Mbok Berek Garden - Legenda Sejak 1830




SURABAYA
| Mendengar namanya, sudah banyak yang tahu mengenai tempat makan ini.
Bagi penggemar ayam goreng khas Kalasan, Jogjakarta, nama Mbok Berek
sepertinya sudah menjadi legenda yang sampai sekarang masih menjadi
jaminan untuk rasa dan kualitasnya.
Popularitas itu ikut diturunkan
pula hingga ke generasi ke limanya, yang kini membuka Mbok Berek Garden
di kawasan Jemursari Surabaya. Usaha makanan ini sendiri telah berdiri
sejak 1830.
Meruntut kembali kisahnya, generasi pertama yang
mengenalkan Mbok Berek ini adalah Ronodikromo, perempuan desa yang
memiliki anak bernama Ronopawiro. Sebutan Berek sendiri awalnya hanya
kebetulan, lantaran semasa kecilnya, Ronopawiro mempunyai kebiasaan
yang cukup aneh, yaitu jika keinginannya tidak dituruti oleh
orangtuanya maka ia akan berteriak meraung, yang dalam bahasa Jawa
disebut berek-berek. Karena itulah Ronodikromo kemudian dikenal dengan
nama Mbok Berek atau ibunya Ronopawiro yang suka berek-berek.
Sekitar
1830 Ronodikromo, memulai usaha dengan memotong 5 hingga 10 ekor ayam.
Tidak disangka, makanan racikannya itu ternyata disukai oleh seorang
bangsawan Jawa yang kebetulan datang ke tempat usahanya. Saat itu juga,
bangsawan tersebut memberi saran, “Jika ingin hidup tentram dan
bahagia, maka berdaganglah ayam goreng ini.”
Agus Setyanto, pemilik
Mbok Berek Garden di Jemursari, menceritakan kenangan leluhurnya itu
sebagai awal dari bisnisnya sekarang.
Dari situlah kemudian usaha
ayam goreng Mbok Berek berlanjut turun temurun dan berkembang ke
berbagai tempat di seluruh Indonesia. Termasuk di Surabaya sejak 1979.
Dengan
resep yang masih terjaga selama lebih dari seabad tersebut, ayam goreng
Kalasan khas Mbok Berek ini memang masih menjadi yang terfavorit di
lingkungan warga Surabaya. Seperti yang dituturkan Rendi, salah seorang
karyawan di kawasan Jemursari. “Ayam kampungnya benar-benar empuk dan
rasa bumbunya juga teresap di dalam dagingnya. Apalagi sambal terasi
yang mendukungnya, membuat sajian ini jadi kian lezat,” katanya.
Selain
makanan, yang membuat Rendi merasa nyaman makan di Mbok Berek Garden
ini ialah konsep bangunan yang sangat menunjukkan khas Jawanya. “Sangat
teduh, banyak kayu ukiran dan tamannya juga asri. Musik Jawa yang
sering diputar membawa kesan nuansa Jawanya,” tambahnya.
Selain ayam
goreng, Mbok Berek Garden yang pernah memiliki 10 outlet di Surabaya
ini juga menyajikan sejumlah makanan seperti ayam bakar, gudeg, tempe
dan tahu bacem, ikan gurami bakar dan goreng, empal, serta ayam penyet.
Juga
ada brongkos, makanan khas Jogja yang saat ini sudah sangat jarang
ditemukan. “Ini menu kegemaran para raja di Jogja, berisi olahan
daging, telur bebek utuh, tahu, kulit mlinjo dan tolo atau kacang
merah,” ucap Agus.
Secara fisik, brongkos ini mirip rawon, tetapi
lebih kental dan tahan lama.. Bahkan menurut Agus, sajian ini akan
terasa lebih nikmat ketika dimakan 2 atau 3 hari setelah dimasak.
Namun,
karena warga Surabaya tidak banyak yang tahu, makanan ini hanya
disajikan untuk pesanan, tidak dijual secara regular. Sama seperti es
teler yang merupakan sajian khas di Mbok Berek Garden, yang hanya
dibuat sesuai pesanan. “Saat ini kami memang lebih banyak menerima
pesanan dari pelanggan, biasanya untuk acara institusi yang dalam
jumlah besar,” kata Agus.dwi

Kaderisasi Otomatis
Sebagai
generasi penerus sajian Mbok Berek yang kelima atau disebut canggah,
Agus Setyanto Dyas Pramono termasuk salah satu yang masih fokus untuk
mengembangkan usaha makanan ini. “Kami sadari saat ini cukup banyak
pesaing usaha ayam goreng di Surabaya. Tetapi dengan rasa dan kualitas
yang kami jaga, kami masih bisa mengembangkan usaha ini lebih baik,”
ujar bapak dari 4 anak ini.
Tak hanya bicara, dalam jadwalnya sudah
terencana sebuah usaha besar untuk mengembangkan Mbok Berek Garden di
tempat asalnya. “Selama ini Mbok Berek hanya bisa ditemui di kawasan
pinggir Jogjakarta. Nah, kami ingin usaha ini berada di pusat kota
Jogjakarta agar lebih dikenal wisatawan atau warga Jogja sendiri.
Rencana tahun depan ini sudah dibuka,” kata Agus yang menyiapkan lahan
6 ribu m2 untuk tempat barunya itu.
Saat bercerita tentang generasi
yang terus berlanjut dalam usaha ini, Agus mengatakan hal tersebut
merupakan kaderisasi yang sudah berjalan secara otomatis. “Yang berhak
memakai nama Mbok Berek ini adalah keturunan dari Ronodikromo atau Mbok
Berek. Jadi semua keluarga mendapatkan hak untuk membuka usaha ini di
manapun,” kata Agus yang beberapa kali sempat menegur sejumlah
pengusaha lain yang menggunakan nama Mbok Berek.
“Selalu saya tanya
ia trah atau keturunan dari siapa, karena hampir di setiap tempat makan
Mbok Berek terdapat silsilah yang jelas,” imbuh pria yang sebelum
membuka Mbok Berek Garden pada 1979 sempat bekerja sebagai supervisor
di Hotel Hyatt Surabaya. (dwi)

Sumber: Surabaya Post
Klik dan kunjungi juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org


      

Kirim email ke