Ke Diwek Menebus Seporsi Rujak Cingur



JAKARTA
| Rujak yang memakai irisan hidung dan bagian pipi sapi ini memang khas
Jawa Timur. Rasanya tak bisa ditandingi dengan rujak manapun.
Kinyil-kinyil dengan lumuran bumbu petis yang pedas gurih manis plus
campuran sayuran yang krenyes-krenyes. Pokoke uenak poll!

Rasa
unik itulah yang selalu membuat saya kangen berat. Selain sedap racikan
rujak ini juga sehat karena memakai campuran sayuran. Karena itulah
waktu melintasi jalan Cinere Raya saya tak bisa menghindari Warung
nDiwek yang ada di sisi kiri jalan.

Nama Diwek memang sering
jadi olok-olok para pemain Srimulat karena pak Asmuni salah satu
pemainnya berasal dari daerah ini. Diwek merupakan nama kecamatan di
kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di daerah ini terdapat pondok pesantren
Tebuireng dan pabrik gula Tjoekir. Karena itu tidaklah ndeso banget!

Warung
ini sederhana, memiliki meja panjang dengan kursi kayu sederhana. Tak
ada pelayan yang mondar-manidr. Pelayan hanya muncul dari sisi kanan
yang merupakan dapur warung ini. Kalau perlu bantuan pelayan tinggal
pencet bel saja. Lha yang ini jelas bukan asli Diwek!

Sesuai
dengan nama warungnya, makanan khas Jawa Timurlah yang jadi andalannya,
Tahu Tek, tahu Campur, tahu Telur dan Rujak Cingur. Ya, tanpa basa-basi
langsung seporsi rujak cingur dan tahu campurpun saya pesan. Melihat
jajaran kaleng kerupuk yang berisi kerupuk kanji putih, rasanya tak
sabar lagi pengin cepat-cepat mencocolnya dengan sambal rujak cingur!

Menunggu
sekitar 10 menit, tahu campur pun disajikan hangat dalam piring cekung.
Kerupuk kanji menutupi hampir setengah permukaan piring. Isinya mi
kuning, irisan daun selada, tahu dan kuah kuning berisi potongan
daging. Seperti lazimnya tahu campur, sambal petisnya ada di bagian
bawah. Jadi perlu diaduk-aduk merata baru bisa disuap!

Wah,
rasanya gurih-gurih sedikit manis. Dagingnya empuk dan tahunya juga
lembut. Hanya sayang waktu saya bolak-balik isi piring, tak saya
temukan si lento, perkedel singkong yang jadi ciri khas tahu campur
Surabaya. Hmm.. lumayan juga buat menebus rasa kangen.

Karena
perlu diuleg satu persatu maka rujak cingur hadir belakangan, juga
dalam piring cekung. Dulunya saya mengira porsinya akan cukup besar
tetapi ternyata tidak, porsinya sedang saja. Warna saus yang kehitaman
dan kental menutupi seluruh permukaan racikan rujak ini.

Saus
hitam ini karena pemakaian petis udang yang khas Surabaya. Sambal rujak
ini juga diberi pisang batu sehingga terasa krenyes-krenyes. Isinya
selain potongan cingur (hidung sapi) juga ada kangkung, tauge, timun,
bengkuang dan mangga muda.

Kelezatan rujak cingur memang
terletak pada sambal atau sausnya, tidak boleh pelit tetapi justru
harus berlimpah agar semua sayuran bisa terbalut saus saat dimakan.
Suapan pertama langsung terasa harmoni asa pedas, gurih dan manis yang
berimbang di mulut diselingi krenyes-krenyes pisang batu.

Bukan
hanya itu, cingur sapinya lumayan lembut sehingga mudah dikunyah. Tentu
saja limpahan sambal yang kehitaman tak saya sia-siakan. Kerupuk kanji
putihpun saya cocolkan pada sambal ini sehingga rasanya gurih, pedas
manis. Wah uenake rek! Seporsi rujak cingur olahan orang Diwek pun jadi
makan siang yang pas. Harganya juga tak mahal Rp 13.000,00 untuk rujak
cingur dan Rp 10.000,00 untuk seporsi tahu campur. Dari pada ngiler
membayangkan rujak cingur, mendingan mampir saja ke warung nDiwek ini!
(dev/Odi) 

Waroeng nDiwek
(Masakan Jawa Timur)
Jl. Raya Cinere No.7
Jakarta Selatan
Telp: 021-68105445
Pesanan: 021-75913759

Sumber: detikFood
Klik juga di http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org


      

Kirim email ke