Ramadan, Omzet Cincau Melonjak Tajam



SUMENEP
| Seiring datangnya bulan ramadan tahun ini, pengusaha cincau hitam
(Cylea Barbata) di Dusun Pateringan Barat, Desa Paberasan, Kecamatan
Kota Sumenep, Madura kebanjiran pesanan.

Bila hari biasa
kebutuhan cincau hitam buatan Bapak Sudarmo (46) ini hanya di wilayah
kota, saat ini para pembeli dari berbagai daerah kecamatan berdatangan.
Semisal Kecamatan Dongkek, Batang-Batang, Batuputih, Gapura serta
kecamatan terdekat lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan cincau yang
biasa dijadikan pelengkap saat berbuka puasa oleh warga Sumenep, tiap
harinya membutuhkan bahan baku cincau mencapai 1,5 kwintal atau
beromzet sekitar Rp 6 juta setiap hari.

Bila pada hari-hari
biasa, permintaan cincau tersebut tidak sampai 0,5 kwintal. Bahkan saat
musim hujan, banyak pengusaha cincau yang tutup usaha karena terkendala
pemasaran.

Menurut pengusaha cincau hitam, Sudarmo, pembuatan
cincau sebenarnya tidak sulit dan bahan bakunya didatangkan langsung
dari Solo, Jawa Tengah.

"Hanya pada bulan ramadan ini pembeli
membludak, kalau hari-hari biasa permintaan sangat sedikit," terang
Sudarmo pada detiksurabaya.com di tengah kesibukannya membuat cincau di
Dusun Pateringan Barat Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, Rabu
(26/8/2009).

Selama ramadan, sambungnya, dirinya mempekerjakan
10 karyawan. Mereka merupakan tetangga dekat yang tidak mempunyai
pekerjaan tetap dan bisa dibutuhkan sewaktu-waktu.

Dalam proses
pembuatan cincau juga tidak dibutuhkan keterampilan khusus. Sebab
pengolahannya dilakukan dengan cara tradisional, yakni bahan baku yang
terdiri dari sako aren, pohon cincau, soda dan air direbus selama dua
kali dengan menggunakan drum berukuran besar.

Lalu hasil rebusan
tersebut, sampahnya dibuang dan tinggal airnya berwarna hitam kental.
Air rebusan cincau yang telah direbus dengan bahan baku lainnya itu
dimasukkan dalam bekat tempat roti kaleng dan didinginkan selama 1,5
jam. Cincau telah siap untuk dijual.

"Setiap blek bekas minyak
goreng itu, saya jual Rp 20 ribu. Setiap hari bisa mencapai 288 blek
lebih yang terjual atau beromzet hampir Rp 6 juta setiap hari," ujarnya.

Pantauan
detiksurabaya.com, kebiasaan warga Sumenep pada saat berbuka puasa
selalu ada minuman cincau hitam yang dicampur dengan es dan gula merah.

Selain
menambah kesegaran juga cincau hitam mengandung sejumlah mineral dan
karbohidrat dalam jumlah lumayan, vitamin A, B1, C, kandungan kalori
rendah dan memiliki khasiat menurunkan panas badan, panas dalam,
mencegah gangguan pencernaan, menurunkan tekanan darah tinggi dan
menurunkan berat badan. (fat/fat)

Sumber: detikSurabaya
Kunungi selalu BLOG KOMUNITAS BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke