Kikil Sapi buat manula 

Pernah melihat manula yang giginya sudah ompong makan Lontong Kikil Sapi? Di 
Warung Kikil Sapi Pak Said, Anda bisa menemukannya. Kikil di warung ini 
terkenal empuk sampai manula yang sudah ompong pun tak akan kesulitan 
menyantapnya.
"Biar potongannya gede-gede, tapi kikilnya empuk sekali," ujar Ponijam, seorang 
pelanggan setia Kikil Sapi Pak Said, sembari memamerkan gusinya. Ponijan yang 
sudah lansia itu sama sekali tidak mengalami kesulitan mengunyah kikil meskipun 
semua giginya sudah tanggal.

Di warung Pak Said ini, kikil, bagian dari kaki sapi bisa menjadi sajian 
istimewa. Potongan kikilnya besar-besar dan empuk, kuahnya kental tapi tidak 
membuat enek. Bumbunya terasa di semua bagian kikil. Muhammad Said, pemilik 
warung yang menempel persis di dinding pabrik korek api ini telah berjualan 
Lontong Kikil sejak tahun 1975.

Sampai sekarang, setelah 33 tahun kemudian, ia masih setia melayani pembeli di 
warungnya. Sama setianya dengan pembeli lama yang sekarang telah menjadi 
manula. Tampilan warungnya dari dulu juga tidak berubah. Hanya berupa tenda 
bongkar pasang dengan tempat duduk yang muat tak lebih dari sepuluh orang. 
Meskipun penampilan warungnya ora mbejaji blas (sama sekali begitu meyakinkan), 
setiap hari terlihat antrean pembeli, baik yang makan di tempat atau pesan 
untuk dibawa pulang.

Sriyati, istri Pak Said, membagikan resepnya mengolah kikil sampai begitu 
empuk. Sebelum dimasak, kikil harus dibersihkan dari bulu-bulu yang menempel. 
Kaki sapi harus direndam di dalam air panas kemudian dierik bulunya dengan 
pisau. Setelah itu, kikil dibakar sebentar untuk merontoknya bulu-bulu halus 
yang masih tertinggal. Setelah bersih, bagian kikil dipisahkan dari tulangnya. 
Proses memasaknya sekitar enam jam. Cukup lama. "Tiga jam pertama, kikil 
direbus agar empuk dan tiga jam berikutnya kikil dimasukkan ke dalam bumbu agar 
bumbunya meresap," ujar Sriyati.

Bumbunya antara lain bawang putih, kemiri, ketumbar, jintan, pala, merica, 
cabai merah, bawang merah goreng, bawang prei, dan garam. "Kuahnya memang 
kental. Kami tidak menggunakan santan atau kacang tapi kemiri yang banyak," 
ungkap Sriyati, sebagian penjual kikil kadang mengakali dengan menambah kacang 
goreng giling agar kuahnya kental.

Selain untuk memenuhi kebutuhan warung, Pak Said juga menerima pesanan, 
misalnya untuk acara pernikahan. Tiap hari ia membuat kikil minimal empat 
panci. Satu panci berukuran besar membutuhkan satu "setel" kikil (empat kaki 
sapi). Satu panci dihargai Rp 700.000,-. Meski kikil yang dibutuhkan sangat, ia 
tidak khawatir kekurangan bahan baku karena sudah punya penyuplai tetap.

Sekalipun terkesan sebagai makanan tidak berkelas, kikil Pak Said ini punya 
pelanggan dari berbagai lapisan, termasuk mereka yang datang dengan mobil. 
Karena selalu kewalahan menerima pesanan, Pak Said tidak membuka cabang di 
tempat lain. Bahkan, jika penasaran terlalu banyak, kadang warung terpaksa 
diliburkan.

Sehari-hari ia berbagi giliran dengan anak perempuannya menjaga warung. Pagi 
hari mulai pukul 08.00, Pak Said melayani pembeli di warung. Siang hingga sore 
hari, giliran sang anak yang berjualan. Harga satu porsi Kikil Sapi ini Rp 
8.000,-. Jika ditambah lontong, Rp 9.000,-. Lontong dan Kikil Sapi yang 
kenyil-kenyil ini akan terasa lebih nikmat jika ditambah sedikit kecap manis 
dan perasan air jeruk serta sambal.  

Ana/Koes


Kikil Sapi Pak Said
Jl Raya Pagesangan (warung menempel di Pabrik Korek Pakabaya) Surabaya
Telp 031-7884033

Kirim email ke