Makanan Laut di Kedonganan



Kami
sedang dalam perjalanan menuju kawasan Nusa Dua, Bali, dari Bandara
Ngurah Rai akhir Mei lalu ketika sopir menyebut tentang kawasan tempat
makan ikan bakar Kedonganan.

Kata Kadek, pengemudi mobil, tempat
makan di Teluk Jimbaran ini tidak seramai dua tempat sejenis di kawasan
Jimbaran, yaitu di Jimbaran dan Muaya, tetapi jenis makanan yang
ditawarkan sama, yaitu aneka makanan laut. Selain itu, Kedonganan ini
searah dengan penginapan tujuan.

Dari jalan By Pass Nusa Dua
Kadek membelokkan mobil ke a rah Kedonganan dan dia menghentikan mobil
di Blue Marlin, salah satu dari 24 restoran di Kedonganan.

Di
bagian depan terdapat gerai yang memajang aneka ikan dan cumi yang
diberi es, kepiting dan kerang hidup, serta bak-bak kaca bersusun
berisi lobster dan hiu dengan sirip punggung berwarna hitam di ujungnya
yang berenang-renang. Ini jenis hiu yang biasa terdapat di karang dan
ternyata hanya hiasan, tidak termasuk di dalam menu yang disajikan di
sana.

Tempat ini di luar harapan saya yang masih membayangkan
suasana tempat makan di tepi pantai Jimbaran yang biasa kami datangi:
ramai oleh hiruk-pikuk tamu dan tempat terkesan dibuat seadanya.

Di
Kedonganan suasana terasa lebih teratur. Waktu sudah menunjukkan pukul
21.00 dan saat itu Jumat malam. Restoran terbuka itu tidak terlalu
ramai di bagian dalam dan masih tersedia meja di tepi pantai.

Di
meja sebelah ada sepasang turis Jepang. Saya sempat mencuri dengar
percakapan mereka dengan pramusaji ketika mereka mengatakan sedang
berbulan madu di Bali. Sementara itu, kursi-kursi yang lebih dekat ke
bibir pantai diisi turis berkulit putih dan juga turis Indonesia.

Menurut
Niki (24) yang mengaku sebagai koordinator para pramusaji di Blue
Marlin, tamu berkulit putih tersebut sebagian besar dari Eropa Barat,
seperti Belanda dan Jerman, serta beberapa dari Rusia.

Beradu layanan

Makan
di Kedonganan artinya menikmati pantai yang relatif bersih dengan debur
ombak terdengar ritmis memecah pantai. Jumat malam tiga pekan lalu
suasana terasa tenang, hanya terdengar suara ombak dan agak jauh ada
kelompok pemusik bergitar menyanyikan lagu untuk para turis. Sebagian
ikut menyanyi dan berjoget, sebagian yang lain tetap duduk
tenang-tenang.

Tidak ada pembatas antara kursi dan meja milik
satu restoran dan restoran lain. Sepanjang pantai tempat ke-24 restoran
di Kedonganan berdiri meja dan kursi seperti bersatu. Pembedaan akan
terlihat dari bentuk meja dan peralatan makan.

Semua menjual
menu yang sama, yaitu makanan berasal dari hasil laut. Dengan pantai
yang ditawarkan juga sama, maka masing-masing restoran mengandalkan
layanan sebaik-baiknya dan tentu saja kelezatan masakan.

Di Blue
Marlin menu yang ditawarkan aneka ikan, udang, kerang, kepiting, dan
cumi. Seperti kebanyakan restoran lain yang menyediakan menu seperti
ini, tamu dipersilakan memilih sendiri jenis dan besar porsi makanan
laut yang akan disantap.

Lobster hidup menari-nari di bak kaca
dan ditawarkan seharga Rp 550.000 per kg. Rata-rata per ekor beratnya
900 gram. Sedangkan lobster yang sudah mati harganya Rp 425.000 per kg,
kepiting hidup Rp 140.000, dan kerang Rp 100.000.

Di Blue Marlin
tamu bisa meminta makanan laut itu dibakar, digoreng tepung, dimasak
dengan saus tiram, saus asam-manis atau saus cabai, atau dikukus dengan
bumbu bawang putih, bumbu jahe atau dikukus polos tanpa bumbu.

Di
dalam harga menu utama itu sudah termasuk nasi putih, pelecing
kangkung, sup kepiting yang bening, serta tiga macam bumbu, yaitu
sambal tomat, bawang putih cincang, dan sambal matah yang dibuat dari
irisan bawang merah serta terasi. Untuk penutup, masih disediakan
irisan buah yang malam itu terdiri dari melon, semangka, dan nanas.

Kepiting
kukus saus bawang putih dan kerang saus asam-manis tidak terlalu
istimewa, kecuali bahwa bahan bakunya segar. Sambal matah alias sambal
mentah karena disajikan segar yang memang menjadi favorit saya,
langsung habis tandas. Kangkungnya ditumis dengan sedikit minyak,
tetapi tetap belum bisa mengalahkan pelecing kangkung di Lombok yang
renyah dan lembut ketika disantap dengan sambal tomat dan kacang goreng
penawar pedas.

Menurut Niki, bawang putih cincang disajikan
karena banyak tamu suka memakannya bersama ikan bakar. Saya tidak
memesan ikan bakar karena ikan yang tersedia ukurannya terlalu besar
untuk kebutuhan saya.

Seandainya mata tidak mulai terasa berat
dan besok pagi sudah ada acara, saya masih ingin duduk lebih lama
menikmati malam, suara ombak, dan kesibukan penjual jagung rebus di
bibir pantai yang lampu petromaksnya seperti tak berdaya menerangi
pantai yang gelap. (Ninuk Mardiana Pambudy)

Sumber: KOMPAS
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org


      

Kirim email ke