Kari Lam, Kari Yang Tak Medok



KHAZANAH
kuliner di kawasan Pancoran, Jakarta Barat, seakan tak ada habisnya.
Masih banyak warisan kuliner yang belum diketahui banyak orang,
khususnya warga Jakarta dan sekitarnya atau malah sudah terlupakan.
Pernah dengar Kari Lam? Buat sebagian orang barangkali ini sama saja
seperti bicara soal masa lalu. Sementara sebagian lain, nama itu
terdengar tak biasa.

Suatu waktu ada seorang teman bertanya
sambil mengernyitkan dahi, ”Kari Lam? Apa itu? Kari? Lam-nya apa?” Ini
memang menu kari, kuah santan dengan campuran banyak rempah yang
asalnya dari India. Kari berasal dari bahasa Tamil, biasanya kari
dimakan dengan nasi putih.

Lantas apa itu Lam? Lam tak lain
adalah kependekan dari Alam, si pemilik kari yang awalnya berdagang di
Medan. ”Karena Bapak saya namanya Alam, jualan kari, pula. Orang kalau
tanya, kari yang mana? Itu, Kari Lam,” cerita Akiong, putra almarhum
Alam. Maka nama Kari Lam pun menempel lekat hingga kini, meski yang
meneruskan tak lagi bernama Alam melainkan Akiong. 

Kari Lam
punya kisah yang cukup panjang semenjak dari Medan. Di Jakarta,
tepatnya di kawasan Pancoran, sudah 36 tahun Kari Lam memberikan warna
lain pada khasanah warisan kuliner di kawasan Pecinan Jakarta ini.

Mencari
tempat ini mudah saja, dari Jalan Pancoran masuklah ke Gang Gloria
hingga bertemu pertigaan. Begitu terlihat pertigaan, begitu juga
terlihat warung Kari Lam ini. Tempat ini juga mudah dijangkau dari gang
di Jalan Pintu Besar Selatan. Dari sini, tempat ini ada di sisi kanan
tak jauh dari mulut gang.

Tempat ini buka setiap hari dari pk
09.00 sampai pk 17.00 tapi sekitar pukul 14.00, bisa jadi persediaan
ayam di tempat ini sudah ludes. ”Memang paling laku kari ayam,” begitu
pengakuan Akiong. Maklum saja, ayam yang digunakan di sini ayam kampung
jadi rasanya memang lebih enak dibandingkan ayam broiler. Untuk melahap
kari, tersedia nasi putih atau bihun Medan sebagai teman. Bisa juga
tanpa keduanya jika memang ingin menikmati kuah kari dengan daging ayam
atau sapi saja.

Semangkuk kari ayam (dengan jeroan) atau sapi
dengan nasi atau bihun harganya Rp 19.000. Begitu masuk, pesan
langsung. Akiong sendiri yang akan meracik semangkuk kari buat
pengunjung. Dengan gunting, ayam yang sudah direbus dipotong
kecil-kecil. Dipisahkan dari tulang-belulang. Kemudian ditambahkan
kentang dan diguyur kuah kari. Demikian pula dengan kari daging. Daging
dicampur urat kaki sapi ditambah kentang dibenamkan dalam kua kari.

Tambahan
lain tentu saja bihun atau nasi. Menurut Akiong, di Medan ada perbedaan
antara pria dan wanita. ”Kalau di Medan, biasanya cowok lebih suka
makan pakai nasi. Cewek lebih suka pakai bihun. Kalau di Jakarta,
dua-duanya lebih suka makan pakai nasi. Saya enggak tahu kenapa,”
ujarnya.

Bicara perkara cita rasa, masih menurut pria
berkacamata ini, sejak ayahnya pertama kali berjualan kari di Medan,
menu yang tersedia memang sapi dan ayam. ”Sudah begitu, kari kami ini
tidak terlalu medok. Soft, jadi enggak eneg,” tandas putra satu-satunya
almarhum Alam ini.

Akiong tentu saja tak sekadar bicara, kari
ini memang tak seperti yang terbayangkan. Kental. Eneg. Bahkan bagi
yang bukan penggemar makanan berkuah santan dan rempah, kuah kari ini
terasa nikmat diseruput sampai habis. Kari ayam dengan jeroan terasa
lebih pas dan tak terlalu berat dibandingkan kari daging. Apalagi kalau
ingin ditambah nasi atau bihun. Begitu masuk mulut, rasa rempah
langsung menyebar.

Meski sudah membuka beberapa cabang, namun
Kari Lam di Gang Gloria ini masih yang paling banyak dikunjungi dan
dicari. Alasannya tentu karena di sinilah pertama kali Kari Lam ada
serta kawasan ini komplit dengan segala jenis makanan baik yang berat
maupun ringan. ”Langganan saya juga banyak yang dari Pontianak, Jambi,
Manado, Palembang, Pekanbaru. Mereka yang tahu Kari Lam-lah,” ujar
Akiong.

Selain di Pancoran, kari ini ada di pusat jajan Mangga
Dua Square dan Muara Karang (belakang Toyota). Untuk Muara Karang,
warungnya buka pk 09.00-pk 15.30 saja. (WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto)

Sumber: KOMPAS
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atua www.bangomania.org


      

Kirim email ke