Nasi (Gondal) Gandul

KOMPAS.COM/EGIDIUS PATNISTIK


RABU (23/7) lalu, saya bertemu lagi dengan Nasi Gandul. Kali ini di warung Nasi 
Gandul Ibu Endang di Jalan Pesanggrahan Nomor 14, Meruya Utara, Jakarta Barat.

Pertama kali saya merasakan nasi gandul di warung tenda milik Ibu Hartati, di 
halam parkir Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, sekitar dua tahun 
lalu. Ketika itu, namanya yang asing (buat saya) menggoda saya untuk mencoba. 
Ternyata wuueenak tenan! Kuahnya gurih, spicy, dengan rasa rempah yang kuat.

Penasaran ingin tahu rasa nasi gandul yang lain, saya kemudian menjajal warung 
nasi gandul di kaki lima Jalan Prof DR Satrio (depan Sekolah Pelita Hati), 
Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Warung yang ini berdiri sejak tahun 
1992 dan mungkin warung nasi gandul pertama di Jakarta.

***

NASI gandul merupakan kreasi kuliner masyarakat Pati, di pesisir utara Jawa 
Tengah. Maka, nasi gandul pun disebut sebagai masakan khas Pati. Ibu Hartati di 
Kalibata menamai warungnya dengan "Nasi Gandul Khas Pati'.

Meski klaim sebagai masakan khas Pati tidak terbantahkan namun soal nama nasi 
gandul ada beragam versinya. Ada yang bilang, nama itu merujuk ke pedagang nasi 
pikulan keliling yang menggunakan keranjang. Pedagang nasi seperti ini banyak 
terdapat di Pati. Keranjang pikulan yang bergerak gondal-gandul (ke kiri ke 
kanan) saat si pedang nasi berjalan kemudian menjadi semacam 'brand' untuk 
dagangan tersebut. Dalam versi ini, nasi gandul merupakan makanan masyarakat 
kelas bawah yang murah meriah. Versi lain menyebutkan, nama gandul mengacu pada 
cara penyajian makanan yang mengambang (gandul) di atas piring karena dasar 
piring dialasi daun pisang.

Terlepas dari beragam versi tentang nama, nasi gandul merupakan makanan berkuah 
yang berbasis daging sapi. Kuahnya berwarna kuning kecoklatan dengan rasa 
rempah yang kuat. Nasi Gandul Ibu Endang misalnya, rasa kayu manis dan 
kencurnya sangat menonjol.

Letak keunikan nasi gandul sebenarnya ada pada cara penyajian dan penyatapan. 
Nasi gandul disajikan dalam piring yang dialasi daun pisang. Di atas daun 
pisang itu nasi bercampur daging dan kuah; namun bisa juga disajikan terpisah, 
nasi dan kuah di sajikan dalam piring yang berbeda.

Cara menyatapnya pun unik. Makanan berkuah paling nyaman tentu disantap dengan 
menggunakan sendok. Tetapi untuk nasi gandul Anda bisa menggunakan daun pisang 
sebagai ganti sendok.

Saat pertama ke warung Ibu Hartati, ia tidak menyediakan sendok dan garpu untuk 
saya. Tentu saja saya bingung. Setelah memperhatikan orang di meja sebelah baru 
saya tahu bahwa nasi gandul bisa disantap pakai daun pisang. Dengan menggunakan 
daun pisang, nasi yang sudah basah kena kuah tinggal diciduk. Bagi pemula 
mungkin agak ribet tetapi kalau sudah tahu caranya, nyaman juga. Anda pun bisa 
merasakan sensasi yang tidak biasa ketika menggunakan daun pisang. (Kalau 
kesulitan pakai daun pisang, tentu saja Anda boleh minta sendok.)

***

MESKIPUN bukan yang pertama di Jakarta, namun Nasi Gandul Ibu Endang dari 
Pesanggrahanlah yang memupolerkan nasi gandul di Jakarta. Warung milik Endang 
Sri Wuryaningsih itu kini telah merambah sejumlah mal mewah di Jakarta, sesuatu 
yang dia tidak pernah bayangkan sebelumnya.

Endang semula seorang pegawai administrasi di perusahan ekspor-impor di daerah 
Kota, Jakarta Barat. Terseret dampak krisis ekonomui, kantornya kemudian pindah 
ke daerah Cikupa, Tangerang. Endang merasa letih setiap hari harus pergi-pulang 
kerja ke Cikupa yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari tempat tinggalnya di 
Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dalam keletihan dan kebingungan antara terus bekerja pada orang lain atau harus 
berhenti, pikirannya melayang jauh ke kampung halamannya di Pati. Di daerah 
asal itu, nasi gandul sangat digemari. Para penikmatnya berasal dari beragam 
latar belakang. "Orang-orang keturunan (Tionghoa) banyak yang suka nasi 
gandul," katanya.

Ia lalu mempelajari resep masakan tersebut. Setelah mantap dengan resep, ia 
kemudian membulatkan tekad untuk berhenti jadi orang upahan dan membuka warung 
nasi gandul di pinggir Jalan Pesanggarahan sejak tahun 1997. Dengan modal 
kurang dari Rp 2 juta rupiah, ia menggelar dua bangku panjang di halaman sebuah 
kantor di kawasan itu.

Peminatnya ternyata lumayan banyak. Keberadaan warung itu pun tersebar dari 
mulut ke mulut. Sejumlah nama terkenal mampir ke situ antara lain almarhum 
Taufik Savalas, Tukul, dan mantan Gubernur Sutiyoso. Sutiyoso dan istrinya 
bahkan tergolong pelanggan tetap meski Sutiyoso tidak pernah datang warung itu. 
"Kami terima pesananan untuk pesta. Kalau ada acara di rumah Pak Sutiyoso atau 
di Balaikota, nasi gandul dari sini sering dipesan," kata Endang.

Dari warung sederhana, Nasi Gandul Ibu Endang kini merambah ke mal-mal mewah 
seperti Plasa Senayan, Senayan City, dan Grand Indonesia. Namun Endang tetap 
mempertahankan warungnya yang di Pesanggrahan. "Saya mulai dari sini," katanya.

Anda ingin mampir? Warung ini buka setiap hari dari pukul 09.00 sampai 23.30.

Egidius Patnisti

http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/24/16194454/nasi.gondal.gandul


Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia

Kirim email ke