26.6.09


Pempek dan Pindang Patin Wong Kito Galo!




JAKARTA
|Ikan patin racikan wong kito galo ini dagingnya tebal, lembut dan jauh
dari bau amis dan tanah. Kuahnya kuning kemerahan mengumbar aroma wangi
daun kemangi hmm... paduan asam pedes yang segar. Sedangkan pempeknya
lembut dengan rasa ikan plus cocolan cuko huah huah... mantab pedesnya!

Pempek
dan pindang patin memang sudah menjadi maskot makanan Palembang. Kini
keduanya sudah menyatu dengan lidah banyak orang sehingga tak sedikit
yang memfavoritkan kedua hidangan ini. Begitu pula dengan saya yang
sudah lama tidak merasakan kuah asam segar si pindang patin. Biasanya
jika ingin menikmati pindang patin saya langsung meluncur ke RM Putra
Sriwijaya yang ada di Jl. Proklamasi.

Suatu malam, sepulang
kerja saat menyusuri jalan Tanjung Duren tiba-tiba mata saya menangkap
sebuah banner besar bertuliskan Pindang Patin, Masakan Palembang. Kalau
kata pepatah kebetulan seperti ini namanya pucuk dicinta ulam tiba.
Ditilik dari bannernya yang masih gress, rasa-rasanya rumah makan
'Pempek Nelly 10 Ulu' Tanjung Duren ini masih terbilang baru.

Letaknya
berada di sebuah ruko sederhana, tepat di seberang RM Sederhana Tanjung
Duren yang menuju arah Grogol. Di bagian depan terdapat beberapa buah
etalase yang berisi bermacam jenis pempek yaitu lenjer kecil, lenjer
besar, adaan, keriting, kapal selem, pempek telor, dan pempek panggang.
Cukup komplet bukan? Di etalase lainnya dipajang aneka camilan khas
Palembang, seperti kerupuk palembang, lempok durian, sampai kecap
buatan Palembang.

Tak lama saya sudah duduk manis di salah satu
meja yang tersedia. Tempat ini sederhana saja, jejeran meja merapat di
kedua dinding dengan bangku plastik. Sedangkan di bagian dalam, seperti
rumah makan pempek lainnya ada etalase untuk meracik berbagai minuman
dari jus, es kacang merah, dan es campur.

Belum lagi melihat
buku menu, pilihan saya sudah jatuh pada seporsi pindang patin. Ikan
seluang yang ada di deretan pilihan menu juga segera menarik perhatian
saya. Ikan air tawar yang biasa ditemui di sungai-sungai ini mirip
dengan ikan teri, jika digoreng garing bersama cocolan sambal dan nasi
putih saja... hmm sudah terbayang kelezatnya! Untuk meredam rasa pedas
nanti seporsi es campur tak lupa ikut dipesan.

Sambil menunggu
hidangan saya datang, otak-otak yang ada di atas meja menjadi sasaran
pertama. Hmm... otak-otaknya lembut sedikit kenyal dengan rasa ikan
yang sangat kuat. Seperti rumah makan Palembang lainnya, tak
ketinggalan aneka kerupuk palembang dan srikaya turut memenuhi meja
disamping cuko dan sambal.

Tak lama kemudian sepiring nasi
disusul dengan semangkok pindang patin mengepul panas tersaji diatas
meja. Si ikan saluang menyusul kemudian bersama dengan sambal terasi
dalam wadah mungil. Saya mendapatkan ikan patin bagian ekor yang
merupakan bagian favorit saya. Ikannya cukup besar jika tidak begitu
lapar bisa dishare untuk dua orang.

Kuahnya yang kuning
kemerahan, nyaris keruh dengan irisan tomat merah, cabai hijau dan
kemangi makin membuatnya menggiurkan dan menebarkan aroma harum. Meski
sayang saya tak menemukan belimbing wuluh didalamnya. Bau tanah si ikan
patin tak lagi terlacak membuat saya puas saat menyantapnya. Daging
ikannya tebal segar dan kuahnya yang asam segar puedess. Huah huah...
benar-benar membuat saya yang penggila pedas ini makin lahap
menikmatinya.

Sesekali saya pun meredamnya dengan menyedot es
campur yang mulai mencair. Es campur ini disajikan dengan serutan es
bertopping sirup merah dan susu cokelat. Isinya cukup komplet mulai
dari kolang-kaling, cincau hitam yang diiris kecil-kecil, kacang merah
yang empuk, cendol, dan tape kuning.

Ikan seluang yang khas
Palembang ini pun tak kalah enak. Ikan kecil-kecil ini digoreng garing
hingga kecokelatan, rasanya benar-benar renyah garing seperti kerupuk.
Rasanya gurih-gurih asin... saat dicocol dengan sambal dadak terasi
yang pedas wah dijamin tak bisa berhenti mengunyahnya.

Rupanya
pindang ikan patin dan ikan seluang belum membuat lengkap makan malam
ala wong kito galo ini. Pempek yang dimakan meja tetangga rupanya
berhasil membuat penasaran. Akhirnya saya kembali memesan sebuah pempek
lenjer, adaan, dan keriting. Ternyata saya pun tak menyesal memesannya.

Pempeknya
tetap lembut meski digoreng cukup garing kecokelatan dengan rasa ikan
yang cukup nendang. Cukonya agak kental, jika menginginkan rasa pedas
harus ditambahkan terlebih dahulu dengan sambal yang ada di atas meja.
Tapi ingat, buat yang tak suka rasa pedas jangan menambahkannya terlalu
banyak, karena sedikit saja rasa pedasnya dijamin sudah menyengat lidah!

Untuk
seporsi pindang ikan patin dan ikan seluang masing-masing cukup
dihargai Rp 15.000,00 saja. Pempek kecil Rp 3.500,00 per buah dan Rp
7.000,00 untuk es campur. Harga yang saya bayarkan sama puasnya dengan
hidangan yang saya nikmati. Mengingat banyak hidangan wong kito galo
lainnya yang belum sempat saya nikmati, seperti tekwan, model, pempek
panggang, dan pepes patin tempoyak. Rasanya lain kali saya akan
sering-sering mampir kembali! (dev/Odi)

Jl. Tanjung Duren Barat I
(Seberang Resto Sederhana)
Jakarta Barat
Telp: 021-56943956
(Menerima Pesanan)

Jl. Garuda No.59 Kemayoran
Jakarta
Telp: 021-4240985

Jl. Letjen Suprapto No.11
(depan Hotel Grand Cempaka)
Telp: 021-4268871

Jl. Raya Bekasi Km 32 Cakung
Telp: 021-68777810  

Sumber: detikfood.com
Silakan mampir juga ke http://kecap-bango.blogspot.com dan www.bangomania.org


      

Kirim email ke