi cucunya sehingga tamu yang bertandang ke rumahnya hanya ditemui sebentar. Mengunjungi cucu menjadi kesenangan Mbah Mo di tengah kesibukannya mengelola usaha bakmi yang sudah lakoni sejak 1985. Usaha bakmi Mbah Mo (70) awalnya dibangun oleh sang suami, almarhum Atmo Wiyono. Pertama kali berjualan, ia hanya memanfaatkan sepetak kios berukuran 1,5 meter x 2 meter di depan rumahnya di Dusun Code, Desa Trirenggo, Bantul. Kini, meskipun lokasinya masih sama, warung Mbah Mo sudah bertambah luas. Dengan keuletan, usaha mereka cepat dikenal masyarakat. Dari mulut ke mulut, akhirnya banyak orang tahu kelezatan bakmi Mbah Mo. Tak heran, meskipun terletak di tengah dusun, warungnya tak pernah sepi pengunjung. Saya juga tidak berniat memindahkan lokasi warung ke depan dekat jalan raya, ungkapnya. Alasan Mbah Mo mempertahankan lokasi warung di tengah dusun adalah suasana ndeso yang bisa membuat suasana makan tambah enak. Kalau ke sini orang harus masuk ke dusun-dusun sehingga bisa sekalian menikmati pemandangan dusun, katanya. Ada dua jenis bakmi yang dijual, yakni goreng dan godok. Harganya Rp 10.000 untuk biasa dan Rp 16.000 buat istimewa. Bedanya, untuk menu istimewa, pengunjung bisa mendapatkan tambahan daging ayam. Tinggal pilih, mau sayap, kepala, atau bagian lainnya. Mbah Mo menjajakan bakmi pukul 17.00-23.00. Rata-rata ia bisa menjual 200 porsi dalam sehari. Jumlah mi yang dihabiskan dalam sehari mencapai 10 kilogram untuk mi kuning dan 5 kg mi putih. Untuk ayam, Mbah Mo memilih ayam kampung karena rasanya lebih enak. Dalam sehari, ia menyembelih 9-10 ekor ayam untuk campuran mi. Untuk memasak, Mbah Mo tidak memakai kompor melainkan arang. Ia juga tidak menggunakan kipas angin tetapi kipas biasa. Mempertahankan keaslian tradisi ndeso, lagi-lagi, menjadi alasannya menggunakan kipas biasa. Ada tiga tungku yang ia persiapkan. Tujuannya adalah menghindari antrean memasak. Urusan memasak, Mbah Mo dibantu oleh para kerabatnya. Urusan bumbu, semuanya ia tangani sendiri. Kalau yang meracik bumbu bukan simbah rasanya bisa lain. Makanya, urusan bumbu tidak diserahkan ke orang lain, kata Mirawati, keponakan Mbah Mo. Usaha bakmi Mbah Mo dijalankan bersama dengan para kerabatnya. Selain kerabat, Mbah Mo dibantu seorang kawannya, Mbah Niti (70). Mbah Niti-lah yang mengurusi soal minuman. Ia yang membakar jahe lalu membuat ramuan teh jahe bagi para pengunjung. Tiap pagi, Mbah Mo biasanya memulai aktivitas dengan menyembelih ayam. Ia kemudian meracik bumbu dan mempersiapkan keperluan lainnya hingga sore hari. Menurut Mirawati, meskipun omzetnya sudah lumayan tinggi, yakni sekitar Rp 2,5 juta per hari, Mbah Mo masih menggunakan sistem manajemen tradisional. Ia tak pernah membuat catatan berapa jumlah uang masuk dan uang keluar. Ketika warung sudah tutup, simbah langsung menghitung uang yang diperoleh hari itu. Ia kemudian membagi-baginya untuk keperluan belanja bahan baku, honor, termasuk uang yang disisihkan. Jadi, semuanya tergantung banyaknya uang yang diperoleh. Untuk honor, simbah juga memberinya dengan sistem harian, ujar Mirawati, yang rata-rata memperoleh honor Rp 25.000 per hari. Di tengah kesuksesannya, banyak pelaku bisnis yang ingin menjalin kerja sama dengan Mbah Mo. Namun, semuanya ditolak karena Mbah Mo tetap ingin menjalankannya secara tradisional tanpa terjebak iming- iming untung besar. Sikap Mbah Mo ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya.... http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/22/10225072/kuliner.ndeso.yang.melegenda Please add my Facebook: Radityo Indonesia Mediacare Indonesia
